Friday, August 11, 2006

Menjual Gaya Hidup

Banyak yang bilang bahwa Starbucks itu menjual gaya hidup. Tadinya aku gak begitu peduli, lagian gak sering minum Starbucks. Tapi aku akhirnya pernah membuktikannya sendiri.

Minuman favoritku adalah Chocolate, baik yang hot maupun yang iced... aku suka dua-duanya, biasanya kupilih sesuai dengan cuaca, suasana, atau bahkan asal pilih aja. Untuk take away… biasanya aku pilih yang iced.

Kalo masuk ke suatu café untuk pertama kali, biasanya yang aku pilih adalah chocolate. Kalo coklatnya gak enak, ya sudah… kemungkinan aku gak bakal menginjakkan kaki lagi di tempat makan itu kecuali terpaksa atau ada makanan lain yang aku suka, contohnya Café Pisa, coklatnya gak enak, jadi aku hanya ke sana lagi untuk makan es krim.

Beberapa minggu lalu, aku kepengen banget minum Iced Chocolate-nya Starbucks. Sebabnya: sehari sebelumnya, waktu kuliah aku presentasi kasus Starbucks di kelas. Kalo bahasa Sunda-nya… kabita gitu loh…

Jadi Minggu siang itu, sehabis makan siang di Hot Planet Sarinah, aku ngajak temanku nyebrang ke Starbucks. Kemudian membeli segelas Iced Chocolate. Dalam perjalanan ke pameran komputer, aku menikmati Iced Chocolate itu… Tauk gak… ternyata…oh ternyata… rasanya aneh… Whipped Cream-nya itu berasa kayak santan… pertama kali minum… aku gak percaya, mungkin lidahku yang salah interpretasi… terakhir kali minum barang yang sama… rasanya gak kayak gitu…

Jadi aku aduk-aduk lagi si Whipped Cream, terus aku minum lagi… kok masih juga kayak santan… artinya emang betulan gak enak. Wuahahaha… jadi kapok deh… tapi gak menyesal sih… karena meskipun minuman yang kubeli gak enak… tapi aku jadi dapat pengalaman… Ternyata bener juga… Starbucks itu minumannya biasa aja, malah lebih enak Bengawan Solo Coffee yang harganya ½-nya dan Iced Chocolate-nya gak creamy.

Orang-orang senang ke Starbucks karena yang mereka beli adalah gaya hidup. Buat para eksekutif (baik yang tua maupun muda), gak bakal malu-maluin kalo ngundang rekan kerja, client, atau siapa pun ke Starbucks untuk meeting… Udah standar banget di Jakarta… “meeting di Starbucks”. Buat orang-orang yang memang pengen beli untuk menikmati minumannya… nah… harap jangan kecewa misalkan ternyata apa yang anda beli itu gak sesuai ekspektasi…

6 comments:

Bie said...

gue setuju sama kalimat pertama.

arini said...

Jangan beli Starbuck : MAHAL!!!!

credo said...

Cuma ke Starbucks klo terpaksa.. misalnya diajak kumpul2 di sana.

credo said...

Cuma ke Starbucks klo terpaksa.. misalnya diajak kumpul2 di sana.

Indharta said...

hehehehe cobain coffee toffee aja deh...

http://www.friendster.com/coffeetogo
http://coffeetoffeeindonesia.com

nymph said...
This comment has been removed by the author.