Friday, January 19, 2007

Untung Aku Bukan Pujangga...

Setelah membaca postingan blog-ku dari jaman cabe belum pedes sampe yang terkini, aku berkesimpulan... bahwasanya... untung saja aku memilih profesi sebagai praktisi IT, bukan sebagai pujangga. Wehehehe...

Kalo aku jadi penulis novel, mungkin bakalan membuat ceritanya gak utuh, seperti tokoh-tokoh sinetron yang suka aku cela-cela. Di sinetron itu umumnya tokohnya tidak seperti manusia seutuhnya: gak seimbang. Kalo yang namanya manusia dalam kehidupan sehari-hari itu kan punya sisi baik, tapi ada juga sisi buruknya. Kalo di sinetron itu kebanyakan tokohnya unbelievable banget. Yang jahat ya jaaahhhaaattt... banget, yang baik ya baaaiiikkk banget, sampe-sampe terlalu lemah dan gak bisa melawan ketika tertindas.

Terus ceritanya juga cenderung kayak fairy tale. Kalo tadinya menderita, atau miskin, terus di akhir film... doeng-doeng... tau-tau udah makmur, entah itu karena terima warisan, atau karena penyebab lain. Jarang banget yang cerita ttg juragan lele yang tadinya gak punya apa-apa, terus setelah bertahun-tahun membangun bisnis lele dari 1 kolam saja akhirnya sekarang jadi konglomerat lele [sampe sekarang masih terkagum-kagum, padahal ketemu the real life person-nya udah tahun 2001].

Tulisanku juga gak komplit, hanya bercerita ttg sisi menyenangkan dari kehidupan, aku cenderung gak menuliskan hal-hal yang kurang menyenangkan, gak seperti kehidupan seutuhnya. Kenapa? Gak tauk pastinya kenapa... Mungkin karena aku memang ingin selalu menganggap bahwa kehidupan ini menyenangkan. Kalopun ada hal yang tidak menyenangkan buat aku, aku coba untuk membuatnya jadi menyenangkan dengan memandangnya dari sisi lain (humor misalnya), sedangkan hal-hal yang tidak menyenangkan yang kulihat terjadi di sekitarku (tidak kualami sendiri), gak tega untuk menuliskannya kembali.

Peristiwa kurang menyenangkan yang ditulis untuk kutertawakan sendiri contohnya adalah: tragedi orkestra mbak WK, ancaman bom di kwarnas. Hal-hal kurang menyenangkan lainnya, yang gak mungkin ditulis dari kacamata humor, akhirnya gak masuk ke dalam blog-ku. Kalopun aku nyoba menuliskannya (contoh: tentang gusuran kaki lima di jalan buncit), hasilnya gak memuaskan gitu loh, karena gak tega sama obyeknya, gak tega juga sama yang baca.

Pujangga-pujangga atau penulis-penulis jagoan umumnya bisa membuat tulisan yang mengena, yang menyentuh para pembacanya... mereka mengambil bahan juga dari peristiwa-peristiwa kurang enak yang terjadi pada diri mereka atau lingkungan sekitar mereka (gak cuma yang enak-enak aja to...). Kemudian mereka mengekstrak hikmah, pelajaran, dan makna dari kejadian tersebut. Itu yang membuat kisah mereka menjadi komplit, utuh, seimbang.

Kesimpulannya... untung saja aku menulis memang hanya untuk iseng-iseng, ada yang baca ya sukur... ga ada yang baca ya udah. Lebih banyak berisi laporan, pikiran gak jelas, untuk hiburan pribadi semata, ntar kalo udah agak lama kubuka-buka lagi untuk diketawain sendiri (tapi belum gila loh...). Kalo tulisanku jelek, garing, kurang mengena, atau malahan mirip source code program, ya dilarang protes, karena ini memang blog-nya seorang praktisi IT (tapi tidak berbicara tentang IT), bukan blog-nya seorang pujangga... Weekkkk... :-P

2 comments:

hend said...

tulisannya sik koq mengalir kayak obrolan di meja kopi

Credo said...

iya asyik2 aja kok :D

Malahan aku pengen liat klo emang ada entry blogmu yg spt source code, hehehe :D