Monday, October 31, 2011

Sepatu

Dasar manusia... gak pernah ada puasnya.

Aku pernah posting tentang sepatu ideal menurut definisiku, 3 tahun lalu. Menurutku, sepatu ideal itu harus memenuhi kriteria model, harga, kenyamanan, durability, dan juga weather-proof. Eh... aku sudah menemukan loh sepatu yang masuk kriteria itu. Bahkan tambah lagi: bisa tahan untuk dipake naik sepeda pulang-pergi ke kantor. Sekarang aku sudah puas banget dengan sepatu itu. Memungkinkan aku untuk pergi dinas dengan hanya memakai (dan membawa) sepasang sepatu tanpa khawatir sepatunya bakalan kena kotor, basah, bikin lecet, dst.

Tapi ya dasar manusia... meskipun sudah cukup puas dengan yang sekarang, aku masih mengharapkan ada sepatu ajaib yang memenuhi 1 kriteria tambahan: buatan Indonesia.

Ha! Sepatu buatan Indonesia sekarang lucu-lucu, enak dipake, harga terjangkau, kuat, cuman sayangnya belum tahan cuaca. Kalo terpaksanya mesti nyemplung ke banjir, huuuaaaaaa.... pasti jadi gak cantik lagi. Ayo para inventor dan desainer sepatu Indonesia, kalian pasti bisa bikin saingannya Cr*cs!

Sunday, October 02, 2011

Buku: Untuk Indonesia Yang Kuat

Entahlah sudah berapa eksemplar buku ini yang aku beli. Eh? Jualan? Bukan, buat dijadikan hadiah untuk orang-orang terdekat...

Buku ini adalah "wake up call" yang bagus. Isinya bisa menyadarkan pembacanya tentang pentingnya menjadi golongan menengah YANG KUAT. Salah satu jalan untuk menjadi kuat itu adalah dengan mempunyai rencana keuangan untuk diri sendiri/keluarga. Punya rencana keuangan itu artinya kita menyiapkan dana darurat, dana pensiun, dana pendidikan, dst. lengkap dengan perlindungannya sesuai kebutuhan masing-masing. Oya, KUAT itu artinya kita selalu mandiri, ndak ngerepotin orang-orang terdekat kita (baik sekarang maupun nanti setelah udah tua), dan malahan mampu untuk membantu orang di sekeliling kita dengan cara yang benar.

Pada saat membaca buku itu pertama kali, aku sendiri sudah punya rencana keuangan yang dibuat oleh temanku yang berprofesi sebagai perencana keuangan, tapi teteeuupp... selesai baca buku Untuk Indonesia Yang Kuat itu, aku merasa tercerahkan. Terutama di bagian membantu orang lain dengan cara yang benar itu dan juga ide untuk memasyarakatkan pengetahuan finansial sehingga orang Indonesia lebih melek finansial.

Yang pertama aku lakukan adalah memikirkan keluarga dan teman-teman terdekatku. Eh ya, mereka udah melek finansial belum ya? Yah... pastinya sih beraneka ragam. Ada yang udah melek, ada yang masih sipit, ada yang masih ayub-ayuban, ada juga yang masih merem. Halah... hahaha... Maksudnya: Ada yang udah sadar bahwa pengelolaan keuangan pribadi tuh penting, tapi nggak tauk harus ngapain. Ada juga yang sadar, tapi masih kurang mendalami, jadi dipikir menabung aja cukup. Ada juga yang ngeluh duitnya kurang, padahal penghasilannya tidak kecil. Macam-macam deh.

Sebagai tanda kasih sayangku pada mereka (jiiiaaahh), rasanya sih pantas kalo aku berkontribusi dalam membuat mereka semakin melek finansial, seberapa pun level pemahaman mereka sekarang perihal pengelolaan duit pribadi ini. Karena aku levelnya juga masih belajar, paling cocok adalah dengan mengajak mereka untuk ikutan belajar juga tentang perencanaan keuangan.

Mengingat lokasiku yang jauh dari mereka-mereka itu, cara paling enak buat ngajakin belajar adalah dengan ngasih "wake up call"-nya. Jadilah bukunya mbak Ligwina Hananto itu aku persembahkan sebagai kado. Alasannya juga macam2: hadiah ultah lah, hadiah lebaran lah.... hahaha... Harapanku sih buku itu bisa membuka wawasan mereka tentang uang menjadi lebih luas.

Buat para pembaca blog yang budiman, buku ini sangat aku rekomendasikan lah. Bahasanya mudah dipahami, contoh-contoh kasusnya juga riil dan banyak terjadi di sekitar kita, dan ditulis secara menarik. Gak bikin bosen deh, aku menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 12 jam loh. Pengetahuan ttg uang itu pasti bermanfaat, karena hampir semua orang menggunakan uang kan? Jadi buruan cari di toko buku.

Btw, aku gak dibayar sama mbak Ligwina loh ya buat nulis posting ini... hahaha... kenal juga kagak. Kalo mau tauk lebih banyak, bisa ngikutin Timeline-nya mbak Ligwina di twitter: @mrshananto (meskipun selalu diwanti-wanti kalo postingannya gak melulu tentang uang) atau masuk ke website perusahaannya: http://www.qmfinancial.com/ . Oya, kalo aku sendiri membuat perencanaan keuangan di:  http://www.zapfin.com/ .  

Trus, berlanjut nih rekomendasinya, kalo mau beli buku yang lebih murah, coba aja belanja online di http://www.bukukita.com/ atau http://www.eurekabookhouse.com/ . Saya seneng sama pelayanan mereka, dan tentu saja DISKON-nya... hahaha...

Happy reading!

Saturday, September 17, 2011

Ba-Ta-Gor

Buat aku, meskipun Batagor bukan termasuk comfort food seperti pizza dan sate ayam, tapi salah satu kekhawatiranku sebelum pindah balik dari bandung ke jakarta tahun 2002 dulu adalah: wah, kalo udah di jakarta, trus kepengen makan batagor, dimana nyarinya ya? (Jaman itu batagor masih jarang di jakarta).

Dari mulai batagor borju macem kingsley dan riri, batagor aneh macem es teler 77, batagor murmer macem H.Darto Pasar Simpang, sampe batagor mang-mang pikulan yg jaman dulu keliling kampus. Aku suka semua. :D

Dulu aku bercita-cita bahwa kalo aku tinggal di area yang gak jualan batagor, maka aku yang harus jualan batagor di situ!

Batagor itu adalah singkatan dari baso tahu goreng. Di Bandung itu ada makanan yg namanya baso tahu. Dia biasa dijumpai sepiring dengan siomay gitu deh. Jadi tahu putih (atau kuning juga bisa) dikerok sebagian, nah lubang hasil kerokannya itu diisi dengan adonan daging dan tepung (entahlah tepung apa... mungkin terigu, mungkin juga ada campuran kanjinya dikit, biar kenyal), terus dikukus deh. Bedanya dengan siomay, kalo siomay adonan dagingnya hanya dibungkus pake kulit pangsit, gak pake tahu.

Baso tahu dan siomay dimakan pake sambel kacang (plus kentang, plus kol), atau kalo pake kuah namanya jadi cuankie. Nah, sejatinya batagor itu adalah baso tahu yang digoreng. Seringkali dikombinasikan dengan siomay yang digoreng untuk menambah sensasi kriuk-kriuk.

Sekarang kita lihat batagor di kota Sorong. Hari sabtu ini, sambil menunggu Omla main futsal, aku mencoba utk ngemil di Mega Mall Sorong. Aku sudah tau bahwa di situ ada kios yg jual menu batagor, tapi kemarin-kemarin belum sempat mencoba.

Agak takjub juga, karena di kios itu tertulis bahwa siomay dan batagor itu termasuk menu khas manise, sekelompok dengan ikan kuah kuning, papeda, dan mie cakalang.

Aku memesan 1 porsi batagor. Berharap yang keluar minimal kayak batagornya mang-mang pikulan yang jaman dulu makan porsi 2000 rupiah aja udah cukup kenyang.

Ternyata yang keluar adalah: bakso goreng + tahu goreng dipotong-potong, trus disiram pake sambel kacang. Dan herannya lagi gak dikasih jeruk nipis/jeruk purut, padahal katanya menu khas manise... Orang Indonesia Timur, khususnya Sulsel, mirip-mirip sama wong kito Sumsel, kalau makan kudu dikecerin jeruk, biar sedep katanya. Nah, batagor pesenanku ini ga ada jeruknya. Mungkin bisa aja minta, tp ah sutralah...

Secara singkatan, dia gak salah-salah banget sih.... Batagor = bakso dan tahu digoreng. Taste-nya sih lumayan edible... Tp ndak sesuai ekspektasi aja.

Hmm... Jadi mikir... Apakah ini waktu dan tempat yang tepat untuk jualan batagor??

Friday, September 16, 2011

Bayar Pake Permen Ya...

Jaman aku masih ABG, 15-20 tahun yang lalu lah... aku masih ingat, waktu belanja di supermarket, kalau kembaliannya nggak bulet (misal: 4375), kita akan dikasih uang 4300 + permen. Ceritanya permennya itu buat ngganti 75 rupiah yang mereka gak punya uang pecahannya.

Tapi beberapa tahun kemudian (aku juga nggak inget tepatnya kapan), sempat ada ribut-ribut di media massa soal pemberian permen sebagai uang kembalian ini. Akhirnya supermarket-supermarket itu tidak lagi memberikan permen sebagai kembalian. Mereka memilih untuk membulatkan harga, membulatkan total belanjaan, menyediakan uang pecahan, atau bahkan ada yang mengumpulkannya untuk charity (dan itu tertera pada slip belanjaan yang kita terima sebagai bukti).

Aku masih ingat, jaman tahun 2008, di mini market gedung Standard Chartered, aku adalah pelanggan pertama hari itu. Melakukan pembelanjaan yang kembaliannya melibatkan pecahan 50 rupiah. Hmm... awalnya aku sangsi apakah mereka akan memberikan kembalian pas sesuai hak konsumen, palingan dibulatkan ke pecahan ratusan terdekat. Ternyata dengan ajaibnya si mas-mas kasirnya mengeluarkan seikat uang pecahan 50 rupiah (masih segel dari bank). Woooww... keeerrreeennn... Tapi sorenya aku berkelahi sama penjual tiket busway, karena mereka gak mau terima pecahan 50 rupiah itu untuk membayar tiket TransJakarta-ku, meskipun sudah aku jelasin bahwa itu uang masih baru, tadi pagi juga masih tersegel dari bank. Aku jelasin juga kalo itu sebiji 50 rupiah aku ambil dari tumpukan koin dan uang kertas yang mau aku bayarkan, maka tumpukan koin dan uang kertas itu nilainya jadi 3450 rupiah, bukan 3500. Ngerti kagak seehh...

Nah... ketika di tempat-tempat langganan kami di Jakarta, Bandung, Prabumulih, dan Palembang sudah jarang banget yang ngasih kembalian berupa permen, ketika aku tiba di Sorong, ternyata masih banyak yang ngasih kembalian berupa permen. Gak pake minta maaf pula. Seolah-olah hal itu biasa dan gak merugikan konsumen. Duile... tempat ini ketinggalan berapa tahun ya dari Jakarta?? 

Ngasih permennya gak tanggung-tanggung pula... bahkan pecahan 500 rupiah pun diganti permen. Padahal pecahan 500 rupiah tuh masih laku buat bayar polisi gopek di perempatan tak berlampu merah kalo di Jakarta. Tadinya aku gak banyak protes, permennya aku kumpulkan, terus aku jadikan "snack" buat tetamu yang berkunjung ke ruangan kerjaku di kantor.

Tapi yang pagi ini agak-agak menyebalkan. Jadi aku memutuskan untuk melakukan "pembalasan". Ceritanya begini:

Jam 8 pagi aku ke supermarket seberang kantorku. Beli susu UHT plain low fat 250 ml seharga Rp.4400,- dan sereal rasa malt ukuran personal seharga Rp.5600,-. Kalo dijumlah jadi Rp.10.000,-, sehingga kalo aku bayar pake pecahan 20rebu, mereka tinggal kembalikan pake selembar pecahan 10rebu rupiah kan?

Tapi apa yang terjadi... waktu aku ke kasir, ternyata sereal rasa malt itu datanya belum di-entri ke komputernya kasir yang itu. Si kasir kasih kode ke temennya untuk melakukan entri ke komputer dia, tapi temennya itu cuek jaya... (*supermarket ini emang service-nya kurang oke, petugasnya cuek-cuek, kami pernah gak jadi beli daging karena si penjaga counter daging gak mau motongin daging sesuai dengan kebutuhan kami. Dia menang di lokasi aja, deket dan satu arah dengan rumah dan kantor*)

Akhirnya si kasir minta aku untuk membayar Rp.4400,- untuk susu UHT itu. Sereal-nya gak dihitung. LOH?? Aku bilang: "Saya kan mau beli barang yang ini juga. Gimana sih?" (*iyaaa booookk... gue laapppeeeerrr... belum sarapan, susu UHT 250ml aja gak cukup untuk mengenyangkan... dan sekarang elu main nentuin gue gak boleh beli barang itu cuma gara-gara barang itu gak ada di komputer lu.*).

Rupanya dia mempersilakan aku untuk bayar Sereal itu di tempat temennya yang cuek jaya tadi. Ya suds... aku kasih uang pecahan 20rebu rupiah-ku. Kembali Rp.15.600,- kan? Yang 15 rebu bentuknya uang, yang 600 bentuknya 3 buah permen. HHHAAAHH??? Gelo pisan... ntar aku bayar pake apa di kasir cuek itu?? Masa' mesti cari uang 600 atau 1000 lagi buat nambahin pecahan 5000 rupiah yang bakalan aku pake buat bayar? Terus ntar kalo perlu kembalian, kembaliinnya pake permen lagi... Permen-nya jadi  5 dunk? Padahal aku gak butuh permen.

Akhirnya aku bilang sama si kasir cuek (pake aksen anjing galak tentunya): "600-nya saya bayar pake permen ya?! Harusnya kalo saya bayar 2 barang ini di satu kasir, kembaliannya kan 10rebu pas.". Dan 3 buah permen yang diberikan oleh kasir yang pertama tadi akhirnya aku berikan ke kasir cuek jaya bersama dengan selembar pecahan 5000 rupiah.

Aku gak merugikan supermarket itu kan? Permennya gak ada yang berkurang, pemasukannya dari aku tetap Rp.10.000,-, sesuai dengan harga 2 barang yang aku beli itu. Kalo aku ngikutin "permainan" mereka... tadinya aku harusnya cuman keluar Rp.10.000,- jadi keluar Rp. 11.000,- plus dapet 5 buah permen yang gak dibutuhkan.

Hahahahahahaha... *ketawa puas*

Tuesday, September 06, 2011

Mudik

MUdik = Menuju ke Udik / alias pulang ke kampung halaman.

Mudik adalah salah satu budaya orang Indonesia yang didasari oleh kebutuhan untuk bersilaturahmi dengan sesama anggota keluarga. Kebutuhan silaturahmi ini tidak hanya berdasarkan ajaran agama loh, tapi memang orang Indonesia itu punya semboyan "mangan ra mangan sing penting ngumpul"... alias "biar kata gak bisa makan, yang penting bisa ngumpul sama keluarga dan teman2".

Nah, kebanyakan orang Indonesia itu merantau keluar dari rumah masa kecil / kampung halamannya untuk mencari penghidupan, entah itu cuman nyebrang ke kampung sebelah, atau ke ujung Indonesia yang lain macam aku ini, atau malah ke luar negri. Hampir semua menganggap Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang paling pas untuk berkumpul dengan keluarga, gak cuman keluarga yang ada di kampung halaman, tapi juga keluarga yang merantau ke tempat lain, maka terjadilah mudik massal menjelang hari raya, hampir semua orang beramai-ramai meninggalkan perantauan untuk menuju ke kampung halamannya.

Jalan-jalan (terutama di pulau Jawa dan Sumatera) jadi macret-creeeettt.. tiket pesawat jadi mahal-haall... (jiiaahh... beli sebulan sebelumnya aja udah dapet harga premium), stasiun kereta (dan keretanya juga) jadi penuuhh-nuuuhh...

Aku sendiri baru 2 tahun belakangan ini merasakan yang namanya beneran mudik alias pulang kampung. Kalo sebelum-sebelumnya sih ngikut orang tua mudik ke kampung halamannya ortu, hahaha... kalo ritualnya sih sama aja ya... intinya mudik juga...

Mudik Dalam Ingatan
Kenangan pertamaku soal mudik lebaran adalah waktu usia 5 tahun (yah sekitar segitu deh). Sebelumnya pernah pulang kampung juga sih, tapi rasanya bukan pas menjelang lebaran. Waktu lebaran tahun 85 itu, kami mudik naik pesawat. Ibu dan 3 anaknya: umur 9 tahun, umur 5 tahun, dan umur 1 tahun. Bapak jalan darat naik mobil bareng Om (adiknya Ibu) dan para mbok. Kami mudik ke Solo, baliknya ke Jakarta lewat jalan darat.

Tahun-tahun berikutnya, rutinitasnya pada prinsipnya sama: Hari pertama lebaran kami di Bandung, siangnya setelah makan siang langsung menuju ke Solo, naik mobil lewat jalur selatan. Jaman itu Nagrek udah macet, bisa 2 jam terjebak di Nagrek (ya, CUMA 2 jam! kalo dibandingkan dengan jaman sekarang). Perjalanan Bandung - Solo ditempuh dalam waktu 12 jam (termasuk macetnya). Biasanya sampai di Solo setelah tengah malam, entah itu jam 1 atau jam 2 malam. Aku sih udah tidur, jadi pas bangun-bangun paginya udah di kamar di rumahnya Mbah. Meskipun pernah juga suatu kali sampai di Solo malam-malam dan aku masih dalam keadaan bangun, ternyata malam-malam begitu satu keluarga besar pada nungguin di teras. (wow!)

Entah pada tahun keberapa... Bapak mengubah jadwal keberangkatan ke Solo. Instead of berangkat setelah maksi pada hari-H lebaran, kami berangkatnya pas subuh H+2 lebaran. Ternyata dengan strategi seperti itu, kami gak kena macet di Nagrek. Waktu tempuh Bandung-Solo jadi 10 jam. Biasanya jam 9-10 pagi sampai di Gombong, mampir dulu di restoran Tentrem (ayam gorengnya endyang markondyang). Kemudian melanjutkan perjalanan, sekitar jam 1 atau 2 siang sudah sampai di Solo.

Kenanganku tentang mudik jalan darat umumnya mengasyikkan, banyakan sukanya daripada dukanya. Misalnya kebiasaan mendengarkan kaset dagelan Warkop DKI dalam perjalanan mudik. Gara-gara kebiasaan itu, kami jadi hafal setiap dagelannya bapak-bapak Warkop itu. Dari jaman tadinya gak ngerti makna dagelan yang "nyerempet-nyerempet", sampe lama-lama jadi expert soal dagelan "nyerempet" itu seiring dengan pertambahan usia.

Dulu kami mudik pake mobil sedan, kemudian lama-lama berganti ke Kijang seiring dengan pergeseran selera yang punya mobil. Kalau sekarang disuruh mudik pake sedan lagi? Wah gak kebayang ribetnya... karena akses ke barang-barang bawaan lebih susah kalo naik sedan.

Ada juga pengalaman-pengalaman "unik" yang pas lagi ngalamin sih males banget, tapi setelah itu jadi bahan keketawaan sampe sekarang. Misalnya waktu kebelet sebelum perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Waktu itu kami dalam perjalanan balik ke Jakarta. Setelah Wangon (Jateng), tiba-tiba kebelet pipis. Jaman dulu kan SPBU gak sebanyak sekarang... jadi SPBU berikutnya yang ada di catatan Bapak adalah di Majenang. Jauh jreng itu.... Lumayan juga nahannya (waktu itu masih anak kecil lho ya)... waktu akhirnya sampe di SPBU itu... langsung lari ke WC, ternyata ngantri aja gitu loh... Begitu tiba gilirannya, waaatttaaa... ternyata WC-nya itu gak bisa disiram, alhasil banyak yellow-submarine kampul-kampul. Tapi ya mau bagemana laggee.... merem aja deh.. tepatnya tutup mata dan tutup hidung. Tentunya setelah itu WC SPBU Majenang itu jadi bahan perbincangan dan keketawaan sepanjang perjalanan... hahahaha.... Luckily, tahun-tahun berikutnya ketika kami mencoba mampir SPBU itu, WC-nya berssiiihh....

Waktu pun berjalan...

Rutinitas mudik kami selama tahun 80-90an itu gak banyak berubah. Palingan diselingi variasi: pernah suatu kali gak naik mobil, tapi nyarter bis Blue Bird patungan sama keluarga yang lain. Sampe di Solo bingung, mau kemana-mana gak ada mobil. Pernah juga di tahun 2000 mudiknya pulang pergi naik Blue Bird ukuran paling kecil carteran. Waktu itu gak mau capek, karena setelah lebaran mau memanfaatkan waktunya untuk liburan ke negri sebrang.

Setelah aku bekerja, lain lagi ceritanya. Jalanan makin macet dan penuh. Dan kebetulan di Solo sudah ada mobil yang bisa dipakai kesana-kemari, jadi untuk menghemat waktu dan tenaga, rutinitasnya berubah jadi: Hari-H lebaran di Bandung, sorenya balik ke Jakarta. Keesokan harinya berpesawat ria ke Solo. Setelah 2006, mudik pas lebarannya jadi 2 tahun sekali. Setiap tahun tetap ke Solo sih, tapi gak selalu pas lebaran. Selang-seling. Bisa jadi berangkat setelah musim lebaran selesai.

Mudik Jaman Sekarang
Nah 2 tahun ini, aku sudah gak tinggal di rumah lagi, jadi pengalaman mudiknya pun berbeda. Tahun kemarin aku tinggal di Prabumulih, jadi merasakan yang namanya mudik jalan darat naik mobil dari Sumatera ke Jawa. Nebeng sama temen ceritanya. Untungnya waktu yang dipilih sama mas Seno dan mbak Ita lumayan pas: setelah Sholat Ied. Waktu orang masih pada sibuk halal-bihalal, kita udah cabs menuju ke Jawa dengan setumpuk nanas Prabumulih.

Dari Prabumulih ke Jakarta mah wusshhh-wuusshh trafiknya.... Sampe Lampung gak kena ngantre sama sekali, bahkan naik kapal ferry pun gak pake ngantre. Pas kita dateng pas boarding, antriannya juga minimalis. Emang sih kapal ferry-nya lamban banget (3 jam aja gitu di tengah laut), tapi yang penting gak pake ngantre kan. Sampe di Merak juga jalan tolnya sepi bener... Gak pake terlalu ngebut aja sejam udah sampe di Buncit. Namun demikian waktu paginya mas Seno dan mbak Ita melanjutkan perjalanan ke Yogya, mereka terjebak di kawasan yang kondang akan kemacetannya itu: Nagrek.  Ahaaa... Nagrek laagii...

Kalau tahun ini, aku tinggal di Papua, dan lagi sudah menikah. Jadilah pengalaman mudiknya berbeda lagi dari taun lalu. Kami naik pesawat dari Papua, turun di Yogya. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan MOTOR ke Gunung Kidul, kampung halamannya Omla. Jadi aku sekarang bisa bilang: aku pernah mudik naik motor loh.

Tentunya ini bukan pertama kali aku mbonceng motor ke Gunung Kidul, tapi ini pertama kalinya aku mbonceng motor (baik ke Gunung Kidul ataupun enggak) sambil mangku koper ukuran sedang (kira-kira 24") seberat 15 kg. Di situ lah sensasi "mudik"-nya. Awalnya sih cuman pegel-pegel aja karena bawaannya besar dan berat... tapi setelah lewat Imogiri itu loh, kemudian motornya menanjak ke arah Panggang... HUUAAA... gilee... anginnya dingin bangeeett... Gara-gara pegel dan kedinginan, rasanya jadi gak nyampe-nyampe... meskipun jarak dari Imogiri ke rumah Omla gak sampe 20 km.

Kebayang deh, gimana usahanya orang-orang yang pada mudik naik motor bawa anak-anaknya. Selain membawa keluarga, mereka kan masih harus bawa barang: sedikit baju dan mungkin oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Belum lagi kalo punya anak kecil, mungkin harus bawa perbekalannya juga. Plus masih harus menghadapi kemacetan. Kalo ke Gunung Kidul gak ketemu macet, beda halnya dengan di Pantura. *langsung bayangin pas mbonceng motor dan kena macet di jalan Buncit, trus dikombinasikan dengan pengalaman naik motor bersama koper ke Gunung*. Hmmmm... semoga saja mass transport ke depannya bisa lebih banyak, lebih terjangkau, lebih aman, dan lebih nyaman... supaya para pemudik bermotor itu mau dan mampu untuk beralih ke sarana transportasi yang lebih aman.

Atau tidak kah lebih baik mengurangi upacara mudik ini dengan menciptakan lapangan pekerjaan di kampung halaman, jadi perantau juga jumlahnya berkurang...?? Kita lihat saja apa yang bisa kita lakukan... hmmm....

Friday, August 26, 2011

Pizza Yang Lebih Kriuk

Masih juga tentang pizza.... haha...

Dengan pan teflon yang sama (ukuran 24"), untuk membuat roti pizza yang lebih tipis dan kriuk, kurangi porsi tepung terigu, baking powder, air, dan minyak goreng sampai dengan 1/2 kali lipat. Dengan berkurangnya ketipisan pizza, waktu memasak juga bisa dikurangi jadi 10 menit saja, paling lama 15 menit. Jadi takarannya menjadi sbb:

+ 1/2 cup tepung terigu (ekivalen 8 sendok makan)
+ 3/4 sendok teh baking powder
+ 50 ml air
+ 1 sdm minyak goreng

Hmmm... tak sabar mau masak pizza lagi nih. (sampe Omla boseeenn... hihihihihi...)

Monday, August 22, 2011

Stove Top Pizza (Cara Mudah dan Murah Bikin Pizza)

Aku punya 2 macam comfort food: sate ayam dan pizza. Meskipun awalnya susah mencari sate ayam di Sorong ini, ternyata dengan bermodal tanya sana-tanya sini, aku menemukan tukang sate yang buka sampe malam, lokasinya hanya sepelemparan batu dari rumah dinasku pula. Tinggal pizza nih... Masa' sih harus nunggu ke Makassar, Jakarta, atau Yogya dulu kalo mau makan pizza?

Waktu aku baru datang, di daerah Remu ada yang jualan Pizza dan Pasta, tapi belum sempat kami mencicipi, warung itu keburu tutup. Wiken kemaren, di tengah-tengah pasar murah, tetangga rumah dinasku cerita kalau di daerah Tembok ada Pizza Rakyat, pizza kaki lima franchise dari Tangerang. Tapi... Waktu hari minggu-nya kami mencari-cari, ternyata yang jualan sudah keburu pulang kampung mau lebaran. Uhuuuu... Penonton kecewaaa...

Sebenarnya bukannya aku gak mau nyoba masak sendiri, masalahnya adalah aku gak punya oven. Sudah sejak datang kemari aku berniat: nanti setelah kawinan mau beli microwave, kalo ada yang microwave convection, yang jadi 1 paket dengan convection oven. Tapi apa dinyana... Aku gak mau beli microwave atawa oven dulu, sebelum ada tempat meletakkannya... Mau minta meja lagi ke logistik belum sempat juga.

Sampai... Tadi siang aku menemukan resep Stove Top Pizza ini. Tanpa oven. Tanpa ragi (jadi gak pake acara mendiamkan adonan). Cuma 10-20 menit masaknya. Udah gitu, selain si kontributor resep, ada 2 orang lagi yang sudah coba resep itu, semuanya berhasil. Sungguh menggiurkan bukan?

Maka... Pulang kantor pun aku mulai keluar dapur (iya, soalnya dapurnya di luar rumah...). Dan meracik pizza porsi untuk 2 orang (kalo di Pizza Hut ukuran personal pan). Beginilah resepnya:

Bahan roti:
1 cup tepung terigu (atau = 16 sendok makan)
1 1/4 sendok teh baking powder
Sedikit garam (mungkin sekitar 1/4 sdt)
100 ml air
1-2 sendok makan minyak

Bahan topping:
Saus spaghetti del monte
Daging asap
Sayur beku, rendam air panas dulu
Keju cheddar
(topping-nya sesuai selera aja sih, dan sesuai ketersediaan bahan tentunya)

Cara membuat:
+campur tepung terigu, baking powder, garam dalam baskom.

+tambahkan 1 sdm minyak ke campuran tepung.

+aduk-aduk pakai tangan sambil perlahan-lahan ditambahkan air.

+aduk terus sampai adonannya menjadi satu

+tambahkan sedikit tepung ke permukaan baskom

+uleni adonan sebentar di dalam baskom (sebenernya sih gak harus di baskom, idealnya malah di permukaan datar yang bersih, tapi aku gak punya permukaan yang cukup luas selain talenan mini).

+tinggalkan sebentar adonan roti, kita beralih ke topping.

+potong-potong daging asap. Eh udah gitu doang ya?

+ambil pan teflon kesayangan, lumuri/oles dengan margarin secara merata.

+gilas adonan roti sehingga berbentuk piringan. (aku menggilasnya di atas talenan miniku, pake gilesan adonan / roller).

+ketipisan disesuaikan denga selera masing-masing, karena ada yang suka pizza tipis, ada juga yang suka tebel. Pastikan ukurannya masuk ke pan kesayangan.

+letakkan adonan roti di pan teflon.

+oleskan saus spaghetti secukupnya.

+taburi dengan segala macam topping.

+parut keju cheddar di atas topping lainnya. Kalo ada keju mozarella atau keju cheddar yang quick melt, itu akan jadi lebih mantab!

+letakkan pan di atas kompor, nyalakan kompor. Tutup pan dengan tutup panci (kalo ada pasangannya lebih bagus, kalo aku sih pake tutup panci kukusan). Penutupan pake tutup panci ini penting, untuk mensimulasi proses pemanggangan di oven mungkin yaa...

+masak selama 10-20 menit tergantung ketebalan pizza-nya dengan api kecil minimalis. Pizzaku agak tebal, jadi memakan waktu 20 menit.

+setelah adonan roti terlihat kering, angkat dan hajar bleh!

Taaaaarrraaaa.... Begini deh waktu baru mateng.



Dan kurang lebih beginilah penampakan irisan pizza dari samping....



Rasa? Rasanya gak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan... Alias usahanya cuman gitu-gitu aja (aku pikir bikin pizza tuh bakalan ribet suribut), tapi rasanya mantaabbb!!!! Selamat berkreasi!

Pasar Murah BUMN 2011

Kadang-kadang, tinggal di Sorong ini serasa tinggal di luar negeri. Bagaimana tidak... naik pesawatnya lebih lama dari ke Singapore/KL, kebiasaan-kebiasaan penduduknya juga jauh berbeda dari daerah asal tempat tinggalku. Datang ke kawinan di Sorong untuk pertama kalinya, sama canggungnya dengan datang ke kawinan di Singapore...

Namun demikian, beda halnya ketika menjelang 17 Agustus. Di sini malah lebih heboh dibandingkan di Jawa. Mengingatkan aku pada masa kecilku di Utan Kayu... yang mana rentengan bendera merah putih kecil2 dipasang di antara tiang2 telpon. Belum lagi umbul-umbulnya. Kalo di Jawa sekarang?? Yang banyak malah bendera dan umbul-umbul partai.

17 Agustus kemarin, aku berkesempatan untuk ke Klamono. Suatu tempat yang ingin kudatangi, sejak jaman masih di kantor yang lama. Menurut cerita beberapa teman yang pernah dinas ke sana, pekerja-pekerja yang ditugaskan di sana tuh menderita banget. Panas, jalan jelek, berdebu, tapi herannya... beberapa kali si Omla ke sana kok gak pernah mengeluh ya? Hehe...

Kali ini aku ke Klamono bukan dalam rangka dinas, walaupun masih untuk urusan kantor juga: survey tempat untuk Pasar Murah BUMN 2011. Berangkat dari Sorong naik mobil dobel cabin sekitar jam 10 kurang, sempet muter-muter di Aimas, gara-gara di alun-alun lagi ada upacara 17an (kalau kantorku sudah jam 7 pagi tadi), jadi jalan utama ditutup.

Begitu lewat kantor kabupaten, mata udah tak tertahankan, aku pun tidur, sepanjang perjalanan sih yang aku ingat mulus-mulus aja, kecuali di beberapa titik saja yang jelek dan mobil harus pelan-pelan. Ketika aku terbangun, ternyata sudah dekat kantor EP Klamono. Tapi kita gak mau ke situ kan, jadi lanjut lagi sampe ke "pusat persinggahan"-nya Klamono, yaitu deretan rumah makan dan warung yang ada di dekat jembatan Klamono. Dua mobil lainnya sudah sampai duluan ternyata, mereka lewat jalan tikus pas di dekat alun-alun tadi.

Begitu kami datang, rombongan langsung menuju ke Kantor Kepala Distrik Klamono (kalo di Jawa sama dengan kantor camat gitu deh) yang letaknya sekitar 2 km dari tempat kita ngumpul tadi. Dalam perjalanan menuju ke sana, aku nemu Pusat Layanan Internet. Wuiiihh... di tempat kayak gini ada juga internet yaa... (awal yang cukup optimistik).

Jalan menuju ke kantor Ka. Distrik, seperti halnya jalan-jalan di daerah terpencil, rusak. Ada jembatan kayu yang posisinya lebih tinggi dari jalan, jadi? Baiknya naik mobil tinggi gede macem dobel cabin ini kalo mau lewat. Kalo pake minibus-minibus kayak avanza, rush, innova, livina... wah gak meyakinkan deh.

Sampai di kantor Ka. Distrik, rupanya mereka baru saja selesai upacara bendera. Masih ada anak-anak usia SMP memakai baju seragam putih-putih, syal merah, dan peci: seragam pengibar bendera. Di lapangan depan kantor batang pinang dengan hadiah tergantung-gantung sudah tegak berdiri, siap untuk dimainkan.

Kami menunggu pak kepala distrik untuk menyampaikan pidato pembukaan acara 17an dulu, baru setelah itu berkumpul di kantor pak kepala distrik untuk menyampaikan maksud dan tujuan: meminta dukungan untuk pelaksanaan Pasar Murah BUMN. Ternyata si pak kepala distrik juga sudah dihubungi dari Wakil Bupati Sorong, jadi langsung nyambung lah kitaa.... beliau menyediakan sarana berupa tempat pelaksanaan pasar di Balai Kampung Klawana. Kampung Klawana itu adalah pusat pemerintahan dari Distrik Klamono. Pak kepala distrik juga meminta pak Pjs. GM yang kebetulan ikut dalam rombongan kami untuk mengumumkan sekalian tentang Pasar Murah tersebut. Mumpung masyarakatnya lagi pada ngumpul senang-senang di lapangan.

Waktu kami keluar... para pelajar berpakaian paskibra dan beberapa orang tentara lagi asik berjoget diiringi lagu dangdut. Wow... that was so INDONESIA. Suasana-nya pesta banget. Sayangnya terpaksa kami potong sebentar, karena mau kasih pengumuman terkait pasar murah.

Setelah itu kami dibawa ke rumah kepala kampung. Aku tunggu di luar, bersama salah seorang bapak dari Logistik yang bakalan ikut rombongan Klamono ketika pelaksanaan pasar murah nanti. Rupanya bapak itu adalah "orang terkenal" di Klamono. Lahir di Teminabuan, jaman kecilnya sering sekali mampir ke Klamono dalam perjalanan menuju Sorong. Kami duduk di kursi teras panjang, yang... aku agak ragu-ragu untuk mendudukinya, takut ambrol. Menurut bapak itu, beliau ragu kalau paket yang akan kami jual Rp.100.000/paket-nya bisa habis terjual di Klamono.

Kemudian kami dibawa ke balai kampung/desa. Sayangnya, pak sekretaris desa-nya ada di mobil dobel cabin yang paling belakang. Aku ada di mobil tengah. Pak Pjs. GM dkk ada di mobil paling depan. Kami melewati suatu bangunan yang reot, pintunya udah bolong, di depannya ada papan nama bertuliskan "Kantor Kepala Kampung Klawana", tapi papan tulisan itu gak kalah usang dengan bangunan di belakangnya.

Aku membaca tulisan itu. Eh? Apa bener ini kantornya? Ini bukan "bekas kantor" yang udah ditinggalkan? Driver kami sepertinya gak ngeh dengan tulisan itu. Bablas aja melewati gedung itu. Setelah lewat beberapa meter, aku bilang berhenti dulu sebentar... kita amati mobil belakang berhenti atau nggak di depan bangunan itu. Ternyata... mereka berhenti!!

Mobil paling depan malahan udah bablas melewati jembatan kayu yang tadi, sehingga kami harus menelpon mereka supaya mereka berbalik arah. Wah... jadi beneran balai desanya yang reot itu tadi... aslinya merupakan bangunan bertembok setengah, setengahnya lagi terbuat dari papan kayu, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Aku bayangkan.. kalau bangunan ini letaknya di Jawa, meskipun dibangun secara sederhana, mungkin setidaknya dalam keadaan bersih, catnya juga rapi, dan pintunya tidak bolong. Biasanya di Jawa, kalau ndak ada drop dana dari pemerintah, ya mereka merawat secara swadaya aja. Gak punya duit, ya mungkin bisa nyumbang kayu. Gak punya kayu, paling nggak ya nyumbang tenaga buat ngerjain secara gotong royong. Kalo di Klamono? Mungkin program penyuluhan yang menggerakkan kegiatan gotong royong aja jarang-jarang sampe situ...

Di hari peringatan kemerdekaan ke-66, masih ada tempat dengan kondisi menyedihkan seperti itu di Indonesia... tapi herannya, penduduknya masih bisa tertawa-tawa gembira di lapangan tadi. Yaya... kebahagiaan memang gak bisa diukur dengan materi ya.

Kalo dipikir-pikir, kayaknya penduduk di Klamono itu ndak peduli dengan kasus-kasus korupsi anggota dewan yang lagi marak akhir-akhir ini deh... mereka juga ndak kebayang, uang Rp. 6 T yang katanya dikorupsi itu sebanyak apa sih... apalagi kasus bank Century... boro-boro Century, bank BUMN yang biasanya masuk sampe ke pelosok-pelosok aja gak bisa ditemukan di sana. Tapi... sadly... begitu juga sebaliknya...jangan-jangan penduduk di Klamono itu juga gak pernah terlintas dalam pikiran para anggota dewan yang terlalu sibuk ber-SDM-ria (selamatkan diri masing-masing). Meskipun masih untung lah ada perhatian dari pemda setempat... kalo gak, ndak mungkin kan kita diarahkan untuk jualan di sana.

Setelah survey selesai, kami pun mampir ke kantor EP Klamono. Hmmm... tentunya setelah  berkunjung ke tempat tadi, masuk ke mess bungalow yang ber-AC, berkarpet, ber-Wifi, ber-TV Indovision itu adalah kemewahan bintang lima. Ndak usah dibandingkan dengan keadaan penduduk lokal, dengan keadaan mess kami di Kasim sana saja yang di Klamono itu tergolong bagus. Apalagi sudah terhidang makanan yang konon kabarnya endyang markondyang itu (eh lagi puasa, jadi gak nyobain). Jadi, dengan segala fasilitas "bintang lima" tadi apakah masih ada yang mau mengeluh disuruh pergi dinas ke lapangan Klamono?

Pasar Murah-nya sendiri dilaksanakan tgl 20 Agustus 2011, di 3 tempat: Kantor Walikota Sorong, Klamono, dan Pasar Salawati. Harga paket yang dijual Rp. 100.000 (aslinya Rp.143.000, tapi disubsidi oleh BUMN sebesar 30%), isinya: 5 kg beras bulog, 2 liter minyak goreng Filma/Kunci Mas, 2 kg gula pasir, 2 botol sirup ABC Squash, 10 bungkus Supermie, 2 bungkus biskuit kelapa Roma, 1 bungkus wafer Fullo, dan 2 sachet mentega Blue Band. Ternyata... dengan harga yang segitu, paket "murah" itu gak segera terjual habis. Entah publikasinya kurang, atau emang kemahalan untuk daya beli masyarakat target kita, atau banyak yang merasa berat di ongkos transport untuk PP dari tempat tinggal masing-masing ke lokasi pasar murah. Denger-denger ada yang terpaksa pinjam-pinjam uang ke tetangganya supaya bisa beli paket 100rebu itu.

Parahnya lagi... di tengah-tengah Pasar Murah itu, ada yang nanya: kok di tempat lain ada yang bagi-bagi sembako gratis, kenapa yang ini gak gratis? Ibu-ibu itu menunjukkan pamfletnya. Jreng... ternyata ada salah satu parpol yang bagi-bagi sembako gratis di tempat lain. Eh? Curi start kampanye ya? Berusaha membeli suara dengan sembako gratis? Nanti kalo sudah kepilih, bakalan merhatiin nasib "orang kecil" yang kemaren loe bagi-bagi sembako gak? *meragukan deh*

Akhirnya 5000 paket yang kami buat terjual habis juga hari Minggu-nya, setelah dilakukan penjualan keliling dengan beberapa mobil pickup/dobel cabin kantor. Salut deh sama bapak-bapak yang pada jualan keliling. Aku mah udah terlalu teler, jadi nunggu di kantor aja, sambil sesekali bantuin ngangkut barang naik ke atas pickup. Segitu aja teler, maklum deh biasa kerja kantor, dah lama gak kerja kuli (haha... emang kapan pernah kerja kuli??), baru dipake kerja kuli 3 hari berturut-turut aja udah rontok rasanya. Tapi happy kok! Senang karena kumpul2 rame-rame sama panitia lainnya, senang ngetawain bapak-bapak yang kerjanya mbecandain orang-orang yang mau beli paket murah, seneng aja liat wajah-wajahnya para pembeli yang antusias mau beli paketnya. Lucu-lucu... ada yang hamil, ada yang bawa anaknya masih kecil banget (duh mbaakk... gemana mau ngangkut sembako-nya?), ada yang udah tua, biasanya kalo ketemu kasus begini bapak2 panitia dengan baik hatinya akan membantu ngangkut sampe dengan ojek terdekat. Alhamdulillah pasar murah ini ternyata kasih rejeki sama tukang ojek juga.

Next time, pas deket natal mau bikin pasar murah lagi (katanya). Ikut lagi aaahhh... semoga barang yang dijual gak seribet yang sekarang. Yang praktis-praktis aja lah, yang penting terjangkau dan emang dibutuhkan sama yang beli kan?


Friday, August 19, 2011

Godok-Godok

Bermula dari panen pisang di halaman rumah dinas, jadi punya 3 sisir pisang. Gak jelas pula, pisangnya pisang apa.... bentuk dan warna kayak pisang ambon, tapi ukuran lebih mirip pisang raja. Jadi anggap sajalah ini pisang persilangan... hahaha...

Putaran pertama dan kedua adalah kolak dengan santan yang tak terlalu pekat dan rasa yang manis tapi nggak manis banget. Pas deh buat kami, Omla yang paling anti makanan manis pun mau ikut makan. Jadi inget tahun lalu... di Prabumulih, bantuin mbak Ita bikin kolak tanpa gula merah.

Putaran ketiga? Aku mencoba membuat pisang goreng... Ambil resep dari Almost Bourdain. Tapi apa yang terjadi?? Karena ini sudah putaran ketiga, tentu pisang-pisang itu sudah terlalu mateng untuk dibuat jadi pisang goreng tepung. Ketika dalam keadaan panas, cairannya keluar, membuat hasil gorengannya jadi basah, bukannya crispy seperti yang diharapkan.

Untungnya aku curhat di fesbuk, sehingga datanglah saran dari mbak Ita dan bu Any untuk membuat yang disebut "Godok-Godok". Intinya sih pisang matang yang dihaluskan, kemudian diuleni dengan tepung terigu dan digoreng. Konon "godok-godok" adalah makanan yang banyak beredar di daerah Sumatera/Melayu. Di Aceh ada penampakannya, di Medan ada, di Sumatera Barat juga ada. Begitu juga di Malaysia, di sana makanan ini disebut juga sebagai "Kuih Kodok".

Mengambil resep dari sini (yang cekodok pisang), aku ambil 2/3 resep jadi:

2 buah pisang blasteran, haluskan dengan garpu
1/3 cangkir (6 sdm) tepung terigu
1/4 sdt baking powder
sejumput garam
minyak untuk menggoreng

Cara membuat:
Campur tepung terigu, baking powder, dan garam. Aduk rata.
Masukkan campuran tepung terigu ke bubur pisang. Uleni sampai rata.
Panaskan minyak untuk menggoreng secara deep-fried.
Kemudian goreng adonan pisang sampai kecoklatan, gunakan sendok makan untuk menakar.

Hasilnya seperti ini:


Yummmyyy.... but I really have to learn more about food photography... wakakakak... karena penampakan di foto tidak seindah aslinya...

Berdasarkan informasi dari kawan-kawan, adonan tersebut di atas bisa juga dicampur dengan telur dan/atau susu dan/atau parutan kelapa...  

Wednesday, July 27, 2011

Macaroni Saus Tuna Alfredo Secukupnya

Selasa siang, istirahat kantor gak jadi mampir ke kedai makan langganan. Jadi mikir, masak apa ya?

Hmm... Aku pengen pasta. Ada macaroni di lemari, tapi masak saus apa ya? Ada susu, ada terigu, ada sedikit keju. Bisa bikin alfredo. Buat "daging"-nya ada tuna kaleng. Yang gak ada cuma 1: resepnya!! Ada di laptop di kantor, dan kalo mau browsing nyari resep dulu pake BB, kelamaan kaalleee... Jadi mari kita bikin resep kira-kira!

Bahan:
*70-75 gram macaroni, rebus dalam air yg diberi sedikit minyak goreng
*2 siung bawang putih, rajang halus (kayaknya 1 juga cukup deh)
*susu UHT, secukupnya
*1/3 bagian tuna kaleng kecil
*3 sdm minyak dari kaleng tuna
*parutan keju, secukupnya
*merica bubuk, secukupnya
*pala bubuk, secukupnya
*tepung terigu, secukupnya

Kebanyakan bahan diukur "secukupnya", karena aku emang gak nakar secara detail. Bahkan terigunya juga langsung ditumpahkan dari plastik ke pan, karena terigunya pas tinggal dikit sih.

Cara meramu:
*tumis bawang putih dgn minyak dari kaleng tuna sampai wangi
*masukkan tuna, aduk2 sebentar (tapi mengerikan deh, tunanya meletus-letus!!)
*masukkan susu. karena tunanya sudah mateng, boleh juga masukkan susunya duluan kalo takut sama letusan tuna.
*masukkan parutan keju
*masukkan pala dan merica, aduk rata.
*setelah mendidih, masukkan terigu. Aduk.
*matikan kompor, masukkan makaroni yang telah direbus, aduk rata. Dan jadilah makan siangku!!

Alfredo vs Carbonara. Penampakannya serupa, putih2 gitu... tapi ternyata tak sama. Saus aslinya yang diciptakan oleh pak Alfredo ini hanya terbuat dari mentega (bukan margarin ya) ditambah dengan keju parmesan. Sedangkan carbonara aslinya tersusun dari telur, daging asap, keju, dan krim. Namun dengan menyebarnya saus-saus pasta itu ke seluruh dunia, terjadi modifikasi sana-sini, maka ingredients-nya pun makin kompleks. Yang membuat aku memilih "alfredo" dan bukan "carbonara" sebagai nama saus jadi-jadianku tadi adalah telurnya. Alfredo tidak memakai telur sebagai salah satu bahannya, begitu juga saus bikinanku.

Sunday, July 24, 2011

Singapore (bukan)-Claypot Chicken Rice

Aku suka nasi claypot. Dari jaman kafe kembang yang jualan nasi claypot masih eksis di depan Melsa Bandung, sampe kafe kembang pindah ke dekat Dayang Sumbi, sampe akhirnya tutup: aku.suka.nasi.claypot.

Bahkan pergi ke resto mahal pun aku pesan nasi claypot (kalo ada). Suatu hari di tahun 2007, aku pernah diajak boss besar makan di resto terkenal di Dago Atas, karena kulihat ada menu Singapore Claypot Chicken Rice, aku pun pesan menu itu. Ternyata... Rasanya gak sebanding dengan reputasi dan harga makanan restoran tersebut. Ndak enak... Bumbunya kurang menyerap ke dalam nasinya. Hmm... Tapi lucunya... Kalau lihat foto acara makan di Dago Atas itu... Mari kita lihat:


Ini nasi claypot mahal yang tampangnya oke, tapi rasa gak oke. Di sebelahnya, itu aku lagi makan nasi claypot. Tapi ngapain ya pria kurus berbaju biru itu duduk di sebelahku? Senggol. Senggol. Senggol. => sekarang berani senggol-senggol... ^_^

Jadi... Untuk menyambut kedatangan Omla dari dinas ke Bandung minggu yang lalu (padahal bilang aja emang aku yang pengen makan...), aku membuat Singapore Claypot Chicken Rice, tapi tentunya tanpa claypot. Di mana coba cari claypot di Sorong?

Untungnya tersedia resep dari sini: http://rasamalaysia.com/claypot-chicken-rice-without-claypot/ . Setelah aku adaptasi, maka menjadi seperti ini:

1 dada ayam boneless => emang selalu nyimpen barang ini di freezer
3 buah jamur shiitake => potong kecil2
1 batang daun bawang
1/2 sdt bubuk jahe (harusnya sih pake jahe betulan dicincang)
Sejumput ikan asin jambal roti
1 takaran/cangkir beras

Bumbu rendam buat ayam:
2 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
1/2 sdt maizena
1/2 sdt minyak wijen
1 jumput bubuk lada putih
1/4 sdt gula pasir
Semua bahan diaduk-aduk

Bumbu buat menanak nasi:
1 sdm kecap asin
1/2 sdt kecap manis
1 sdt minyak wijen
1 jumput garam

* Potong kecil-kecil dada ayam, kemudian campur dengan bumbu rendam. Rendam dalam kulkas selama 1 jam (istilah kerennya: marinate the chicken for an hour).
* Setelah ayam dikulkas selama 1 jam: Cuci beras. Masukkan ke dalam panci rice cooker, tambahkan air sesuai ketentuan. Tambahkan campuran "bumbu buat menanak nasi", aduk rata. Tekan tombol cook.
* Setelah itu tumis ayam yang telah direndam (bersama bumbu rendamannya) bersama dengan jamur shiitake dan sedikit minyak. Tambahkan bubuk jahe. Aduk-aduk sampai ayam setengah matang. Sebelum diangkat, tambahkan daun bawang. Aduk-aduk sebentar, kemudian angkat.
* Sesekali tengok rice cooker, begitu airnya hampir habis (ketinggian air = ketinggian nasi/beras), masukkan tumisan ayam dan jamur. Letakkan di atas nasi.
* Sambil menunggu nasi matang, goreng ikan asin jambal yang sudah dirajang kecil-kecil.
* Begitu tombol rice cooker berpindah ke mode warm, tunggu sekitar 15-20 menit sebelum menyantap hidangan. Hidangkan dengan taburan ikan asin jambal.

Ini dia penampakannya...


Tampang emang gak sekeren yang di resto mahal itu, tapi rasanya boleh diadu deh. Oya, ini porsinya untuk 2 orang ya... jadi kalo mau bikin untuk se-RT, tinggal dikalikan dengan jumlah orang di satu RT itu, terus dibagi 2.

Untuk nasi yang lebih gurih, bisa juga ditambahkan sepotong kecil ayam (diambil dari daging ayam yang telah direndam selama 1 jam) ke dalam rice cooker dari sejak pertama kali menekan tombol cook. Daging ayamnya akan menyebarkan kaldu ke seluruh beras yang lagi dimasak.

Kalau malas menggoreng ikan asin jambal, nasi claypot ini enak juga dimakan dengan telur asin. Ternyata telur asin yang berasal dari Brebes ataupun Bantul itu cocok dikombinasikan dengan masakan peranakan ini.

Akhirnya kerinduan bertaun-taun akan nasi claypot terlampiaskan sudah... Tak perlu ke Singapore atau ke mall besar kan untuk makan nasi claypot? Karena di Sorong juga ada...

Acara Gosip Yang Aneh...

Tapi acara gosip mana sih yang gak aneh?

Barusan aja scanning channel-channel TV... Terus nemu acara gosip yang ditayangkan di stasiun TV tempat aku pernah bekerja (sebentar). Sebelum aku pindah channel lagi, ini informasi yg aku "serap":

* acara TV tersebut baru saja selesai membahas pernikahan seorang artis perempuan yg berusia 41 tahun. Kalimatnya itu lho: "Setelah R**a R*****n yang menikah di usia senja...". Weks, jadi usia 41 tahun itu menurut mereka tergolong "usia senja" ya?

* kemudian acara TV tersebut membahas tentang mantan artis cilik yg akan segera menikah untuk kedua kalinya. Menurut mereka, pernikahan itu ditutup-tutupi, buktinya si artis nggak datang sendiri ke KUA tempat dia berdomisili untuk meminta surat rekomendasi/pengantar. Lha terus apa masalahnya? Rakyat jelata yang bukan artis macam diriku aja gak pernah datang ke KUA untuk mengurusi pernikahan karena jadwal gak memungkinkan... Jadi kalo si artis ini gak datang sendiri ke KUA, biasa aja kaalliii...

Akhirnya aku pindah channel. Kalo sebel mending gak usah nonton ah, kecuali niatnya emang mencela-cela.

Sampe saat ini, mungkin acara macam itu masih diperlukan. Untuk yang males liat berita politik yang makin hari makin bikin sakit perut, acara gosip artis yang ringan dan gak perlu banyak dicerna bisa jadi alternatif. Begitu juga yang lagi butuh mencela, misalnya untuk melepas stress, lebih baik nonton gosip. Kadang bisa mencela artisnya, atau bisa mencela beritanya, atau presenternya, tergantung bagian mana yg lagi absurd.

Hari Gini...

Indonesia sudah merdeka berapa tahun ya? 66 tahun kan ya?

Herannya, masih ada aja yang mengkotak-kotakkan sesamanya berdasarkan SARA. Dan itu saya jumpai di sini, kota pendatang yang penduduknya cukup plural, yang seharusnya sudah lama meninggalkan hal-hal seperti itu. Dan sikap itu ditunjukkan oleh beberapa orang pendatang, yang menurut saya aneh. Lhaaa... begimane loe bisa jadi pendatang kalo loe gak bisa menerima perbedaan? Datang ke tempat baru itu kan sudah pasti dimana-mana ada perbedaan...

Tempat saya membutuhkan tenaga kerja baru, untuk menggantikan tenaga kerja lama yang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan ketika saya menerima masukan dari kanan-kiri, banyak (gak cuma satu loh) yang menambahkan: "Jangan bu, soalnya dia agamanya N...". Saya kaget...

Saya pernah mendengar ada beberapa orang di perusahaan ini yang masih sangat membedakan orang berdasarkan SARA, tapi terus terang saja saya belum pernah menjumpai langsung. Kebetulan tempat-tempat saya yang lama suasana-nya cukup rukun antar suku, antar agama, antar ras, dan juga antar berat badan... Jadi saya pikir, ah mungkin yang saya dengar itu hanya gosip gak jelas aja...

Kali ini, untuk urusan pencarian tenaga kerja ini, saya sudah menjumpai beberapa kali. Dan parahnya, salah satu orang yang memberikan masukan seperti itu, usianya jauh lebih muda daripada saya. Generasi yang baru lulus kuliah. Udah gitu dulu kuliahnya di sebuah kota yang terkenal dengan kota pelajar, sehingga setahu saya di kota Y itu mahasiswanya beragam dari Sabang sampe Merauke. Main sama siapa aja dia selama kuliah?! Kemana kah menguapnya pelajaran tentang Bhineka Tunggal Ika yang diberikan sejak SD itu??

Saya cukup beruntung, waktu kuliah saya bergaul di PSM-ITB. Syarat mutlak di PSM adalah: kami gak boleh membedakan teman berdasarkan suku, ras, agama, dan berat badan... kalo SARA masih jadi isu di PSM, ya begimane bisa nyanyi bareng?? Tentunya kami (kalo lagi nyanyi) membedakan orang berdasarkan golongan suaranya: Sopran, Alto, Tenor, Bass. Kalo loe orang golongan suaranya Sopran, awas jangan deket-deket sama saya kalo lagi nyanyi... pergi sana ke barisan Sopran. Eh, bukan berarti di jurusan saya pergaulannya gak campur lho ya, tapi kebetulan saya emang lebih banyak nongkrong di PSM, jadi contoh yang bisa saya kasih juga lebih banyak dari sana.

Sepertinya perjalanan masih panjang... Indonesia bakalan gampang dipecah belah kalo orang-orangnya masih mengkotak-kotakkan berdasarkan SARA. Kayaknya orang-orang itu harus dijejelin buku Nasional.Is.Me-nya mas Pandji deh...  Di sana dijelaskan bahwa kita harus bersatu. Gak mau kan kalo hidup kita jadi gak aman karena sekeliling kita banyak kerusuhan? Kalau mau hidup tenang, hidup aman, ya mulai dunk belajar untuk menerima keanekaragaman. Jangan sampe kita mengkotak-kotakkan orang berdasarkan SARA, tapi giliran ada kerusuhan antar etnis, antar agama, kita marah-marah sama pemerintah, sama polisi, sama orang yang rusuh, karena orang-orang itu gak bisa menjaga ketentraman...

Jadi... biar kata hari ini seseorang pake gadget yang paling mutakhir, tapi kalo masih belum bisa menerima keanekaragaman... itu tuh ketinggalan jaman banget. Termasuk orang-orang yang kasih masukan aneh ke saya itu. Kasian deh lo!!

Saturday, July 23, 2011

Koteka Cabulita

Tinggal jauh dari ibukota ada untungnya: gak pake macet, dapet fasilitas enak, gak banyak godaan belanja, dekat ke obyek wisata yang indahnya bukan main, dan seterusnya. Beberapa hal gak enak sudah berhasil diatasi sebagian, seperti: ninggalin keluarga jaman sekarang dibandingkan 15 tahun yang lalu pastinya beda bebannya, kalo sekarang ada GSM, email, fb, skype, google+, twitter, dan banyak lagi alternatif cara komunikasi. Kemudian soal makanan, gak bisa makan masakannya Si Mbok, ya sudah belajar masak sendiri.

Tapi ada juga yang gak bisa tergantikan, biar kata bisa lewat dunia maya, tetep aja pertemuan fisik dengan keluarga lebih jadi pilihan. Juga kesempatan-kesempatan lainnya yang gak bisa dilakukan kalau kita gak di dekat ibu kota, seperti ikut workshop-workshop yang menarik, atau seperti yang baru saja saya lewatkan: Konser Alumni PSM-ITB.

Uhuuuyy... yaaa... kakak-kakak, teman-teman, adik-adik alumni PSM-ITB baru saja menyelenggarakan konser di Jakarta dan Bandung. Dan saya... salah satu aktivis pas jaman kuliah dulu (PSM kan tempat kuliah saya...), terpaksa melewatkan kesempatan untuk yang satu ini. Udah tempatnya jauh di ibu kota, cuti saya juga sudah mepet jaya... Jadi boro-boro ikut nyanyi, nonton aja gak bisaa...

Padahal  buat kami para anggota paduan suara, tampil di atas panggung itu tak tergantikan deh sensasinya. Bahkan nyanyi di karaokean atau di orgen tunggal family gathering pun gak bisa menggantikan sensasi tersebut. Ada kepuasan yang gimana gitu... setelah berbulan-bulan latian, terus akhirnya menampilkan yang terbaik. Bahkan kalopun ada sesuatu yang error pas tampil, itu akhirnya bisa jadi bahan tertawaan selama berbulan-bulan.

Karena kekecewaan saya, akhirnya saya menulis di wall Alumni PSM-ITB, seperti ini...
baru sempet buka fb lagi, ngeliat liputan video, audio, dan putu-putuna... mantaabbhhh euy!! keerreen... ngiiirrii... pengen ikut nyanyi juga. Taun depan bisa gak ya? Kalo masih gak bisa, ntar nyumbang kostum aja dari sini (koteka gitu...) ^_^

Membaca kata nomer 2 dari akhir, saya harus cengar-cengir sendiri, karena jadi teringat sesuatu. 12 tahun yang lalu... pada saat liburan musim panas yang cerah, saya dan teman-teman PSM-ITB pergi berlibur ke Carita. Kami menginap di Koteka Cabulita. Koteka merupakan plesetan dari Cottage, sedangkan Cabulita adalah nama julukan saya. Hahaha... bukan saya suka melakukan hal-hal cabul loh... tapi karena saya paling cepet nyambung kalo teman-teman PSM sedang mengeluarkan joke-joke cabul. Jadi... Koteka Cabulita kurang lebih artinya Cottage-nya Gita.

Saya masih ingat, yang pertama kali menemukan sebutan Koteka itu adalah Mr. Rumpiselalu alias Michael, kakak kelas yang merupakan Master of Solutions: selalu bisa menjelaskan semua permasalahan yang kami temui. Dulu, menurut saya nama itu sudah lucu. Sekarang ternyata jadi lebih lucu lagi. Michael tidak hanya Master of Solutions, melainkan juga Visioner. Siapa sangka...?? 11 tahun setelah perjalanan ke "Koteka Cabulita" itu, ternyata si Cabulita pindah ke daerah yang memproduksi Koteka....

Wednesday, July 20, 2011

Bihun Goreng Pedas aka Misi Penyelamatan Leftovers

Kemarin banjir (lagi!!), tepat seminggu setelah banjir yang pertama. Kali ini kulkas di rumah dinas kami kemasukan air, dan hari ini libur pilkada di Sorong, jadi teknisinya ndak bisa didatangkan, sehingga dari kemarin sampai besok ndak ada freezer dan fridge.

Sore ini aku memutuskan untuk menyelamatkan beberapa bahan yang ada di dalam kulkas: Bumbu K*kita Rasa Pedas, daging asap, frozen veggies, dan kentang goreng.

Kentang goreng-nya langsung digoreng buat cemilan. Sedangkan lainnya dikombinasi dengan bihun jagung simpenan, dan bertransformasi menjadi.... Bihun Goreng Pedas.

Bahannya:
80 gram bihun jagung, seduh dengan air panas
2 sdm bumbu dasar pedas buatan sendiri
frozen vegetables sisa, seduh dengan air panas
2 lembar daging asap, potong kecil-kecil
2 sdm kecap manis
1 sdt kecap asin
2 sdt minyak wijen
100 ml air
sedikit minyak goreng untuk menumis

Langkah pembuatan:
-tumis bumbu dasar sampai wangi.
-tambahkan frozen vegetable dan potongan daging asap, tumis sebentar
-tambahkan air
-tambahkan kecap asin dan minyak wijen
-masukkan bihun yang sebelumnya sudah diaduk rata dengan kecap manis
-aduk-aduk sampai air meresap, kemudian angkat.

Ini dia penampakannya... sekalian nyoba memoto jarak dekat pake kamera saku Omla.



Mau? :-)

Saturday, July 16, 2011

Hanimun (atau bukan?)

Officially, setelah acara kawinan kami nggak merencanakan ada honeymoon, karena beribet cuti gak cukup, masih mau ada ngunduh mantu, dan sebagainya. Tapi kebetulan sekali, 3 minggu setelah acara kawinan, ada yang ngajak ke Raja Ampat, jadi karena ini adalah perjalanan pertama kami setelah menjadi suami-istri (gak ngitung perjalanan Jakarta-Sorong ya), maka boleh lah disebut hanimun...

Ini perjalanan pertamaku dan juga Omla ke Raja Ampat. Kami cukup beruntung, karena yang mau kami datangi kali ini adalah gugus kepulauan Wayag, yang letaknya paling Barat (dan Utara) di kepulauan Raja Ampat. Dengan speed boat sekitar 4-5 jam perjalanan dari Sorong. Karena tergolong paling jauh, jadi kami gak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Kami pergi bersama 11 orang lainnya, terdiri dari rombongan campur-campur, ada orang Pertamina, orang Pajak, orang Jepang, dalam perjalanan 3 hari 2 malam yang bermodal sewa speed boat, bawa tenda, dan beberapa kardus bahan makanan.

Karena Wayag termasuk dalam kawasan konservasi, jadi wajar kalau ndak ada resort di sana. Makanya kami bawa perlengkapan makan dan tidur sendiri dari Sorong.

Ini cuplikan foto-fotonya, sayang sekali ndak ada foto kami sedang belajar snorkling. Saking excited-nya sampe lupa buat foto-foto...

Ini dalam perjalanan menuju Wayag, kalo ndak salah posisinya di sekitar Teluk Kabui, Pulau Waigeo

Begitu sampai di Wayag, kami kulo nuwun sama penjaga pulo-nya, yaitu teman-teman penduduk lokal yang bekerja pada Conservation International. Terus beberes persiapan makan dan bobok untuk hari itu. Sorenya mulai belajar snorkling di bawah dermaga.

Yang namanya di bawah dermaga tu kayak kolam renang gini. Aku yang tadinya gak berniat belajar snorkling, akhirnya jadi tertarik ikut nyemplung dan belajarlah kitaaa..!!!
Dan ini Omla, di pagi-pagi hari kedua.

Ini suasana pantai di posko Conservation International, tempat kami bermalam.
Begitu cerah ya... padahal pas subuh ujan loh, sampe tendanya bocor...  

Sehabis makan pagi, kami berlayar ke laguna. Itu dia pintu masuk ke laguna.

Dan semakin dekat ke laguna, orang-orang mulai pada berdiri, untuk melihat lebih jelas.

Ini di dalam laguna, airnya bukan kolam renang lagi, tapi bak mandi yang udah difilter pake Reverse Osmosis

Ini yang punya blog di dalam laguna.

Speed boat kami pun merapat, karena mau naik bukit untuk melihat pemandangan. Ini tempat merapatnya.

Sebagai gambaran, ini bukit yang kami naiki...

Yang ada orang kecil2 itu jalan masuknya ke hutan hujan tropis yang tumbuh di atas pulau karang. Sedangkan yang ada anak panahnya itu lokasi tujuan kami. Tingginya sekitar 97 m di atas permukaan laut. Gilee... mau liat pemandangan aja niat banget yak. Emang kayak apa sih?

Seperti ini. No further comment.
Ini yang ada orangnya, membuktikan bahwa ik bener-bener sampe di atas, bukan ngopy foto dari orang doang.

Tapi turunnya ngesot... hihiihi... mengerikan.

Sampe di bawah, ternyata kapalnya kandas karena air surut. Dan ik malah putu-putu...

Karena kapal kandas, diputuskan bahwa kami maksi dulu di situ. Kapal baru bisa berangkat lagi sekitar jam 4 (saat air pasang naik), jadilah kami diijinkan untuk snorklingan dulu.

Ini lagi maksi ikan sarden dan mie goreng di tempat persembunyian kami yang sekaligus berfungsi sebagai tempat ganti baju. *nyengir*

Suasana ke arah pantai pada saat itu. Penuh kedamaian. Hanya ada kami dan alam saja, tanpa turis lain.

Setelah kapal bisa jalan lagi, kami ke 1 dive site lagi, kemudian pulang ke base camp sambil melihat sunset ini dari atas speed boat.

Keesokan harinya kami kembali ke Sorong. What a trip.. Indonesia ternyata indah ya? :-)

Bumbu K*kita Seri Pedas

Jaman dulu juru masak terkenal Rudi Hadisu... eh...maksudnya Rudi Choiruddin pernah jadi bintang iklan bumbu K*kita A-B-C. Kalo di dunia perdokumenan, mungkin bumbu K*kita itu sama halnya dengan template. Kalo di dunia IT, dia sama dengan "function" yang udah jadi, kalo mau pake tinggal comot dan pasang di coding kita (halah...).

Nah, kalo di dunia masak-memasak... bumbu K*kita ini nama generiknya adalah BUMBU DASAR. Bermodal dua buku masak yang isinya resep-resep bumbu dasar, akhirnya aku mencoba membuat bumbu dasar yang rasa pedas. Kegunaannya untuk membuat balado, bumbu bali, nasi goreng, sambel goreng, rendang, pokoknya yang pedas-pedas.

bahan:
100 gram cabe merah keriting, kalo seneng pedes gak usah dibuang bijinya
15 biji bawang merah
10 siung bawang putih
1 buah tomat
20 gram gula pasir
garam secukupnya
minyak secukupnya

-Pertama, untuk yang gak doyan pedas, buang dulu biji cabenya. Aku dan Omla sebenernya senang pedas, tapi karena ini bumbu dasar... dia akan dipakai berulang-ulang, tingkat kepedesannya harus dalam taraf nyaman, gak boleh lebay, jadi akhirnya kuputuskan untuk membuang biji sebagian cabe. => perbuatan ini bakalan jadi bikin cerita baru deh...

-Kemudian blender semua bahan (kecuali minyak tentunya)

-Tumis sampe harum, eh sebenernya sih aku juga gak bisa bedain udah harum apa belum, perasaan dari tadi juga wangi-wangi aja tuh... jadi waktu perasaanku mengatakan kayak udah mateng... nah berarti udah mateng tuh, angkat.

-Setelah dingin, masukkan ke toples, simpan di kulkas, tahan sampe 3 minggu *kayaknya*.

Setelah itu langsung dipake buat bikin balado terong. Sangat mudah: terong 1 biji dipotong-potong sesuai selera, kemudian goreng di api kecil. Panaskan 2 sendok makan bumbu dasar pedas, tambah air dikit, kemudian masukkan terong yang sudah digoreng, aduk-aduk. Setelah air meresap, angkat.

Keesokan harinya buat bikin nasgor pedas. 1 sendok makan bumbu ditumis bersama sedikit terasi. Kemudian masukkan rombongan pemanis (aku pake jamur shiitake, ebi, dan frozen vegetable), masak beberapa saat, kemudian masukkan nasi. Tambahkan kecap manis, kecap asin, dan minyak wijen secukupnya. Aduk-aduk heboh. Setelah merata, nasgor siap diangkat dan disantap.

Pembuatan bumbu dasar pedasnya SUKSES, tapi setelah itu ada kejadian menghebohkan: tanganku kepedesan. Gara-gara mbuangin biji cabe, mungkin SOP-nya kurang begitu tepat kali ya... setelah selesai masak dan cuci piring, tanganku rasanya seperti terbakar... padahal penampakannya biasa aja... gak merah... gak bau lombok... bahkan dipake ngucek mata pun gak pedes. Aneh juga... kalo megang cabe... biasanya dengan cuci tangan saja sudah beres.

Duilee... itu panas gak ilang-ilang... kalo dikasi air enakan... tapi lama-lama abis dunk air di bak penampungan?! Berdasarkan saran Omla di sebrang sana, aku mengambil sarung tangan kuning pembagian dari kantor Omla, cemplungan di baskom, terus dipake deh... pertamanya enak emang, tapi tak lama si tangan itu sakit lagi. Olala...

Terus berdasarkan saran Ndulo, akhirnya ngambil handuk kecil, dibasahin lagi, terus digunakan untuk membungkus tangan. Karena sakitnya tinggal di ujung-ujung jari, akhirnya aku gak mbungkus tanganku, melainkan cukup dengan meremas-remas handuk basah itu...

Sampe akhirnya aku tertidur rasa terbakarnya belum hilang, untungnya ketika bangun pagi sudah gak terasa panas lagi. Huhuhu... makanan yang dimasak gak sebrapa pedas, malah tangannya yang kepedesan... tapi aku gak kapok kok, lain kali kita coba buat bumbu dasar tipe lainnya ya...

Wednesday, July 13, 2011

Banjiiiirrr....

Sorong banjir. Konon kata orang-orang karena air laut lagi pasang, sehingga air buangan dari selokan dan sungai itu nggak bisa mengalir dengan lancar.

Selasa sore, waktu jalan dari kantor Omla menuju ke rumah, hujan rintik-rintik mulai turun. Karena belum terlalu besar, sampai rumah aku masih sempat cuci piring dengan ngambil air dari bak penampungan belakang. Tapi belum selesai membilas, ternyata hujannya membesar dan tak bisa ditanggulangi dengan payung kecil kami. Aku pun minggat.

Hujan makin besar. Kami pun nonton TV saja sambil browsing-browsing. Ketika kilat menyambar-nyambar, sempat mati lampu sebentar. Kemudian nyala lagi. Setelah itu kilat lagi, kali ini BTS-nya Telkomsel yang sepertinya error, karena sinyal GPRS/3G di BB dan di Tab hilang pada waktu yang bersamaan. Ndak lama muncul lagi.

Niatnya malam itu mau makan sisa krim sup, jangan lombok, dan teri gila saja. Tapi mau bergerak masak nasi saja malas karena hujannya besar. Lama-lama aku pusing. Pindah tiduran di kamar, di luar keliatannya Omla kelaparan dan mulai mengeluarkan makanan-makanan yang mau dipanaskan.

Tiba-tiba Omla masuk sambil heboh-heboh (jarang-jarang heboh gitu). Airnya masuk rumah katanya. Wualaaahh.... pusing langsung ilang. Kami pun sibuk menaik-naikkan barang-barang yang ada di lantai. Terutama alat-alat kelistrikan. Omla mengira airnya mau masuk dari halaman belakang, sudah berusaha menyumbat sana-sini, ternyata airnya malah masuk dari depan. Ealah... cabe deh...

Haha... oke deh, aku kan belum pernah kebanjiran sebelumnya, maka ini akan menjadi pengalaman baru...

Tapi... bentar deh... kayaknya sebenernya udah pernah? Tapi dimana ya? Setelah semua barang-barang aman pada tempatnya, dan setelah mencabuti semua alat listrik, bayangan gedung bengkok dengan segala tetek-bengek yang berserakan di lantai kembali dalam bayanganku. Whoooaaa!!!! Bener banget!! Aku pernah kebanjiran di Sekre PSM-ITB!!!

Semua sudut rumah kami (termasuk kamar tidur kami yang lantainya 1 inch lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya) kemasukan air yang kurang lebih setinggi mata kaki. Barang-barang ringan kami pun mulai kampul-kampul dan berjalan-jalan ke sana kemari. Omla dengan enaknya menggunakan sepatu safety, yeeeaaa.... bagemana dengan aku?! Ga punya safety shoes nih... belum dapet pembagian... Hmm... aku akhirnya menggunakan Crocs, meskipun airnya tetep masuk ke sepatu lewat atas. Tapi setidaknya aku gak takut sepatunya rusak dan kakiku pun gak langsung kena air banjir.

Sambil menunggu air surut, akhirnya kami meneruskan memasak. Beras baru setengah dicuci tadi. Omla mencuci pakai air dari dispenser, berusaha membuangnya di kamar mandi dalam, tapi aku bilang jangan, karena weks... di kamar mandi ada air masuk dari saluran pembuangan, itu air dari comberan tentunya, warnanya hitam. Aku gak pengen membayangkan beras yang aku makan pernah masuk ke ruangan itu. Akhirnya Omla membuang air cucian beras di.... tengah-tengah living room. Hahaha... lebih praktis bukan, toh ruang keluarganya juga sudah penuh air.

Kemudian kami memanaskan teri gila, menggoreng tempe (sudah sempat dibumbui oleh Omla sebelum air masuk), memanaskan sisa jangan lombok, dan memanaskan sisa sup krim ayam. Sambil menunggu nasinya masak, kami pun duduk di sofa ruang tengah, sambil menghabiskan tempe goreng yang baru matang, nonton TV dan ngadem di ruang tengah. Haha... unik juga nih, wong banjir kok masih bisa nyalain AC dan TV. Di luar, keliatannya hujannya sedikit bertambah besar. Hiks... kapan surutnya nih...

Setelah hujan berhenti, tak lama airnya surut. Kami pun bersama-sama menghalau air-air tersebut keluar rumah pakai sikat lantai kamar mandi dan sapu plastik. Ternyata lantai rumah itu tidak rata, lebih rendah di beberapa pojokan, termasuk di kamar belakang, jadi air menggenang di tempat-tempat tersebut. Tapi karena rumah kami gak pakai tanggul sama sekali, kami bisa dengan mudah mendorong air ke halaman.

Yang pertama kubersihkan adalah: kamar mandi. Iiihh... habis gak kebayang deh, kalo kamar mandinya jijay, terus gimana kalo mau ke WC... Ambil seember air bersih dari bak penampungan (yang alhamdulilah gak tercemar air banjir), terus lantai kamar mandi yang sekarang warnanya coklat itu aku semprot-semprot dulu dengan SOS. Baru setelah itu diguyur pakai air bersih itu. Bingo!! Langsung kinclong lagi tuh kamar mandi. Wangi lagi... Tinggal nyikatin bagian yang nyelip-nyelip.

Setelah dirasa lantai rumah kami cukup kering (padahal sebenernya masih basah, tapi yang penting gak terlalu becek aja), kami pun makan malam. Omla makan nasi, pake teri gila, dan jangan lombok (tempe sudah habis), sedangkan aku makan sup krim ayam langsung dari pancinya plus ditutup dengan sisa teri gila. Mungkin ini adalah keajaiban di tengah kesusahan ya, tapi sup krim ayam-nya jadi lebih enak dibandingkan waktu baru matang kemarin.

Sebelum tidur, cuci kaki dan cuci sepatu... hihihi... lucunya... baru kali ini tidur pake daster tapi melangkah sampe ke pinggir tempat tidur pake sepatu kantor. Omla malah pake safety shoes... Pas udah mau tidur hujan membesar lagi, tapi semoga tidak banjir lagi. Dan memang begitu adanya...

....sampe di keesokan harinya, aku berangkat agak telat, karena nungguin si mbak datang. Kasian si mbak, hari ini tugasnya berat: mengepel seluruh rumah, meskipun airnya sudah kami keluarkan semua semalam. Ealah... liat ke meja makan, ternyata Omla meninggalkan roti bakar jatah makan pagi. Akhirnya aku bermobil ke kantor EP dulu, mengantarkan roti. Dalam perjalanan, aku lihat di kantorku orang-orang lagi pada ngepel, di kantor Kodim orang-orang juga lagi bersih-bersih, terus di tengah jalan tiba-tiba ada sepotong sandal bagus. Hihihi... itu pasti sandal yang kampul-kampul kena banjir terus meninggalkan rumah pemiliknya.

Sampai di kantor Omla, ngobrol sebentar dengan teman-teman Omla, kemudian aku lanjut ke kantor. Ruanganku hanya kemasukan air sedikit sekali, barang-barang kami yang tergeletak di lantai selamat semua, tapi ruangan-ruangan di sebelah kiri ruanganku terendam semua ternyata. Setelah membaca koran, ternyata hampir seluruh kota Sorong kebanjiran, kecuali rumah-rumah yang berada di atas bukit.

Semalam pun Omla menawarkan untuk pindah ke rumah dinas kantor Omla yang di atas bukit. Hmm... tapi bagaimana kalau pas Omla dinas ya? Berarti aku sendirian di bukit? Lagipula tetangga di sekitar rumah dinasku ini lumayan guyub. Hmm... mari kita pikir-pikir lagi....

Sup Krim Ayam

Habis migren, terus perut gak enak, pengen makan Chicken Cream Soup. Lari ke KFC Saga, ternyata mereka lagi gak jualan cream soup. Waks! Bahkan udah ngubek2 Saga, gak ada pula bubuk cream soup Knorr ataupun Maggi.

Tapi tenang saja, kita kan MacGyver... tak ada rotan, akar pun jadi...

Sorenya... dengan bermodal bahan-bahan yang ada di rumah, aku pun membuat krim sup jadi-jadian...
Bahannya:
Air 1 liter
Ayam 1 ons (kurang malah kali ye)
Jamur Shiitake 4 buah, iris tipis-tipis
Susu UHT 200 ml
Pala bubuk 1/2 sdt
Merica bubuk 1/2 sdt
Bawang bombay 1/4 buah
Bawang putih 2 siung
Mentega/minyak goreng sedikit untuk menumis
Garam secukupnya
2 sendok makan tepung terigu + air 100 ml

-Pertama, bikin kaldu dulu pake air dan ayam-nya. Godok sampe mendidih. Terus matikan, angkat daging ayam-nya, potong kotak-kotak kecil.
-Bawang bombay dan bawang putih diiris tipis-tipis. Kemudian bawang2an itu ditumis dulu di wajan 24 cm kesayangan kami, setelah wangi tambahkan merica dan pala bubuk.
-Kemudian masukan ramuan ajaib itu ke kaldu ayam. Rebus lagi deh sampe mendidih. Jangan lupa masukkan ayam dan jamurnya. Dan garam sesuai selera.
-Setelah mendidih, masukkan susu UHT. Tunggu mendidih lagi.
-Kemudian masukkan tepung terigu yang sudah dilarutkan ke air 100 ml.
-Aduk-aduk sampai mengental.
-Sajikan hangat-hangat.

Review:
Taste-nya sih sudah ke jalan yang benar, meskipun rasa ayamnya masih kurang mantab. Kalau yang gak anti kaldu bubuk, silakan tambah kaldu blok rasa ayam. Sedangkan kalo yang anti, mungkin dalam pembuatan kaldu bisa menggunakan ceker/tulang ayam, daging ayam-nya dipisah saja, sehingga penggodokan bisa lebih lama tanpa khawatir daging ayam-nya hancur.

Jamur shiitake-nya gak nyambung dengan supnya ternyata, kalau mau pakai jamur, mending pakai jamur merang alias champignon (yang suka ada kalengannya itu loh).

Eniwei, setelah leftover-nya menginap 1 malam di dalam kulkas, ketika dipanaskan... supnya jadi lebih mantab rasa ayam-nya, jadi mirip beneran sama sup knorr atau maggi. Whhhuuaaa... we made it!!   

Tuesday, July 12, 2011

Crazy Anchovy

Terinspirasi pada kenangan selama di Prabumulih, aku mencoba untuk masak teri gila (crazy anchovy kan?) atau bahasa umumnya adalah teri medan sambel ijo.

Waktu di Prabu, teman serumahku si Vera sering memesan teri gila dari Rantau, salah satu area operasi kami di Nangroe Aceh Darussalam. Rasanya pedes banget,tapi nagih. Kalo perlu kami jadikan cemilan tanpa nasi. Gak tanggung-tanggung, sekali pesen bisa menghabiskan 1 kg teri!

Hmmm, tenang saja.. 1 kg itu gak langsung habis dalam semalam kok. Biasanya kami simpan di freezer, trus dimakannya dikit-dikit.

Itu tadi kenangan indah di Prabu, mari kita kembali ke Sorong. Karena aku punya cabe ijo sisa masak jangan lombok ijo, dan teringat kenangan indah tadi, maka aku pengen memperkenalkan kenikmatan teri gila ke Omla.

Demi mendapatkan resepnya, aku konsultasi via BBM dengan mbak Ita, "ibu kost"ku dan Vera di Prabu, dan mencari di internet, dapat resep dari milis NCC. Maka jadilah aku dan Omla memasaknya seperti ini:
Bahan:
Cabe Ijo kurleb 1 ons
Terasi 1/2 sdt
Bawang merah 7 butir
Bawang putih 5 butir
Cabe rawit kira2 8 biji
Tomat Ijo 3 buah
Teri Medan 2 ons
Garam secukupnya
Minyak goreng secukupnya

Oiya... nyari teri medan di Sorong ternyata gak susah, di Agro maupun di Saga ada, tinggal mau yang kemasannya seberapa. Kalo di Agro lebih mungil2 kemasannya (mungil = 2 ons tadi), sedangkan Saga lebih gigantik (setengah kilo kali yee...).

Nah, bahan-bahan tadi (kecuali teri) dicampur, terus diblender. Buat kami... ini sekalian nyobain hand blender kado manten dari mbak Ita. Oya, garamnya secukupnya saja, karena teri medan kan sudah asin. Jangan lupa dicicip dulu sebelum diproses lebih lanjut.

Teri-nya direndem dulu sebentar, terus digoreng agak kering (gak usah terlalu kering). Setelah teri-nya diangkat. Tumis bahan-bahan yang diblender tadi... setelah wangi, masukkan teri-nya, aduk-aduk. Taraaaaa.... jadi deh...

Review:
Tastenya mantab, meskipun gak sepedas yang dari Rantau (masukin cabe-nya kurang berani), jadi kurang gila terinya. Tapi tetep bikin nagih kok... Tomat Ijo-nya sebenernya gak usah terlalu banyak. Banyakin cabe ijo-nya aja. Kemarin itu karena cabe ijo-nya cuma 1 ons (namanya juga sisa), makanya tomat aku tambahin jadi 3 buah. Buat nyubal ceritanya. Untuk tetumisan, minyak agak banyak dikit juga boleh, kemarin itu karena Omla sebagai yang ngaduk-ngaduk tumisan itu gak pengen terinya terlalu basah jadi minyaknya dibuat minimalis... Jadinya kering sambel ijo-nya. Padahal kalo kering, jadi agak bikin seret waktu ditelan. Jadi tentu saja ketika besok-besoknya aku yang bertugas ngangetin, kesempatan buat kutambah minyak. ;-)

Okelah... selamat menikmati... (menikmati gambarnya maksudnya...)

Monday, July 11, 2011

Cerita Sorong

Wah, login ke active directory lagi heng-hong, jadi mari kita ngeblog sembari menunggu sang admin datang ke kantor. Maklumlah... usernya di kawasan WIT, admin-nya di kawasan WIB, jadi usernya dah gedebak-gedebuk di kantor, admin-nya masih on the way ke kantor.

Di Sorong ini banyak hal baru yang aku pelajari, dari mulai hal-hal yang baru ditemui di sini, belajar bawa mobil sendiri (bukan belajar nyetir loh, kalo itu mah udah dari umur 18, hihi.. payah yee), belajar snorkling, sampe belajar jadi istri Omla (ini kan hal baru, wong selama ini hidup suka-suka sendiri yahaha...).

Dari banyak hal baru yang dipelajari, pastinya ada yang bisa dishare, dan ada juga yang enggak (ihihi). Salah satu yang pengen kami share adalah pelajaran memasak. Yaya.. Aku kan anak metropolitan yang gak pernah masuk dapur. Mbedain laos ama jahe aja susah kalo gak pake mengendus-endus dulu. Dari dulu mengandalkan para Mbok kalo urusan masak. Bahkan pindah ke Prabu pun di sana ada si Bibik yang masakin.

Pas baru datang di sini sih lebih banyak jajan di luar, tapi lama-lama jajan mahal euy, lagipula banyak makanan kesukaan yang gak dijual di sini. Jadi dengan segala keterbatasan, kami pun belajar masak dengan referensi terbesar: Internet. Terbatas? Apanya yang terbatas? Ya macem2, misalnya waktu: kami kan cuma bisa belanja after office hours, jadi susah mau belanja di pasar atau nyegat tukang sayur, satu-satunya pilihan yang nyaman adalah belanja di supermarket. Terus di sini juga barang2 gak segampang di Jawa (meskipun masih lebih mending dari Prabumulih sih), nyari santan kara aja ternyata gak semua supermarket punya stock, begitu juga cabe ijo. Dan tentu saja ada juga keterbatasan perangkat. Bukan berarti di sini susah cari alat masak loh, tapi karena kami gak mau banyak numpuk alat masak jadi kami menggunakan yang basic saja. Yeeaaa, itu pan teflon 24cm ya kita pake goreng ikan asin, bikin bihun goreng, numis, bikin saus pasta, bikin steak, bikin pisang panggang, masi untung gak sekalian masak indomie pake pan itu juga. Ini Sorong jendral, kalo pindah tempat lagi nanti ongkirnya mahal, makanya males mau numpuk barang.

Okelah, selamat menikmati resep-resep kami... semoga bermanfaat terutama buat para newbies...

Wednesday, July 06, 2011

Sate Sapi

Tanpa berusaha menyinggung temanku yang kupanggil Sapi, atau boneka KUDA! yang krisis kepribadian, bingung menentukan dirinya itu kuda atau sapi.... waktu lagi baca-baca posting lama blog ini, aku sampai pada tulisan tentang Perjalanan Kuliah ke Yogya ini. That was more than 4 years ago... tapi aku membaca sesuatu informasi yang patut digarisbawahi: tentang Sate Sapi Karang Kotagede. Rupanya 4 tahun lalu aku dan teman-teman kuliah UGM-ku berkunjung ke sana. Dan... rupanya (lagi) aku mencantumkan alamat lengkap si Sate Sapi itu di posting tersebut.

Whoops... ternyata... apa alamatnya? Depokan? Yang betul? Sekali lagi? DEPOKAN? Kotagede kan? Hmmm... hmmm... lirik kiri, lirik kanan, HUUUWWAAAUUUWW.... (dan kemudian histeris...)

Kebetulan yang amat sangat mantab!! Semoga Sate Sapi itu belum berpindah dari tempat itu, karena ternyata lokasinya dekat sekali dengan tempat mangkal Omla kalo lagi di kota Yogya.

Friday, July 01, 2011

Makaroni Kukus

Menghabiskan sisa makaroni dgn komposisi:
100 gram makaroni
100 gram kornet
50 gram keju cheddar, parut
250 ml susu cair
1 butir telur
Garam, merica, pala secukupnya
Minyak goreng

Cara masak:
Campur semua bahan (kecuali minyak goreng), tuang ke cetakan yg sudah dioles minyak (bisa pinggan kaca, bisa cetakan kue)
Panaskan kukusan.
Setelah mendidih dan berasap-asap, masukkan makaroni ke kukusan.
Kukus selama kurleb 45 menit.

Evaluasi:
Telur sebaiknya pakai 2 supaya makaroni lebih menempel satu sama lain. Kemarin pakai 1 karena kehabisan telur, terus pas nyari di tukang sayur si bapak cuma punya telur bebek 2 butir. Eehh... Setelah dibeli, ada yg memelas pengen makan telur bebek, jadilah dipakai 1 aja telurnya.

Rasanya? yummy... (Memuji hasil karya sendiri). Mungkin karena kejunya agak berlimpah. Oya, kalau ada oregano, bisa juga ditambahkan secukupnya.

Dan maaf gak ada fotonya, karena waktu bikin sudah kelaparan... Hahaha... Begitu matang langsung dihajar.

Kalo bisa minyak gorengnya diganti dengan mentega saja. Aku tak tahu apakah ada pengaruhnya, dulu jaman di Prabumulih aku selalu pakai mentega, setelah matang, makaroninya mudah sekali dilepas dari cetakan/wadahnya. Nah, baru kemarin tuh nyoba pake minyak... Kok ternyata susah ye?

Singkat kata mah: selamat mencoba (dan menikmati)...

Test Posting Dari Blogger-droid

Melakukan posting dari perangkat android. Mari kita lihat bagaimana hasilnya..
Published with Blogger-droid v1.7.2