Sunday, June 05, 2005

Bersepeda

Apa asiknya bersepeda?

Sabtu-Minggu ini, aku ke Kebun Binatang Ragunan, bawa sepeda lipat yang dibeli Bapak beberapa saat setelah aku bisa naik sepeda, sekitar tahun 1989-90. Modelnya compact, bisa dilipat sedemikian rupa jadi bisa masuk ke dalam mobil.

Awalnya…
Buat aku (dulu), naik sepeda itu adalah aktivitas sore hari di masa kecil. Aku belajar naik sepeda waktu baru pindah ke rumahku sekarang. Dulu di jalan kompleks masih belum banyak mobil lalu lalang dan parkir, belum banyak portal, belum banyak polisi tidur, mendukung banget buat belajar naik sepeda, sampe bonyok-bonyok, nyaris masuk got…heheheh… Tapi waktu ada hal lain yang lebih menarik, seperti misalnya Namarina 3 kali seminggu, ya sudah… aku tidak pernah naik sepeda lagi.

Sekarang…
Bapak-Ibu memang hobi olahraga di Ragunan: jalan kaki muterin Kebun Binatang. Beberapa minggu atau beberapa bulan lalu, seperti biasa… pagi2 di hari weekend aku dibangunin untuk ikut ke Ragunan, walah… rasanya bosan kalo jalan kaki saja, monoton gitu loh. Jadi Bapak mengusulkan untuk bawa sepeda saja. Sejak saat itu, kalau pergi ke Ragunan, aku naik sepeda… yang lain jalan kaki. Hihihi…

Yang lucu, pernah suatu kali pulang dari Ragunan aku melihat tetanggaku sedang memasukkan sepeda roda tiga punya anaknya ke dalam mobil. Wah, scene-nya sama dengan tadi pagi: bapak-bapak memasukkan sepeda anaknya ke dalam mobil. Bedanya tetanggaku itu anaknya masih kecil, kalo bapakku anaknya dah guede…

Jadi, kembali ke pertanyaan di atas, apa asiknya bersepeda?

1) Mengatur kecepatan.
Jalan di Ragunan itu naik turun seperti di Bandung, ternyata asik juga mengatur kecepatan, kapan harus menggenjot sekuat tenaga, kapan harus ngerem supaya tidak kecemplung di kolam kuda nil. Ternyata jalan turun cukup menyebalkan, apalagi jalan turun yang di ujungnya ada kolam, membuat tangan pegel.

2) Pindah gigi
Sepedaku (karena aslinya memang diperuntukkan bagi orang dewasa) punya “persneling” yang bisa mengubah susunan roda gigi di rantai sepeda. Kalau mau lewat tanjakan, pindah ke gigi yang paling “loose”: gak bisa ngebut karena sekali kayuh putaran rodanya sedikit, tapi sangat ringan (kalo di mobil ini gigi 1), makanya cocok untuk tanjakan. Kalau di jalan rata dan mau ngebut, pindah ke gigi yang paling berat. Cukup berat untuk dikayuh, tapi sekali kayuh putaran roda lebih banyak. Ada yang Automatic Transmission gak ya?
Tips lewat tanjakan: selain pindah gigi, sebaiknya sebelum naik ke tanjakan, kecepatan kita cukup, karena kalau terlalu lambat atau malah berhenti, wuah berat sekali bok! Kalau sudah begitu, mendingan sepedanya dituntun saja…

3) Menghindari orang dan kendaraan
Jangan sampai nabrak orang!! Jadi harus pinter-pinter meliuk-liuk dan ngerem mendadak. Ragunan kalau hari minggu kayak pasar malam. Karena sepeda tidak bersuara seperti sepeda motor atau mobil, orang-orang biasanya tidak mendengar bahwa ada sepeda mau lewat, jadi asik aja nyebrang melintas di depan sepeda kita tanpa lihat kiri-kanan dulu, wuaa…!!

4) Pijet gratis
Jalan2 di Ragunan kebanyakan tersusun dari pavement, pada umumnya kurang rata, jadi grenjul-grenjul. Nah… naik sepeda di jalan seperti itu = pijet gratis. Getarannya itu lebih heboh dari naik bajaj.

5) Angin sepoi-sepoi
Anginnya enak banget, apalagi kalo lagi ngebut.

Pulang dari Ragunan, pasti pegel-pegel, terutama di bagian panggul (sadelnya itu loh, keras), dan telapak tangan (dipake buat ngerem melulu sih).

Jadi bertanya, kenapa gak kepikir dari dulu ya? Waktu masih di Bandung, kalau bersepeda di kampus pasti asik juga. Apalagi kalau pagi-pagi, brr… dingin gitu loh…

1 comment:

Benny said...

Waw, boleh tanya beli sepeda lipatnya di mana? kayaknya asik bener ya