Monday, October 31, 2005

Sisters

Ini bukan tentang Ndoro dan Ndulo, aku sudah pernah kan cerita ttg mereka. Yang ini tentang "my sisters" yang tersebar di beberapa pojokan Indonesia. Sebenarnya, aku terinspirasi dengan foto terakhir yang ada di posting "Setelah Dua Tahun..."

Cerita ini bermula sejak aku masuk asrama BPS Pertamina. Di asrama Simpruk, 1 kamar tidur ditempati oleh 4 orang. Seminggu pertama tiba di Simpruk, kami mendapatkan teman sekamar dari kelas-kelas lain. Setelah seminggu, materi korporat selesai, tibalah waktunya untuk masuk ke materi per jurusan. Pihak penyelenggara pun menetapkan kebijakan untuk mengatur ulang kamar tidur sesuai dengan jurusan masing-masing. Waktu dapat kesempatan keluar asrama, aku sempat cerita sama Ibu.
"Duh males deh, masa' kamar tidurnya mau diacak lagi. Aku sudah senang sama teman-teman yang sekarang."
"Loh, kenapa pake diacak segala?"
"Iya... mau disatukan per kelas... aku males, karena mesti menyesuaikan diri lagi sama teman-teman baru."
Siapa "teman-teman baru" itu? Mereka adalah teman-teman sekelasku sesama BPS jurusan TI (yang perempuan, tentu saja). Dengan siapa... aku jungkir balik bersama, loncat-loncat bersama, nyanyi-nyanyi bersama, ngerumpi (yeah!! pastinya), tertawa bersama, menangis bersama, ngemil bersama, bahkan mules bersama, selama 3 bulan di Simpruk.

Sebelum berangkat ke Simpruk, aku gak pernah berpikir bahwa aku akan mendapatkan keluarga baru di sana. Yang aku pikirkan adalah "Bisa gak ya aku survive?", "Duh, gimana ya kalo temennya serius-serius..". Aku paling takut masuk asrama, waktu lulus SMA... aku takut banget terpaksa masuk STT Telkom, karena di Telkom, 1 semester pertama mesti masuk asrama. Kenapa aku takut banget? Karena di asrama ada aturan tertulis... terus di asrama mesti sharing resource sama orang lain. Sebenernya kalo sharing kamar, aku sudah biasa, sejak lahir aku belum pernah gak sharing kamar. Ndulo dan Ndoro pernah jadi penguasa kamar sendirian, hanya aku yang gak pernah (makanya gak suka bobok sendirian!). Tapi beda lah ya... antara sharing kamar di rumah dan di asrama. Kalo di rumah, kita sharing dengan orang2 yang sudah dikenal puluhan tahun. Kalo di asrama, kan baru kenal, kalo gak cocok piye? Trus ntar masa' mesti jaim terus-terusan? Uh-oh, aku gak pengen menghabiskan waktu 3 bulan sekamar dengan teman yang gak cocok, bakal boring dan tersiksa banget kali... Dan aku juga gak pengen jaim terus selama 3 bulan... Jadi, pertama kali check-in di Simpruk, keinginanku adalah: pengen cepet-cepet bulan November... ketika BPS berakhir... dan aku bisa kembali ke rumah.

Sejak lihat pengumuman di internet, aku tahu bahwa teman sekelasku 2 orang yang perempuan, anak-anak UGM. Aku berkenalan dengan Justin dan Hayat di Simpruk, sebelum berangkat ke Lido. Wah, kelihatannya tampang mereka serius... Oh tidak... jangan2 kekhawatiranku terbukti. Ah, tapi aku kan belum tentu dapet sekamar dengan mereka, gimana nanti aja lah... (ya.. jangan menilai orang dari tampangnya!)

Tadi aku bilang teman sekamarku 3 orang, itu baru 2 kan ya... Temanku yang ketiga... merupakan surprise buat kami bertiga.
Malam terakhir di Lido, semua peserta BPS dikumpulkan per jurusan, karena penyelenggara akan membagikan baju olahraga baru. Di tengah-tengah kegelapan, aku mengikuti mas Panji berhubung dia ketua kelompok B, lumayan tinggi (jadi keliatan), dan tentu saja sesama jurusan TI. Ketika beberapa orang anak TI sudah berkumpul (aku lihat sekelebatan Dudut, Adji, Bagus, baru itu yang aku ingat, selain Panji), tiba-tiba ada 1 anak perempuan yang mencari-cari gerombolan TI, tapi dia bukan Hayat atau Justin. Lha? Ini siapa donk? Kata internet, anak perempuannya cuma 3... Hayat dan Justin malah mengira anak perempuan itu adalah aku, karena rambutnya sama-sama panjang dan berkacamata (namanya juga gelap), mereka baru sadar kalo ada anak perempuan lain ketika aku yang sebenarnya menampakkan diri. Anak perempuan itu adalah Irva. Ternyata kami tidak bertiga, tapi berempat...

Kira-kira 3 hari setelah kembali dari Lido, pak Anton, pembimbing BPS TI, mengumpulkan semua anak-anak BPS TI. Waktu itu yang aku tauk hanya Dudut (karena dia teman kuliah), Panji (ketua kelompok B), Bagus (sesama kelompok B), Liston (kelompok B juga), Adji (anak yang suka cengar-cengir, yang juga test di Jakarta), dan anak-anak perempuan (karena mereka perempuan). Tapi paling enggak karena pertemuan pak Anton itu, nambah 1 orang yang berhasil aku ingat: Pandu (karena dia kehilangan koper). Di pertemuan itu, aku gak banyak berkomunikasi sama anak-anak perempuan TI... sebatas basa-basi lah... lagian belum ada bahan yang bisa diomongin sih. Suasananya masih canggung deh... aku cuma mengamati satu-persatu wajah-wajah serius yang ada di sekeliling meja rapat. Semua terlihat anak baik-baik, lurus, gak ada pikiran jail, gak pernah nakal. Untungnya di kemudian hari, aku menemukan bahwa penilaianku salah...


Setelah pengaturan ulang kamar, akhirnya kami berempat mendapat kamar 606. Perpindahan ke kamar 606 gak bisa dibilang mulus. Irva semula ditempatkan di kamar cowok, meskipun akhirnya diralat dan dimasukkan ke 606 juga. Kamar 606 itu kecil, dan semula untuk 3 orang, keadaannya berantakan banget... Sempet agak mengeluh juga sih...

Malam pertama di 606 berlangsung datar-datar saja... Tapi rasanya sih... setelah kita melewati malam pertama dan hari pertama masuk kelas yang mencengangkan, gak butuh waktu lama sampe masing-masing "keluar aslinya", sehingga akhirnya kita menikmati jadi teman sekamar dan bisa menerima kekurangan masing-masing. Ternyata... mereka juga suka nyanyi-nyanyi, loncat-loncat, atau membicarakan hal-hal gak penting.

Kenakalan kita bersama yang pertama, salah satunya adalah waktu kita ketiduran dan telat masuk kelas (baca: posting Hari Ini, 2 Tahun Lalu). Setelah itu banyak kenakalan dan kejadian-kejadian lucu lainnya yang dialami bersama.

Misalnya jemuran terbang di pagi hari. Suatu pagi yang sejuk (karena malamnya hujan), tiba-tiba kamar 606 ditelpon oleh bapak-bapak di 607, melaporkan bahwa beberapa "items" yang kita jemur di balkon sudah tertiup angin dan mendarat dengan selamat di balkon kamar mereka. Ups!!

Istilah karangan bersama: Sukses, Orange Juice, dan Musang. Artinya? Hehehe... pokoknya berhubungan dengan metabolisme dan pencernaan deh...


Makanan favorit bersama: Sambal dua belibis dan stik kentang keju. Sebenarnya supply makanan kamar kita gak pernah kosong. Untungnya kami punya kamar yang eksklusif (jarang ada cowok berani masuk), jadi supply-nya pun aman... hehehehe... Oya, pernah suatu kali pergi ke Atrium berempat dan berbelanja snack banyak banget... sampe-sampe malu sendiri bawanya... gara-gara oleh kasirnya snack2 kita itu dimasukkan ke dalam satu kantong plastik geeeddddeeeee banget.

Lagu favorit bersama: Surat Cinta-nya Vina Panduwinata, dinyanyikan sambil jingkrak-jingkrak. Hari ini kugembira... Melangkah di udara... Pak pos membawa berita... dari PERTAMINA.

Baju bersama: Baju 32!

Kebiasaan buruk bersama: ninggalin kunci terpasang di pintu bagian luar. Biasanya kesempatan itu langsung digunakan oleh penghuni kamar 607 untuk mengunci kita di dalam kamar. Pembalasannya? Rame-rame kita nyusun kursi dan tong sampah untuk menutupi pintu kamar 607, sehingga kalo mereka buka pintu, tong sampahnya bakal jatuh dan berserakan. Habis itu kita lari ke lantai 7 untuk "belajar" bersama yang lain. Dudududududududu...

Saking kemana-mana bareng terus, sampe-sampe waktu mau pergi OJT (cuma 2 minggu padahal!), rasanya sedih banget... Biasanya sekamar berempat, sekarang berdua doang. Pulang dari OJT, wuah senangnya... dah kayak gak ketemu berbulan-bulan. Waktu acara kumpul2 setelah OJT, kita sempet menjajah dapurnya Simpruk buat nggoreng pempek oleh-oleh OJT di Palembang. Selesai makan pempek, trus menculik Adji buat cuci piring. Hahaha...

Selama seminggu setelah OJT, kami dapat kamar terbuang sendiri di lantai 5. Waktu itu sempet terlibat perang lift dengan para bapak-bapak BPS TI yang semuanya kumpul di lantai 9. Wuah... yang aku inget, setelah beberapa kali pertempuran kecil, yang kebanyakan dimenangkan oleh anak-anak perempuan, puncaknya adalah pembalasan para pria lantai 9. Hari terakhir olahraga pagi sebelum puasa, BPS TI tinggal sendirian saja. Kelas-kelas lain sudah berangkat OJT. Selesai olahraga, aku hanya ingin cepet-cepet naik ke lantai 5, untuk tidur lagi dan mandi. Tentu saja semuanya punya pikiran yang sama... waktu lift terbuka... 14 orang masuk ke dalam lift. Wuah... bau-bau semua pula, hiiii... Menjelang lantai 5, anak-anak perempuan sudah tahu bahwa cowok-cowok itu pasti gak akan kasih kita keluar. Mereka memasang badan yang gede-gede itu menutupi pintu lift, sehingga kita gak bisa keluar di lantai 5. Oke lah... gak apa, kan nanti tinggal turun lagi. Tapi... sampe lantai 9, ternyata mereka mendorong kita berempat keluar!! Aku yang masih di dalam lift berusaha menahan satu sandera, aku pilih yang ter-begeng dan posisinya paling dekat: Pandu! Tapi bukannya berhasil menyandera, aku malah terseret keluar lift. Sementara itu Sapi dan Hayat juga sudah terseret keluar lift. Irva yang pertama berhasil menahan pintu lift. Kami bertiga yang sudah keburu jatuh, setelah berhasil melepaskan diri, kemudian merangkak kembali ke lift. Begitu lift tertutup dan menuju lantai 5, kami berempat pun tertawa heboh sampe sakit perut.

Begitu deh... sedikit kenangan manis di Simpruk. Rasanya sih gak pengen cepet berakhir, berlawanan dengan keinginanku waktu baru saja check-in di Simpruk. Hm, "tinggal di asrama"-nya sih pengen berakhir, tapi "kumpul sama temen-temen"-nya enggak... I knew that I would miss my friends waktu sudah bubaran. Mungkin paling terasa adalah waktu Irva pergi mudik duluan bersama rombongan Semarang. Huuuaaaa... akhirnya berpisah, dan bakalan gak ketemu dalam waktu cukup lama.

Setelah Simpruk, Sapi pindah ke Balikpapan, Irva ke Makassar, dan Hayat ke Cirebon. Mereka jauh, tapi aku selalu menyempatkan ketemu mereka kalo mereka datang, kalo bisa juga nginep bareng dan jalan-jalan. Sering juga curhat sama mereka, lewat email, lewat chat, atau lewat telpon. Waktu aku lagi gak betah banget di sekuriti, ya mereka yang selalu aku kirimi curhat, sampe sudah hafal isinya kali ya.


Beberapa bulan setelah check out dari Simpruk, jauh setelah percakapan dengan Ibu terjadi, aku terlibat pembicaraan serupa, kali ini dengan Ibu dan Bapak. Waktu itu aku baru saja mbela-mbelain untuk ketemu salah satu dari 3 teman sekamarku (lupa yang mana).
"Kamu kok bisa lengket banget sama temen-temenmu itu..."
"Lha ya... wong 3 bulan ketemunya loe lagi-loe lagi. Bangun tidur, ketemu mereka... Di kelas, ketemu mereka... Mau tidur, ketemu mereka lagi. Wajar dong..."
"Padahal dulu kamu mengeluh waktu mau dipindahin bareng mereka..."
Yeah... bener juga... aku cuma bisa senyum-senyum... makanya jangan keburu menilai duluan sebelum benar-benar mengalami.

Terus... Pernah juga dapat komentar unik dari bapak-bapak Sandi, waktu aku masih di Sekuriti. Waktu itu aku lagi dinas ke Balikpapan. Setelah segala urusan selesai, tiba saatnya pulang. Di depan kantor UP5, aku pamitan sama Sapi, kemudian naik mobil dan dadah-dadah layaknya anak kecil mau pergi. Tiba-tiba pak Sugiyanta dari UP5 berkomentar: "Mbak Gita sama temennya, kok udah kayak kakak-adik ya...". Oh, gitu ya pak?

Di kesempatan lain, salah seorang pengunjung (aku lupa tepatnya siapa) pernah melihat foto 32 yang aku pasang di atas filing cabinet di ruanganku di Sandi. Orang itu bertanya: "Itu kakak-adiknya Gita ya?". Mungkin seharusnya aku jawab begini: "Ya betul, mereka kakak-adikku... yang kudapat di Simpruk..."

5 comments:

Anonymous said...

kayaknya kawan kamu; HAYAT,kawan aku juga deh...hayat fajaria ga namanya? from dedik_prayoga@yahoo.com

Anonymous said...

kayaknya kawan kamu; HAYAT,kawan aku juga deh...hayat fajaria ga namanya? from dedik_prayoga@yahoo.com

Anonymous said...

sori salah pencet,jadi dua kali tuh

Anonymous said...

bener...dia kawanku!!

kitong said...

minta informasi dong, gimana caranya ikutan BPS Pertamina..? terima kasih atas infonya..