Oret-oretan KITA!
Pemusik Amatir. Dulunya Hobi Menari. Senang Jalan-jalan. Tukang Tidur. Trekkies. Dan Lain-Lain.
Wednesday, February 08, 2012
Tips Bepergian Dengan Bawaan Minimal
Enggak laah... waktu di Prabu, namanya dinas itu palingan cuman ke Jakarta. Jadi yang kulakukan adalah: gak bawa apa-apa selain laptop, kan di Jakarta punya baju. Dinas ke Bandung juga gitu... cuman bawa baju kerja aja, soalnya di Bandung ada banyak baju rumah. Kalo ke kota lain? Aku gak pernah "travelling light", bawa koper gelinding aja, terus masukin ke bagasi.
Tapi setelah di Sorong, lain ceritanya. Masukin barang ke bagasi pesawat itu adalah suatu proses yang kurang menyenangkan. Ketika tiba di Sorong, kita harus menunggu lama dan sumuk untuk mendapatkan barang kita, ditambah lagi ada resiko barangnya terbawa ke Manokwari atau Jayapura.
Terus konon kabarnya, bandara Hasanuddin adalah bandara paling semena-mena dalam urusan memperlakukan bagasi. Padahal bandara itu termasuk yang paling sering kusinggahi sekarang. Kalo mau ke Balikpapan, harus lewat Makassar dulu kan? Jadi kalo gak bawa sesuatu yang besar atau berat banget (misal: 2 lusin tuna kaleng, atau baju untuk kebutuhan berhari-hari dan multi-acara), lebih baik gak masukin barang ke bagasi.
Dalam kunjungan 6 hari 5 malam ke Makassar kemarin, aku berhasil mendapatkan pola barang bawaan yang lumayan ringkas. Begini tips dan trik-nya:
Untuk perjalanan dinas 6 hari, cukup bawa 3 pcs atasan untuk kerja, 2 pcs celana panjang kerja, 3-4 pcs kaos (kalo bisa polo shirt), 2 pcs daster,dan 1 sepatu crocs warna hitam. Oya, jangan lupa baju dalam secukupnya. Pastikan baju kerja terbuat dari bahan yang "anti kusut", atau paling nggak "kalopun kusut bisa gak keliatan kusut".
Untuk pagi dan siang hari, tentu memakai baju atasan dan celana panjang kerja. Untuk baju atasannya dicuci tiap hari dengan fasilitas laundry, sedangkan celananya 2 hari sekali. Sebenernya sih bisa aja celananya sehari sekali dicuci dengan laundry, tapi kalo aku kurang pede.
Untuk sore dan malam hari memakai celana panjang kerja + polo shirt. Kenapa polo shirt? Takutnya ada undangan makan malam dari tuan rumah. Kalo budaya di kantorku sih, yang namanya polo shirt cukup pantas digunakan untuk acara tersebut. Kalo ada acara formal, nah itu ceritanya lain... sebaiknya bawa koper aja, hehehe... kecuali kalo punya dress yang anti kusut dan bisa dilipat jadi ringkas. Tapi formal dinner sangat jarang dilakukan di kantorku. At least di bagianku.
Untuk pagi, siang, sore, malam... pakenya sepatu crocs terus. Pilih sepatu crocs dengan model yang paling formal dan warna yang netral. Kalo aku pilih Lily Hitam (*bukan jualan*). Jangan lupa rajin membersihkannya pagi-pagi sebelum ke kantor. Sepatu crocs warna hitam itu gampang kumal. Tapi untungnya bersihinnya juga gampang. Bisa pake lap basah (kalo super kotor), atau dengan spons/lap sepatu yang biasanya disediakan di hotel bintang 3-5. Gosok dikit, langsung kinclong kok.
Kenapa crocs? Aku milih crocs untuk bahan dan kenyamanannya. Kalo bahan sih... yah untuk antisipasi aja... takutnya keujanan atau gimana gitu... kalau pake sepatu kain/kulit, kan repot mengeringkannya. Nah, kalo kenyamanannya... bayangkan kalo kita pergi dinas, pastinya gak cuman muter-muter di seputaran hotel dan kantor kan, paling gak... pasti pengen juga jalan-jalan ke tempat lain, entah itu mall (aku ini kan orang Sorong yang haus mall), tempat wisata (kuliner), atau sekedar sight-seeing.
Untuk perlengkapan mandi, aku biasanya hanya membawa sikat gigi lipat dan pasta gigi. Untuk sabun dan sampo pakai jatah dari hotel saja. Kalau kosmetik, nah ini yang agak banyak menyita tempat di dalam tas. Intinya sih bawa yang seringkas-ringkasnya tapi tetep memperhitungkan kebutuhan untuk perawatan dan juga make up. Aku sendiri gak terlalu "minimalis" kalo untuk urusan kosmetik.
Untuk bepergian dengan pesawat, biasanya kita bakalan kedinginan (AC-nya kan dindin badindin). Kalo bawa jaket, bakalan menuh-menuhin tas, terus pas udah di luar pesawat gak kepake lagi. Untungnya kaum wanita punya solusi pengganti jaket: syal, pashmina, atau apapun namanya itu yang bisa berfungsi sebagai selimut mini dan bisa dilipat jadi ringkas.
Last but not least: gadget. Kalo gadgetnya sendiri (kecuali laptop) gak terlalu makan tempat. Yang biasanya makan tempat itu chargernya. Nah, kalo ada charger yang multifungsi, akan lebih baik lagi. Kalo aku sih masih membawa charger-charger yang original dibuntel dalam 1 tas kosmetik.
Kemudian semua barang tadi dikemas dalam 1 ransel 2-in-1 (maksudnya dia bisa berfungsi sebagai ransel, tapi bisa juga digelindingkan seperti koper) dan 1 hand-bag Ciciero. Pulang dari Makassar masih bisa menyelipkan oleh-oleh abon tuna 1/4 kg, minyak cap beruang 250ml, balsem tawon (1 doang sih), sarung sutra murahan, dan seperangkat skin care bodyshop rasa tea tree oil ke dalam ransel 2-in-1.
Intinya mah... sebagai perempuan yang pergi-pergi sendiri, kalo bisa diusahakan untuk tidak membawa barang bawaan yang kita gak mampu untuk bawa sendiri ke dalam cabin. Kalo ada yang dirasa merepotkan... ya masukin bagasi aja. Kalo gak mau masukin bagasi, ya jangan bawa barang banyak-banyak. Mudah kan?
Tuesday, February 07, 2012
SOQ-BPN dengan Sriwijaya Air
Tapi realisasinya ternyata berbeda....
Agak mengerikan di pertengahannya, tapi alhamdulillah happy ending...
Kami berangkat dari Sorong jam 12.10 WIT. Untuk ukuran Sorong, itu sudah cukup tepat waktu lho. Perjalanan ke Makassar ditempuh selama 2 jam. Awalnya sih cuacanya baik-baik saja, tapi makin mendekati Sulawesi, makin banyak daerah bercuaca buruk. Waktu sampai di atas Sulawesi, mendungnya benar-benar tebal.... Pemandangannya abu-abu kemanapun mata memandang....
Awalnya sempat khawatir, karena setahu aku di sebelah Timur kota Makassar itu ada pegunungan. Dalam cuaca mendung tebal seperti itu, akankah si pesawat melewati pegunungan tersebut?? Ternyata sepertinya mereka mengambil jalan memutar, lewat laut, karena ketika awannya sedikit tersingkap kami sudah di atas garis pantai Makassar.
Pesawat mulai mengurangi ketinggian. Di atas garis pantai memang tidak ada awan, tapi bandaranya kok gak keliatan sama sekali yaa?? Pesawat melakukan approach untuk mendarat... dia terus turun, turun, dan turun... tapi pemandangan masih abu-abu, abu-abu, dan abu-abu... Jendela pesawat mulai dibasahi oleh uap air dari awan tebal tersebut. Daratan sama sekali nggak kelihatan.... Pesawat mulai bergoyang-goyang laksana bajaj. Akankah si pilot nekat mendaratkan pesawat di tengah mendung yang gak jelas itu??
Tiba-tiba pesawat seperti masuk ke turbulen, anjlok gitu. HIIII!!! Mengerikan!! Tapi kemudian ternyata dia kembali "nge-gas" untuk naik lagi. Si pilot mengumumkan bahwa pesawat akan berputar-putar untuk menunggu cuaca di bandara Makassar menjadi lebih baik. Wedew.... alhamdulilah gak jadi mendarat, tapi mau sampai kapan nunggunya?! Mendungnya setebel itu gitu loh... Kenapa gak mendarat di bandara lain aja yak? Aku mulai menebak-nebak, bandara mana yang paling dekat? Kendari? Palu?
Awalnya memang pesawat itu berputar-putar seperti sedang holding, tapi tidak lama kemudian pesawat itu menambah ketinggian dan lalu mengambil arah menjauhi kota Makassar. Aaahh... sepertinya mau mendarat di bandara lain nih. Tapi dimana? Kira-kira berapa lama? Apakah kami masih sempat mengejar pesawat selanjutnya?
Tak lama, pilot mengumumkan bahwa beliau akan mengalihkan pendaratan pesawatnya ke.... BALIKPAPAN!!!! Hooooreeeee....!!! Yiiiihhhaaaaa....!!!!
Okee... itu cuman dalam hati lho ya. Gak enak sama penumpang lainnya, karena pasti mereka khawatir bercampur bete. Aku juga tadi sempet khawatir bakalan ketinggalan penerbangan Makassar-Balikpapan.
Waktu pesawat sudah masuk ketinggian jelajah lagi, aku pun ke toilet. (udah nahan pipis dari tadiii...). Selesai urusan di toilet, mulai menanyakan ke mbak Pramugari apakah kami boleh turun di Balikpapan, karena kami punya tiket Makassar-Balikpapan, meskipun statusnya belum check-in. Doi berjanji untuk menanyakan ke Pasasi Sriwijaya di darat. Awalnya kayak ragu-ragu gitu si mbaknya, karena kami belum check-in. Tapi dia nyuruh kami nunggu di depan pas turun di Balikpapan nanti.
Mendarat di Balikpapan.... ternyata Balikpapan cerah ceria. Penumpang dipersilakan untuk menunggu di ruang tunggu. Kami disuruh mengikuti mas-mas Pasasi. Dia bilang kami bisa turun, tapi dia minta tiket Makassar-Balikpapan kami.
Kalo menurut aturan penerbangan, kami gak boleh turun di situ harusnya, karena tiket kami Sorong-Makassar, mereka punya kewajiban untuk mengantar kami sampai ke Makassar. Tapi karena kami pegang tiket Makassar-Balikpapan dengan maskapai yang sama, tentunya itu jadi beda kasusnya. Dan sebagai konsumen yang bertanggungjawab dan menghargai aturan dunia penerbangan, tentunya kami harus merelakan tiket Makassar-Balikpapan kami ndak bisa diuangkan meskipun belum dipakai terbang. Toh Sriwijaya sudah mengantar kami ke Balikpapan dengan selamat. Cukup adil kan?
Sampai di bawah tangga pesawat, si mas-mas Pasasi tadi meminta tag bagasi kami. Kemudian.... dia melakukan hal yang gak kebayang susahnya: ngaduk-ngaduk bagasi pesawat. sendirian. mencari bagasi2 kami. HUUUAAAA....!!!! Terharruuu.... Untungnya bagasi kami sudah memakai tag: BALIKPAPAN, jadi mempermudah sedikit pekerjaan dia.
Ndak lama, akhirnya bagasi kami yang 3 biji itu ditemukan. Kami langsung serah terima bagasi di tangga pesawat, kemudian keluar dari airport dengan senyum lebar. Terima kasih Sriwijaya untuk pelayanan yang menyenangkan....
Wednesday, January 11, 2012
Star Trek dan Istri Geek
Ketika sampai ke adegan klimaks (yang Enterprise hampir aja gak bisa melepaskan diri dari daya tarik blackhole setelah berhasil menghancurkan Narada -- pesawatnya si Nero), aku teringat pembicaraan minggu sebelumnya dengan si Omla.
Waktu itu kami nonton film yang sama, adegannya Scotty melepaskan warp core (inti warp), kemudian meledakkannya. Omla tanya: "Itu dia melakukan apa?" Aku jelaskan dengan panjang lebar: "Itu dia meng-eject warp core-nya. Warp core itu yang menjalankan mesin warp. Nah, terus dia meledakkan warp core tadi, dari ledakan itu kapalnya akan kedorong oleh shockwave yang ditimbulkan, sehingga gak jadi jatuh ke lubang hitam."
Si Omla cuma manggut-manggut. Oh yeah!! Aku bisa menjelaskan hal kayak begitu secara lancar...!! Tentu saja, karena trick peledakan warp core itu nggak sekali-dua kali muncul di Star Trek (generasi manapun). Geek ya gue?? Omla, you've got a geeky wife!!
Sebenarnya itu konsekuensi logis sih... Awal pembicaraan kami yang cukup panjang lebar dan "mulai mengarah ke hubungan yang lebih serius" (waktu masih PDKT dulu) terjadi di ruang.... Data Center, tempat yang sangat geeky. Jadi wajar dong ya... kalo nemu cewek geeky di tempat yang geeky.
Pikir-pikir... udah 20 tahun lebih aku jadi trekkie (or trekker? oh, whatever...). Sejak kelas 5 SD... sampe sekarang. Star Trek juga yang (mungkin) ikut menginspirasi aku untuk menyenangi komputer, sehingga punya pekerjaan seperti sekarang ini. Berarti Star Trek ikut mempengaruhi jalan hidupku. Kayak di episode Tapestry-nya Star Trek: The Next Generation lah. Macam reaksi berantai yang saling bertautan gitu.
Star Trek => jadi suka Komputer
Suka komputer => sekolah di Inpormatika
sekolah di Inpormatika => kerja di bagian IT
kerja di bagian IT => kesengsem cowok di Data Center, ehem!
Kesengsem cowok => mau kawin
Mau kawin => dimutasi ke Sorong supaya bisa barengan sama cowok itu.
So here I am: gara-gara suka sama Star Trek, jadi bermukim untuk sementara di Sorong...
Hmmm... jadi kepengen nonton lagi film-film Star Trek yang lama-lama.... :-P
Monday, October 31, 2011
Sepatu
Aku pernah posting tentang sepatu ideal menurut definisiku, 3 tahun lalu. Menurutku, sepatu ideal itu harus memenuhi kriteria model, harga, kenyamanan, durability, dan juga weather-proof. Eh... aku sudah menemukan loh sepatu yang masuk kriteria itu. Bahkan tambah lagi: bisa tahan untuk dipake naik sepeda pulang-pergi ke kantor. Sekarang aku sudah puas banget dengan sepatu itu. Memungkinkan aku untuk pergi dinas dengan hanya memakai (dan membawa) sepasang sepatu tanpa khawatir sepatunya bakalan kena kotor, basah, bikin lecet, dst.
Tapi ya dasar manusia... meskipun sudah cukup puas dengan yang sekarang, aku masih mengharapkan ada sepatu ajaib yang memenuhi 1 kriteria tambahan: buatan Indonesia.
Ha! Sepatu buatan Indonesia sekarang lucu-lucu, enak dipake, harga terjangkau, kuat, cuman sayangnya belum tahan cuaca. Kalo terpaksanya mesti nyemplung ke banjir, huuuaaaaaa.... pasti jadi gak cantik lagi. Ayo para inventor dan desainer sepatu Indonesia, kalian pasti bisa bikin saingannya Cr*cs!
Sunday, October 02, 2011
Buku: Untuk Indonesia Yang Kuat
Buku ini adalah "wake up call" yang bagus. Isinya bisa menyadarkan pembacanya tentang pentingnya menjadi golongan menengah YANG KUAT. Salah satu jalan untuk menjadi kuat itu adalah dengan mempunyai rencana keuangan untuk diri sendiri/keluarga. Punya rencana keuangan itu artinya kita menyiapkan dana darurat, dana pensiun, dana pendidikan, dst. lengkap dengan perlindungannya sesuai kebutuhan masing-masing. Oya, KUAT itu artinya kita selalu mandiri, ndak ngerepotin orang-orang terdekat kita (baik sekarang maupun nanti setelah udah tua), dan malahan mampu untuk membantu orang di sekeliling kita dengan cara yang benar.
Pada saat membaca buku itu pertama kali, aku sendiri sudah punya rencana keuangan yang dibuat oleh temanku yang berprofesi sebagai perencana keuangan, tapi teteeuupp... selesai baca buku Untuk Indonesia Yang Kuat itu, aku merasa tercerahkan. Terutama di bagian membantu orang lain dengan cara yang benar itu dan juga ide untuk memasyarakatkan pengetahuan finansial sehingga orang Indonesia lebih melek finansial.
Yang pertama aku lakukan adalah memikirkan keluarga dan teman-teman terdekatku. Eh ya, mereka udah melek finansial belum ya? Yah... pastinya sih beraneka ragam. Ada yang udah melek, ada yang masih sipit, ada yang masih ayub-ayuban, ada juga yang masih merem. Halah... hahaha... Maksudnya: Ada yang udah sadar bahwa pengelolaan keuangan pribadi tuh penting, tapi nggak tauk harus ngapain. Ada juga yang sadar, tapi masih kurang mendalami, jadi dipikir menabung aja cukup. Ada juga yang ngeluh duitnya kurang, padahal penghasilannya tidak kecil. Macam-macam deh.
Sebagai tanda kasih sayangku pada mereka (jiiiaaahh), rasanya sih pantas kalo aku berkontribusi dalam membuat mereka semakin melek finansial, seberapa pun level pemahaman mereka sekarang perihal pengelolaan duit pribadi ini. Karena aku levelnya juga masih belajar, paling cocok adalah dengan mengajak mereka untuk ikutan belajar juga tentang perencanaan keuangan.
Mengingat lokasiku yang jauh dari mereka-mereka itu, cara paling enak buat ngajakin belajar adalah dengan ngasih "wake up call"-nya. Jadilah bukunya mbak Ligwina Hananto itu aku persembahkan sebagai kado. Alasannya juga macam2: hadiah ultah lah, hadiah lebaran lah.... hahaha... Harapanku sih buku itu bisa membuka wawasan mereka tentang uang menjadi lebih luas.
Buat para pembaca blog yang budiman, buku ini sangat aku rekomendasikan lah. Bahasanya mudah dipahami, contoh-contoh kasusnya juga riil dan banyak terjadi di sekitar kita, dan ditulis secara menarik. Gak bikin bosen deh, aku menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 12 jam loh. Pengetahuan ttg uang itu pasti bermanfaat, karena hampir semua orang menggunakan uang kan? Jadi buruan cari di toko buku.
Btw, aku gak dibayar sama mbak Ligwina loh ya buat nulis posting ini... hahaha... kenal juga kagak. Kalo mau tauk lebih banyak, bisa ngikutin Timeline-nya mbak Ligwina di twitter: @mrshananto (meskipun selalu diwanti-wanti kalo postingannya gak melulu tentang uang) atau masuk ke website perusahaannya: http://www.qmfinancial.com/ . Oya, kalo aku sendiri membuat perencanaan keuangan di: http://www.zapfin.com/ .
Trus, berlanjut nih rekomendasinya, kalo mau beli buku yang lebih murah, coba aja belanja online di http://www.bukukita.com/ atau http://www.eurekabookhouse.com/ . Saya seneng sama pelayanan mereka, dan tentu saja DISKON-nya... hahaha...
Happy reading!
Saturday, September 17, 2011
Ba-Ta-Gor
Dari mulai batagor borju macem kingsley dan riri, batagor aneh macem es teler 77, batagor murmer macem H.Darto Pasar Simpang, sampe batagor mang-mang pikulan yg jaman dulu keliling kampus. Aku suka semua. :D
Dulu aku bercita-cita bahwa kalo aku tinggal di area yang gak jualan batagor, maka aku yang harus jualan batagor di situ!
Batagor itu adalah singkatan dari baso tahu goreng. Di Bandung itu ada makanan yg namanya baso tahu. Dia biasa dijumpai sepiring dengan siomay gitu deh. Jadi tahu putih (atau kuning juga bisa) dikerok sebagian, nah lubang hasil kerokannya itu diisi dengan adonan daging dan tepung (entahlah tepung apa... mungkin terigu, mungkin juga ada campuran kanjinya dikit, biar kenyal), terus dikukus deh. Bedanya dengan siomay, kalo siomay adonan dagingnya hanya dibungkus pake kulit pangsit, gak pake tahu.
Baso tahu dan siomay dimakan pake sambel kacang (plus kentang, plus kol), atau kalo pake kuah namanya jadi cuankie. Nah, sejatinya batagor itu adalah baso tahu yang digoreng. Seringkali dikombinasikan dengan siomay yang digoreng untuk menambah sensasi kriuk-kriuk.
Sekarang kita lihat batagor di kota Sorong. Hari sabtu ini, sambil menunggu Omla main futsal, aku mencoba utk ngemil di Mega Mall Sorong. Aku sudah tau bahwa di situ ada kios yg jual menu batagor, tapi kemarin-kemarin belum sempat mencoba.
Agak takjub juga, karena di kios itu tertulis bahwa siomay dan batagor itu termasuk menu khas manise, sekelompok dengan ikan kuah kuning, papeda, dan mie cakalang.
Aku memesan 1 porsi batagor. Berharap yang keluar minimal kayak batagornya mang-mang pikulan yang jaman dulu makan porsi 2000 rupiah aja udah cukup kenyang.
Ternyata yang keluar adalah: bakso goreng + tahu goreng dipotong-potong, trus disiram pake sambel kacang. Dan herannya lagi gak dikasih jeruk nipis/jeruk purut, padahal katanya menu khas manise... Orang Indonesia Timur, khususnya Sulsel, mirip-mirip sama wong kito Sumsel, kalau makan kudu dikecerin jeruk, biar sedep katanya. Nah, batagor pesenanku ini ga ada jeruknya. Mungkin bisa aja minta, tp ah sutralah...
Secara singkatan, dia gak salah-salah banget sih.... Batagor = bakso dan tahu digoreng. Taste-nya sih lumayan edible... Tp ndak sesuai ekspektasi aja.
Hmm... Jadi mikir... Apakah ini waktu dan tempat yang tepat untuk jualan batagor??
Friday, September 16, 2011
Bayar Pake Permen Ya...
Tapi beberapa tahun kemudian (aku juga nggak inget tepatnya kapan), sempat ada ribut-ribut di media massa soal pemberian permen sebagai uang kembalian ini. Akhirnya supermarket-supermarket itu tidak lagi memberikan permen sebagai kembalian. Mereka memilih untuk membulatkan harga, membulatkan total belanjaan, menyediakan uang pecahan, atau bahkan ada yang mengumpulkannya untuk charity (dan itu tertera pada slip belanjaan yang kita terima sebagai bukti).
Aku masih ingat, jaman tahun 2008, di mini market gedung Standard Chartered, aku adalah pelanggan pertama hari itu. Melakukan pembelanjaan yang kembaliannya melibatkan pecahan 50 rupiah. Hmm... awalnya aku sangsi apakah mereka akan memberikan kembalian pas sesuai hak konsumen, palingan dibulatkan ke pecahan ratusan terdekat. Ternyata dengan ajaibnya si mas-mas kasirnya mengeluarkan seikat uang pecahan 50 rupiah (masih segel dari bank). Woooww... keeerrreeennn... Tapi sorenya aku berkelahi sama penjual tiket busway, karena mereka gak mau terima pecahan 50 rupiah itu untuk membayar tiket TransJakarta-ku, meskipun sudah aku jelasin bahwa itu uang masih baru, tadi pagi juga masih tersegel dari bank. Aku jelasin juga kalo itu sebiji 50 rupiah aku ambil dari tumpukan koin dan uang kertas yang mau aku bayarkan, maka tumpukan koin dan uang kertas itu nilainya jadi 3450 rupiah, bukan 3500. Ngerti kagak seehh...
Nah... ketika di tempat-tempat langganan kami di Jakarta, Bandung, Prabumulih, dan Palembang sudah jarang banget yang ngasih kembalian berupa permen, ketika aku tiba di Sorong, ternyata masih banyak yang ngasih kembalian berupa permen. Gak pake minta maaf pula. Seolah-olah hal itu biasa dan gak merugikan konsumen. Duile... tempat ini ketinggalan berapa tahun ya dari Jakarta??
Ngasih permennya gak tanggung-tanggung pula... bahkan pecahan 500 rupiah pun diganti permen. Padahal pecahan 500 rupiah tuh masih laku buat bayar polisi gopek di perempatan tak berlampu merah kalo di Jakarta. Tadinya aku gak banyak protes, permennya aku kumpulkan, terus aku jadikan "snack" buat tetamu yang berkunjung ke ruangan kerjaku di kantor.
Tapi yang pagi ini agak-agak menyebalkan. Jadi aku memutuskan untuk melakukan "pembalasan". Ceritanya begini:
Jam 8 pagi aku ke supermarket seberang kantorku. Beli susu UHT plain low fat 250 ml seharga Rp.4400,- dan sereal rasa malt ukuran personal seharga Rp.5600,-. Kalo dijumlah jadi Rp.10.000,-, sehingga kalo aku bayar pake pecahan 20rebu, mereka tinggal kembalikan pake selembar pecahan 10rebu rupiah kan?
Tapi apa yang terjadi... waktu aku ke kasir, ternyata sereal rasa malt itu datanya belum di-entri ke komputernya kasir yang itu. Si kasir kasih kode ke temennya untuk melakukan entri ke komputer dia, tapi temennya itu cuek jaya... (*supermarket ini emang service-nya kurang oke, petugasnya cuek-cuek, kami pernah gak jadi beli daging karena si penjaga counter daging gak mau motongin daging sesuai dengan kebutuhan kami. Dia menang di lokasi aja, deket dan satu arah dengan rumah dan kantor*)
Akhirnya si kasir minta aku untuk membayar Rp.4400,- untuk susu UHT itu. Sereal-nya gak dihitung. LOH?? Aku bilang: "Saya kan mau beli barang yang ini juga. Gimana sih?" (*iyaaa booookk... gue laapppeeeerrr... belum sarapan, susu UHT 250ml aja gak cukup untuk mengenyangkan... dan sekarang elu main nentuin gue gak boleh beli barang itu cuma gara-gara barang itu gak ada di komputer lu.*).
Rupanya dia mempersilakan aku untuk bayar Sereal itu di tempat temennya yang cuek jaya tadi. Ya suds... aku kasih uang pecahan 20rebu rupiah-ku. Kembali Rp.15.600,- kan? Yang 15 rebu bentuknya uang, yang 600 bentuknya 3 buah permen. HHHAAAHH??? Gelo pisan... ntar aku bayar pake apa di kasir cuek itu?? Masa' mesti cari uang 600 atau 1000 lagi buat nambahin pecahan 5000 rupiah yang bakalan aku pake buat bayar? Terus ntar kalo perlu kembalian, kembaliinnya pake permen lagi... Permen-nya jadi 5 dunk? Padahal aku gak butuh permen.
Akhirnya aku bilang sama si kasir cuek (pake aksen anjing galak tentunya): "600-nya saya bayar pake permen ya?! Harusnya kalo saya bayar 2 barang ini di satu kasir, kembaliannya kan 10rebu pas.". Dan 3 buah permen yang diberikan oleh kasir yang pertama tadi akhirnya aku berikan ke kasir cuek jaya bersama dengan selembar pecahan 5000 rupiah.
Aku gak merugikan supermarket itu kan? Permennya gak ada yang berkurang, pemasukannya dari aku tetap Rp.10.000,-, sesuai dengan harga 2 barang yang aku beli itu. Kalo aku ngikutin "permainan" mereka... tadinya aku harusnya cuman keluar Rp.10.000,- jadi keluar Rp. 11.000,- plus dapet 5 buah permen yang gak dibutuhkan.
Hahahahahahaha... *ketawa puas*