Saturday, June 11, 2016

Hubungan Benci Tapi Rindu Dengan Senen-Lb.Bulus

Tadi pagi, waktu lagi duduk nyaman dan adem di atas bus feeder transjakarta jurusan Lb. Bulus-Senen dalam perjalanan 20 menit dari Kuningan ke Istiqlal, aku jadi feeling nostalgic

Bisa duduk (ataupun berdiri) dengan tenang, nyaman, dan adem di bus itu sebenernya menggambarkan kemajuan ke arah yg lebih baik dalam urusan public transport Indonesia, khususnya Jakarta. Sekarang ini lalu lintas Jakarta makin menjijikkan karena kapasitas jalan gak semakin bertambah, tapi jumlah kendaraannya bertumbuh terus. Mending kalo pengguna jalan mau diatur, nah ini kebanyakan sih gak tau aturan, gak mau tau, atau pura-pura gak tau (bedanya tipis deh), Jadi lah perjalanan naik mobil sekarang umumnya aku pake misuh-misuh. Tapi untunglah, kalo naik public transport jadi sedikit berkurang misuh-misuh-nya. Hubunganku dengan si bus Lb.Bulus-Senen ini cukup menggambarkan hal itu. 

Jadi ceritanya si Lb.Bulus-Senen ini udah beberapa kali beralih rupa. Aku sendiri berkenalan dengan bus itu sejak SMP, bisa dibilang sejak pertama kali bisa naik bus sendiri. Dulu bentuknya bus Kopaja yang warna putih-ijo tanpa AC itu, trayeknya disebut P20. Aku biasa naik bus itu seminggu sekali pp dari rumah ke kolam renang Lebak Bulus. Jaman dulu sih sepenuh-penuhnya bus Kopaja, rasanya masih bearable. Palingan bete kalo mau turun di halte Madrasah aja. Susah menembus kerumunan penumpang yang berdiri. Itu waktu kelas 1 SMP. 

Ketemu lagi dengan bus itu waktu kelas 3 SMP, waktu itu lokasi sekolahnya di pinggir jalan TB Simatupang, beda dengan kelas 1 dan 2 yang di dekat Pondok Pengayom Satwa, jadi dilewati oleh bus itu. Waktu naik kelas 3 sih senang: "Hore! Sekarang bisa langsung naik P20 itu, sekali aja sampe di halte Madrasah. Gak harus tuker bus di pertigaan Mangga Besar." Itulah harapannya. Kenyataannya? Ternyata P20 itu jarang-jarang lewat! Giliran lewat di depan sekolah, biasanya penuh. Ujung-ujungnya naik bus 2 kali juga deh. 

SMU dan Kuliah gak ketemu sama bus itu. Waktu awal-awal kerja cuman sekali-sekali aja naik bus itu, Nah, akhirnya kembali berhubungan erat dengan bus itu waktu aku kembali kerja di Jakarta, setelah pindah dari Sorong. Ini dia nih.... 

Waktu itu ternyata P20 punya versi upgraded, yaitu P20 AC. Bus dengan trayek yang sama, tapi pake AC dan lewat jalur busway. Pas pertama nyoba untuk pulang dari kantor ke Buncit, lumayan juga. Agak-agak pegel karena berdiri dan penuuuhh pisan, tapi 1 jam aja udah sampe.

Nah lama-lama jadi makin nyebelin aja si P20 AC ini, apalagi kalo udah ketemu temannya sesama P20 AC: kebut-kebutan jreng! Kadang-kadang sampe mengorbankan penumpang. Jadi kapan itu si P20 AC mencoba menyusul kawannya dengan cara keluar dari jalur busway di Kuningan. Hasilnya 1 halte busway jadi terlewat. Padahal ada penumpang mau turun di halte itu. Pas penumpangnya protes, malah dimarahin sama kernetnya. Bikin pengen nabok aja kan?

Selain P20 AC, P20 versi original juga masih ada. Aku biasa naik P20 original ini kalo berangkat kantor, setelah pindah rumah ke Ps Minggu. Biasanya aku ikut Omla sampai ke depan Depkes Kuningan, kalau waktunya masih panjang aku akan naik P20 original ini sampai kantor. Lumayan lah. Kalau naik taksi 40rebu, naik P20 cuma abis 4000.

P20 original gak banyak kebut-kebutan (berdasarkan pengalamanku lho ya). Tapi... dia menyebalkan ketika sampai di stasiun Gondangdia. Umumnya mereka akan mengoper penumpang ke bus di depannya karena pengen ngetem untuk menampung penumpang yang turun KRL. Huuuhh.... yang ada lari-lari di gang senggol Gondangdia yang penuh banget itu deh.... Udah gitu bus tujuan pengoperan itu umumnya penuh dengan orang-orang turun KRL, jadi pasti fully loaded (pake banget).

Naik bus Kopaja versi original ataupun yang AC itu banyak pengen ngomel, karena:
1) Sekali-sekali ada tukang ngamen ataupun minta sumbangan, ada yang setengah malak.
2) Suka musuhan sama temannya, jadinya kebut-kebutan deh.
3) Kalo lagi baikan sama temannya, mereka suka saling mengoper penumpang. Kadang-kadang dengan skema yang merugikan penumpang => duit yang dibalikin cuma 1/2 full fare, terus di bus berikutnya ditagihin full fare.
4) Berhenti di sembarang tempat, saking seringnya berhenti akhirnya gak nyampe-nyampe.
5) Selain sembarang titik, berhentinya juga sering di jalur kanan, jadi penumpang yang turun mesti bersaing sama sepeda motor dan mobil yang lewat di sebelah kirinya si bus.
6) pokoknya penumpang itu gak dianggap sebagai konsumen deh! (dimana konsumen adalah raja).

Alkisah di pertengahan bulan Januari 2016, si P20 AC tiba-tiba menghilang selama beberapa minggu. Gak lama kemudian muncul trayek TransJakarta Lb.Bulus-Senen dengan bus-bus mini P20 AC yang sudah dicat ulang dan diatur ulang interiornya. Sistem penggajian krunya tidak menggunakan sistem setoran, melainkan menggunakan sistem yang sama dengan bus-bus TransJakarta lainnya. Supirnya sebagian ada yang eks supir P20 AC yang sudah diseleksi.

Naik bus TransJakarta baru itu ternyata menyenangkan, meskipun dalam keadaan penuh. Karena kernetnya sopan, helpful, dan punya otoritas untuk menegur kalo ada penumpang rese yang meresahkan penumpang lain. Terus supirnya gak ngebut kayak dikejar setan. Plus gak ada pengamen ataupun yang tiba-tiba minta sumbangan. Plus gak berhenti di sembarang tempat pula, jadi relatif lebih cepat sampai ke tujuan.

Saking senengnya naik bus baru itu, sampe-sampe waktu berangkat ke kantor naik taksi, kejadiannya seperti ini: awalnya berencana naik taksi ke kantor Omla, ngedrop Omla, terus lanjut ke kantor pake taksi yang sama. Di tengah jalan ngeliat banyak bus TransJakarta Lb.Bulus-Senen, akhirnya minta diturunin di halte Depkes sama supir taksinya, dan buru-buru lari ke halte biar kebagian bus TransJakarta arah Senen itu.

Yah begitu lah.... rasanya terharu juga, ternyata bisa juga aku seneng naik bus di Jakarta. Semoga perbaikan seperti ini gak hanya terjadi di sarana transportasi umum, tapi juga terjadi di bidang-bidang lainnya dan di seluruh Indonesia juga. Biar makin betah (dan bangga) jadi warga Indonesia!

Wednesday, August 19, 2015

Catatan Perjalanan Terkini

Udah lama gak apdet blog... hahahah....

Akhirnya ini baru saja menyelesaikan catatan perjalanan ke Middle Earth. Perjalanannya sih hanya 12 hari tapi nulis reportnya sampe 1 tahun lebih. Silakan dicheck di Catatan Perjalanan Gita ya....

Tuesday, December 09, 2014

Lagunya Billy Boyd

Siapa itu Billy Boyd? Yang suka film Lord of The Rings mengenalnya sebagai Pippin. Si Billy Boyd ini baru saja mendapatkan tugas untuk jadi penyanyi theme song-nya film The Hobbit yang terbaru. Judulnya The Last Goodbye. Dari judulnya, lagu ini punya setidaknya 2 maksud: 
1) the last goodbye dari Bilbo kepada para Dwarves, rekan-rekan perjalanannya dari Shire ke Erebor.
2) the last goodbye dari groupnya Peter Jackson untuk para penggemar Middle Earth. 

Buat aku, setelah mendengarkan lagu: lirik, melodi, dan harmoninya, lagu ini adalah tentang perjalanan. Semakin sering mendengarkan lagu ini, yang terbayang adalah perjalanan menyusuri alam pegunungan New Zealand, yaa... menjelajahi the beauty of Middle Earth as represented in Peter Jackson's LOTR and The Hobbit movies.  

The road is now calling
And I must away

Ini emang tentang perjalanan. Buat Bilbo: perjalanan pulang dari Erebor ke Shire. Buat aku: perjalanan menjelajahi "Middle Earth".

Over hill and under tree
Through lands where never light has shone
By silver streams that run down to the sea

Under cloud beneath the stars
Over snow and winter’s morn
I turn at last to paths that lead home

Buat Bilbo: ini menggambarkan perjalanan dia dari Shire ke Erebor and vice versa. Over hill : lewat Misty Mountain, under tree : lewat Mirkwood, dst. Lagipula liriknya ini disadur dari puisi Roads Go Ever On and On yang ada di buku The Hobbit.

Buat aku: masih juga tentang our NZ Trip. Over hill: Haast Pass yang mengingatkan sama Caradhras Pass, under tree: Aspiring National Park!, through lands where never light has shone: Queenstown katanya si Flip posisinya gak bagus jadi jarang kena matahari, by silver streams that run down: Haast River, Kawarau Gorge, dst.

Buat tim-nya Peter Jackson: pasti mereka menjelajah NZ dengan jauh lebih seru dibandingkan aku!!

And though where the road then takes me, I cannot tell

Buat Bilbo: iya bener kayak gitu. 
Buat aku: yaa gak gitu juga sih.... kan udah ada GPS. Haha!! 

We came all this way but now comes the day
To bid you farewell

Buat Bilbo, buat aku, buat semua: Setiap perjalanan kan pasti akhirnya pulang kan?

Many places I have been
Many sorrows I have seen
But I don’t regret nor will I forget
All who took that road with me

Yups! Pastinya gitu sih. Bilbo pasti gak nyesel mendampingi para Dwarves dalam perjalanan mereka, gak nyesel telah melakukan the unexpected journey.


Begitu juga dengan aku, sejauh ini bahkan gak nyesel udah dapat pengalaman Haast Pass yang gak bisa dilewati, gak nyesel ngalamin as patah waktu ke Mt.Sunday. Waktu habis kejadian Haast Pass sih sempet nyesel kenapa kok gak bisa ke Milford. Tapi sekarang sih udah enggak lagi. Pengalaman mirip Caradhras itu malah jadi sesuatu yang unik dan bikin empati pada Fellowship of the Ring, dan tentu saja: membuat jadi ada alasan untuk kembali ke NZ!

Itu dari sisi lirik ya...

Dari sisi melodi dan harmoni, di beberapa bagian emang kerasa kalau ini tentang perpisahan (ketika musiknya minor), tapi perpisahan yang dilakukan dengan bahagia, dengan diiringi doa restu dari pihak-pihak yang berpisah (kalimat-kalimatnya berakhir di major chord). Ya seperti itulah yang terjadi di dalam buku. Bilbo berpisah dengan Dwarves, Bilbo berpisah dengan Elvenking.  Selalu diiringi dengan blessing.

Kadang kalau inget ini theme song buat film terakhir The Hobbit jadi pengen nangis, tapi di sisi lain ada hal-hal yang bikin bahagia juga, misal ketika akhirnya film yang udah ditunggu-tunggu selama setahun rilis juga. Seperti halnya ketika kita dalam perjalanan, di satu titik kita sedih harus meninggalkan perjalanan itu, tapi juga senang karena udah kangen rumah, dan berakhir dengan pulang sambil senyum-senyum sendiri. Itulah kerennya lagu ini, bisa mencampur aduk perasaan pendengarnya yang mau memahami isinya.

Mari kita menunggu filmnya main di bioskop. Penantian setahun ini cukup menyenangkan, apalagi diisi dengan trip ke "Middle Earth", membuat jadi gak hanya bisa menonton filmnya, tapi juga ikut "mengalami" filmnya. Tempat-tempat yang ada di dalam film juga jadi terasa lebih nyata, bisa membayangkan baunya, udaranya, yah gitu deh. Dan aku bersyukur karena mendapat kesempatan untuk melakukan trip tersebut. Semoga bisa dapat kesempatan lagi untuk ke sana.

Selamat menikmati lagunya, filmnya, dan.... ternyata aku masih utang catatan perjalanan. Hehehe... Namarie.... :)

Monday, December 08, 2014

The Geeks

Aku dan Omla ketemu di sebuah Data Center. Yaah... sebenernya sih kenalan pertama di ruang rapat, tapi bener-bener mulai kenal satu sama lain yang aku inget sih di ruang NOC sebuah Data Center. Karena tempat ketemu-nya aja udah geeky, jadi wajar aja 2 manusia yang saling bertemu juga geek. Tepatnya Star Trek Geek ketemu Tolkien Geek.

Suatu hari si Star Trek Geek ikut jadi Tolkien Geek gara-gara proses persiapan, realisasi, dan dokumentasi trip impian penggemar Lord of The Rings. Mulai lah ada pembicaraan-pembicaraan aneh.

Tentang Lembas Bread KW-KW
Pulang dari Jogja, kami membawa sebungkus roti khas dari Pasar Imogiri. Yah setidaknya aku pikir roti tersebut belinya di pasar Imogiri, karena sudah beberapa kali ke Jogja roti yang seperti itu dapatnya dari bude yang tinggal di Imogiri.

Roti ini beda dengan roti-roti yang aku jumpai di Jakarta ataupun di kancah internasional. Rasanya agak manis seperti bolu, teksturnya gak terlalu lembut dan agak bantet (tapi gak sekeras rotinya orang Eropa), remahnya gampang sekali berceceran, permukaannya gak mengkilap. Sekilas memandang, aku jadi ingat sama Lembas Bread yang di LOTR. Jadi aku menyebutnya Lembas Bread KW-KW.

Sehari setelah dari Jogja, jalanan di sekitaran kantor macet total, akibatnya Omla bakal kesulitan untuk mencapai kantorku untuk urusan jemput-menjemput. Jadi aku putuskan untuk jalan kaki dari gambir ke bioskop Metropole.

Sebelum jalan kaki, aku makan dulu roti Lembas KW-KW itu. Terus jalan kaki deh. Ternyata.... sampe di depan gereja Immanuel, ada P20 lewat... terus lalu lintasnya gak terlalu macet seperti yang dibayangkan. Hmmm.... akhirnya aku naik. turun di dekat stasiun Cikini. Habis itu jalan kaki sampai ke Carrefour Cikini (cuman 100-150 meter sajah). Belanja sebentar, terus lanjut jalan kaki lagi ke Metropole. Sampai di Metropole terus masuk Starbuck. Beli Vanilla-Rooibos dulu. Setelah itu pulang naik mobil.

Otw pulang, baru deh mikir... membandingkan pengalaman barusan dengan pengalamannya Frodo-and-Sam jalan kaki dari Amon Hen ke Mordor. Mereka cuman bawa sangu beberapa potong Lembas dari Lothlorien, tapi kuat untuk berminggu-minggu jalan kaki sampai ke kawah Mt.Doom. Padahal sekali makan cuman segigit kecil aja. Jadilah aku ngomong gini: "Sepertinya aku belum bisa jadi anggota Fellowship of The Ring... dah makan Lembas Bread KW-KW 1 potong gede tapi tetep aja jalan dari Gambir sampe Metropole harus dibantu sama P20. Habis itu pake pitstop di Starbak pula! Mana ada Starbak di deket Mordor..."

Gimana Kalau The Three Hunters Sering "Pitstop"? 
Setelah mulai rajin olahraga lagi, metabolisme fisikku kembali ke jaman lebih muda dulu. Akibatnya adalah aku harus menuntaskan urusan panggilan alam sebelum pergi-pergi, kalau enggak dalam perjalanan terpaksa harus masuk pitstop untuk menunaikan panggilan alam.

Suatu hari dalam sebuah perjalanan, baru saja aku selesai melakukan pitstop, Omla bilang: "Wah gimana bisa jadi anggota Fellowship of The Ring kalau dikit-dikit pitstop..."

Aku: "Hmm... ngomong-ngomong, itu The Three Hunters waktu ngejar Orcs, masa' gak butuh pitstop sih? Tapi kalo pitstop nanti ketinggalan jauh ya?" (dalam bayanganku, kalau Frodo-and-Sam sih bisa pitstop sesuka hati mereka karena gak sambil ngejar rombongan Orcs, sedangkan Aragorn-Legolas-Gimli kan ngejar Orcs...)

Omla: "Ya mungkin Legolas sama Aragorn mereka suka pitstop juga, kalo pas si Gimli ketinggalan..."

Aku: (terus beneran ngebayangin Legolas dan Aragorn gantian pitstop di semak-semak sambil nungguin Gimli).

Tentang Evenstar Pendant 
Aku punya kalung Evenstar KW-KW. Sering aku pakai, bahkan ketika ke kantor. Suatu hari kami jalan-jalan ke mall, terus masuk ke counter gadget merk ternama. Mbak-mbak SPG yang di counter tersebut tiba-tiba bertanya:

SPG: saya kenal kalungnya mbak. 
Me: uh-huh? 
SPG: Lord of the rings kan? 
Me: iya. (Nyengir) 
SPG: Arwen kan? Berarti ini Aragorn-nya? (Nunjuk Omla)
Me (dalam hati): sebenernya saya Legolas mbak, dan ini Gandalf!

 

Monday, March 10, 2014

Mahiroh!!

Jaman masih sering merasa insecure dulu dan merasa gak pede karena belum punya patjar, aku sering berangan-angan bahwa seorang ksatria/pangeran berkuda putih akan datang untuk membebaskanku dari misery.  Ah tapi jaman sekarang mana ada ksatria berkuda putih, ada juga ksatria bergitar... Pada kenyataannya aku terbebas dengan sendirinya dari perasaan minder dan serba berkekurangan itu sebelum punya patjar, terus setelah itu yang beneran datang bukan ksatria tapi IT engineer, gak naik kuda putih pula. 

Waktu aku ABG, aku mengagumi Data the Android. He's my superhero. Kurang apa coba... Kuat, gak laper-laper, pandai, lincah, punya kecepatan super untuk segala hal, polos. Waktu itu sih mikirnya kayaknya asik kalau punya guardian seperti Data. Semua pasti terasa aman jaya... Sepasukan Borg aja bisa dilempar-lempar oleh Data kayak ngelempar bantal-guling. 

Sekarang aku punya idola baru: The elven warrior of Fellowship of The Ring. Di postingan sebelumnya sudah aku sebutkan apa yang aku idolakan dari Legolas. Aku pengen jadi seperti dia. Tapi setelah aku pikir-pikir, Legolas ini sebenernya mirip dengan tokoh ksatria berkuda putih. Karena dia kan Prince of Mirkwood, terus kuda-nya yang bernama Arod emang warna putih. 

Selain 3 fakta di atas yang berbicara tentang tokoh superhero idola, aku punya 1 kecenderungan yang jika digabungkan dengan 3 fakta tersebut akan menghasilkan kejadian hari Sabtu siang kemarin. Entah bagaimana aku cenderung untuk mengalami kejadian-kejadian yang comical. Maksudnya adalah kejadian yang banyak terjadi di comic atau di film comedy dan cukup absurd untuk dialami di dunia nyata. Dari mulai kecebur got, nabrak pintu MM UGM, entah berapa kali jatoh atau nendang sesuatu sampai luka/lebam, dan yang terakhir beberapa minggu lalu adalah kejeblos di raise floor kantor. 

Jadi begini kejadiannya... 

Sabtu, 8 Maret 2014, Mal Kota Kasablanka
Siang itu Omla harus ke kantor, daripada bengong aku minta di-drop di Kota Kasablanka, sekalian mau sowan ke Cotton On untuk menambah persediaan kostum olahraga diskonan. Aku sampe jam 10 kurang dikit, nunggu mallnya buka dulu. Setelah aku berkunjung ke Cotton On, Informa, Carrefour, dan Ace Hardware, Omla nyusul. 

Omla pengen window shopping di Ace Hardware sebentar, kemudian ngajak untuk ke Informa lagi di Lantai 3 untuk nukerin kartu member Informa. Waktu Omla lagi ke Informa, aku memutuskan untuk muter-muter di Lantai 3. Di dekat Disc Tarra, aku ketemu dengan kereta mainan. Seperti Choo-Choo-Train (atau apapun namanya itu) yang di Grand Indonesia, tapi lebih kecil dan terlihat lebih ringkih. Aku melihat ada yang aneh dengan kereta di Kokas itu: 1) kok gak ada "masinis"nya? trus gimana bisa tauk kalo ada rintangan di depan? apa sudah pake artificial intelligence? atau pake remote control? 2) kenapa kereta ini gak bunyi tuut-tuut-tuuuutt kayak kereta yang di GI atau Pejaten Village. Terus orang gimana tauknya kalo kereta itu mau lewat? Aku gak sempat berpikir terlalu panjang, karena Omla terus telpon, urusan di Informa sudah selesai. Aku pun balik ke dekat Informa. Setelah itu kami makan siang di Eat&Eat. 
 
Selesai makan, kami mau langsung pulang. Omla antre dulu di kasir Eat&Eat yang di sebrang Informa untuk refund kartu prabayarnya Eat&Eat. Aku nunggu di depan kios makanan bali-nya Eat&Eat sambil mainan HP. 

Nah... kemudian terjadilah peristiwa itu... 

Lagi-lagi asik-asik mainan HP, the next thing I knew I was sprawling face-down on the floor. Trus kaki kananku sakit dan gak bisa bergerak. Aku gak langsung sadar apa yang terjadi. Ketika aku nengok ke belakang... there it was: kereta mainan yang tadi aku pertanyakan safety-nya!! Rupanya aku ditabrak oleh kereta itu dari belakang, terus telapak kakiku kejepit di bawah kereta itu. Aku panik karena gak bisa membebaskan kakiku dari bawah kereta. 

Lagi tengah-tengah panik gitu, sekelebat aku lihat ada yang lari ke dekatku dari arah depan, waktu aku nengok balik ke depan... ternyata ada pria yang berusaha mendorong lokomotif itu menjauh dari kakiku. Trus tauk gak apa yang ada dalam pikiranku waktu itu? "WOW... There he is!! The knight on the white horse! Finally he comes! He saves me! MAHIIIRROOHH!!". I even half-expected that his white horse was mounted near the Eat&Eat cashier... 

Kakiku akhirnya bisa lepas dari bawah lokomotif. Terus ketika pangeran superhero tadi menolongku untuk berdiri, aku akhirnya melihat wajahnya. Siapakah dia? Cmd. Data? Legolas Thranduilion? Hahaha... ternyata the one and only: OMLA!! Huahahaha.... Kecewa gak? Kaget sih iya... karena ternyata bukan superhero beneran, hahaha... tapi tidak mengecewakan.... hahaha... at least, for me he's good enough to replace Cmd. Data or Legolas Thranduilion. 

Aku berdiri sambil masih gemetar, setengah karena kaget, setengah lagi karena sakit. Sepertinya minimal kakiku baret-baret dan bakalan lebam-lebam. Khawatirnya karena tadi posisinya aneh bakalan terkilir juga. Tapi saat itu sih bisa langsung berdiri dan bertumpu di kaki yang sakit itu. Meskipun gak enak. Setelah 5 menit barulah gemetarnya hilang. Saat itu kami udah ngantri lagi di cashier Eat&Eat untuk meneruskan proses refund. Gak kepikir untuk complain ke pengelola mall, karena waktu itu emang pengen cepet2 pergi ada urusan lain yang lebih menyenangkan. 

Dari lantai 3, kami langsung ke parkiran. Dan tau gak? Ternyata Omla lupa mobilnya diparkir dimana. Ouch! Tuh kan, itu juga hal lain yang absurd. Okee... jadi dengan kaki sakit, kami harus jalan keliling parkiran nih? Untungnya di mobilku ada tanda parkir kantor yang warna kuning gonjreng. Secara ajaib setelah gak berhasil menemukan mobil ketika jalan ke satu arah, aku bisa melihat tanda parkir gonjreng itu dari jarak jauh. Wow... jadi aku punya penglihatan setajam elf nih sekarang? Hihihi... 

Kami pun meneruskan perjalanan, terus pulang ke Buncit. Karena takut tadi sempat terkilir, sampe Buncit aku langsung rendam kaki yang luka dengan air es. Arrrggghhh... udah pasti sakit banget apalagi di bagian luka baretnya. Tapi setelah agak lama, akhirnya disimpulkan bahwa aku gak terkilir, tapi hanya baret dan lebam agak luas, sehingga gak perlu downtime seperti halnya kalo keseleo. 

Waktu habis terjadi, pastinya sebel banget. Tapi sorenya aku mulai ketawa-ketawa sendiri kalo inget. Bukan ngetawain ketabraknya (fakta ini tetep nyebelin), tapi ngetawain reaksiku ketika melihat ada yang berusaha menolong. Wong lagi dalam kondisi distress gitu, malah ngebayangin lagi diselametin sama superhero. Hahaha... hahaha... 

On a more serious note, I'm glad that the one who I imagined as my knight-on-the-white-horse turns out to be the man I choose to spend my life with, meskipun kuda putihnya diganti dengan avanza hitam yang gak ingat diparkir dimana.... 

*Mahiroh = My Hero dalam bahasa anak PSM-ITB, thanks to mas Abi-senior di PSM-ITB. 

 




Friday, February 14, 2014

Elf, Cave Troll, dan Latihan Betis

Sudah 3 hari, gaya jalanku kayak Cave Troll...

Cave Troll itu salah satu jenis makhluk hidup di novel Lord of The Rings... Kalau mau lebih jelas gimana penampakannya, bisa lihat di sini. Yes, setelah 20 tahun sukses jadi Trekker dan berkecimpung di abad 24, sekarang dengan suksesnya terjerat juga oleh dunia Middle-Earth-nya J.R.R Tolkien. 

Dari Tolkien, mari kita beranjak sejenak ke olahraga baruku: Pilates. Waktu bulan September tahun lalu aku ditanya sama Rani (guru Pilates-ku): kenapa pengen belajar pilates? Jawabanku adalah pengen mengembalikan fleksibilitas jaman muda biar gak cepet cedera dan pengen jadi sedikit lebih kecil di bagian pinggul. Yaa... tahun 2008 aku pake jeans ukuran 27, tahun 2013 aku pakai ukuran 30. 

Nah, balik ke Tolkien lagi. Setelah menjadi penggemar Tolkien, dan menonton rangkaian film Lord of The Rings-nya Peter Jackson yang Extended Edition, tujuanku untuk olahraga menjadi lebih "terarah". Sekarang aku pengen jadi seperti Elf!! Bukan jadi Elf yang cantik dan anggun seperti Arwen (dia agak montok sih sebenernya), tapi pengen jadi seperti Legolas... hahaha... ini beneran... 

Why him? Sebenarnya aku sudah tertarik dengan Legolas sejak tahun 2001, tapi karena waktu itu gak paham ceritanya The Fellowship of the Ring, dan gak punya seseorang yang bisa dijadikan narasumber, jadi aku gak mendalami Lord of The Rings, bahkan gak nonton The Two Towers dan Return of the King di tahun-tahun berikutnya. Jadi Legolas pun terlupakan.

Dan 12 tahun kemudian, aku menghabiskan malam Natal untuk menemani Omla menonton The Hobbit: Desolution of Smaug. He's a fan of Lord of The Rings. Dan di film Smaug itu, ada Legolas Banyak yang aku gak ngerti di film Smaug, bedanya adalah kali ini aku bisa tanya sepuasnya. Jadi aku memutuskan untuk membaca novel The Hobbit dan Lord of The Rings. Kemudian menonton Theatrical Edition-nya Lord of The Rings series dan The Hobbit: The Unexpected Journey. Masih gak puas juga, ditambah dengan Extended Edition-nya Lord of The Rings series. Ternyata emang menarik...

Di antara 9 anggota Fellowship of The Ring, yang paling bisa dijadikan panutan (buat aku) adalah Legolas. Beberapa kata yang menggambarkan Legolas: graceful, lean, long, strong, agile and flexible. Dia bergerak secara anggun (kayak penari balet), tapi gak kemayu, larinya aja anggun... Trus badannya tinggi dan langsing, kuat (yeah... he's an elven warrior!), gerakannya lincah dan flexible. Buktinya bisa diliat di barrel scene-nya Desolation of Smaug atau Oliphaunt Kill-nya Return of the King, atau Shield Surfing at Helm's Deep-nya The Two Towers, atau loncatan di Khazad-Dum -- it looked like grand jete!

Jadi aku menobatkan Legolas sebagai role model dalam berolahraga, karena goal-nya adalah pengen jadi lebih anggun, langsing, kuat, lincah, dan fleksibel. Sayangnya untuk jadi Legolas, kadang harus melewati masa-masa jadi Cave Troll dulu....

Hehe... ceritanya 4 hari yang lalu aku mencoba gerakan baru. It was quite simple actually... Calves Exercise (yaa... I always have "problem" with my calves)... just raising heels while carrying a couple of dumbbells. Tapi diulang sampai total 5 menit. Setelah selesai latihan sih baik-baik aja, malahan habis itu masih jalan-jalan ke Kota Kasablanka.

Sehari kemudian... baru deh kena DOMS alias Delayed Onset Muscle Soreness di bagian betis... sakit otot yang disebabkan oleh otot tersebut jarang digunakan sebelumnya. Walhasil jadi gak bisa jalan lurus tanpa kesakitan. Jadilah... jalan dengan gaya cave troll. Lambat, badan miring-miring agak bungkuk karena nahan sakit, dan kaki ditekuk terus. Gak anggun sama sekali.

Katanya Beauty is Pain. Ternyata pepatah itu gak hanya berlaku untuk prosedur yang terjadi di dokter kulit (atau dokter gigi), tapi juga terjadi di dunia olahraga. Tapi badai pasti berlalu... Selama yg kita lakukan sesuai dengan petunjuk, besar peluangnya untuk hasil yang setimpal. Jalani saja masa-masa Cave Troll ini... karena setelah berusaha beberapa bulan, Legolas sudah mulai terlihat dadah-dadah di depan sana. Aku sudah bisa pakai celana jeans yg kubeli tahun 2005, ukurannya 28. Aku sudah bisa melakukan split lagi meskipun baru sebelah kanan aja (artinya: better flexibility). Dan sudah gak mudah capek lagi (stronger). A few more inches to go... :-D



Friday, October 18, 2013

Belajar Pilates

Sejak kecil (gak sejak bayi sih), aku selalu punya body yang krempeng atau skinny (okeh, kecuali betis ya). Mau makan siang 3 piring pun gak akan ngaruh ke timbangan atau ukuran celana. Memasuki umur kepala 3, ceritanya berubah. Ukuran celana sudah naik 2 nomor dibandingkan 3-4 tahun lalu, diperkirakan sih karena : 1) metabolisme melambat, 2) berhenti beraktivitas fisik yang heboh. Atau sebenernya yang kedua juga ikut bersumbangsih untuk menyebabkan yang pertama ya?

Udah gitu, ditambah lagi waktu libur Lebaran, aku nyoba main bebaletan di pagar pembatas ruang rapat kantornya Omla (mumpung kosong bok), hasilnya? KRAM JAYA!! Udah less flexible banget dibandingkan 10 taun laluh... Jadi harus melakukan sesuatu nih! Kalo gak dilatih berpotensi menimbulkan cedera-cedera yang gak perlu, karena melakukan gerakan-gerakan yang "dulu bisa, tapi sekarang udah kaku".

Akhirnya nyari olahraga apa yang bisa melatih fleksibilitas... Hmm... kebanyakan artikel tentang ballet menunjuk ke PILATES. Selain melatih fleksibilitas, bonusnya adalah anggota badan jadi lebih kencang. Waaaa.... cocok nih sama kakiku yang ukurannya udah melar. Tujuan akhirnya sih bisa makek celana-celana lama lagi. Atau paling gak makek celana baru yang terlanjur dibeli via online tapi pas nyampe di rumah ternyata ketat.

Setelah survey sana-sini, dengan mempertimbangkan harga, jarak, dan review di internet, akhirnya aku memilih belajar pilates dengan Rani. Selengkapnya tentang Rani bisa dilihat di www.pilatesid.com.

Nah, sekarang aku mau cerita tentang pengalaman ber-pilates. Sejauh ini sih aku baru 6 kali latihan dari paket 10 kali latihan. Karena pertimbangan jadwal, latihan dilakukan seminggu sekali setiap sabtu.

Kalau melihat di video dan foto-foto tentang Pilates di Internet, kayaknya gak terlalu berat. ya iyalah, model atau instrukturnya udah jago pastinya, jadi gak keliatan ngoyo atau pegel. Ternyata, di pertemuan pertama, baru kerasa kalo pilates tuh berat. Melakukan gerakan kayak developpe-nya ballet yang dulu cukup simple, ternyata sekarang berat, padahal udah gak mikirin kakinya mesti "turned out" tuh... Bahkan gerakan jinjit2 kayak releve-nya ballet itu aja ternyata bisa bikin betis panas. Selesai latian selama 1 jam, baju basah semua.

Tapi yang lebih "seru" justru setelah latian selesai. Sehari kemudian dari pinggang ke bawah sakit semua. Jalannya jadi kayak orang abis sunatan. Dan paling menderita kalo naik turun tangga, padahal untuk mencapai ruang kerjaku di kantor, harus turun tangga 2 lantai, terus untuk keluar harus naik tangga lagi. Sempet merasa... wah, kapok nih ikut pilates, padahal udah bayar jaya buat 10 sesi. Gimana sabtu depan bisa latian lagi kalo sakit begini...

Ternyata.... hari kamis sakitnya hilang. Sabtu depannya latian lagi. Terus Minggu-nya sakit kaki lagi. Tapi Rabunya sudah hilang. Lama-lama sakitnya tambah sebentar, malah di beberapa bagian sudah gak sakit lagi. Kira-kira di pertemuan ke-5, aku sudah gak nyesel lagi ikutan pilates, malahan pengen lagi dan lagi, meskipun capek (iya lah, olahraga ya pasti capek).

Hasilnya? Ya belum terlalu keliatan sih, karena konon kata pak Joseph Pilates, hasilnya baru keliatan setelah 10 kali, tapi setidaknya Tenun Bermuda Pants-nya Cotton Ink yang dulu susah masuk, sehingga awalnya belum pernah aku pakai sama sekali, sekarang sudah bisa aku pakai kemana-mana dengan nyaman.

Terus waktu di rumah, aku coba buat roll over, ternyata bisa tanpa harus mendapatkan bantuan tangan (untuk ndorong pantat yang berat). Berarti fleksibilitas udah lebih baik. Kesimpulannya: It works!

Jadi sodara-sodara, jangan ragu-ragu kalau mau coba pilates. Awalnya emang agak berat, tapi lama-lama bakal ketagihan lho....