Waktu Kaka mengembalikan mobil, ternyata kami diberi oleh-oleh sebungkus kepiting entah-saus-apa. Karena aku sudah on position di bawah selimut, akhirnya kepiting itu kami masukkan kulkas.
Senin sore sepulang kantor, barulah kami buka kepiting itu, dipanaskan dengan wajan VSAT, dan... tralala trilili!!! Begini lah penampakannya.... kepiting betina dengan banyak telur dimasak dalam saus... saus apa ya? Sampe sekarang masih belum tahu itu saus apa. Kami biasanya pesan saus tiram di Marinda, dan ini sama sekali tidak mirip dengan saus tiram, tapi yang pasti rasanya: MAKNYUS JAYA!!

Kepiting Papua terkenal dengan ukurannya yang besar-besar. Kalau makan di warung tenda seperti di Tembok, dengan 40-50rb saja kita sudah bisa menikmati 1 ekor kepiting yang besar, atau 2 ekor kepiting yang lebih kecil-kecil (tergantung persediaan).
Selain Marinda, tempat makan kepiting lainnya yang enak adalah restoran Ratu Sayang. Spesialisasinya adalah kepiting goreng telur asin. Wow wow... kepiting (kolesterol) + telur (kolesterol) + asin (darah tinggi?).
Salah satu hal yang menyenangkan dari bermukim sementara di Papua buat kami adalah kami bisa makan kepiting enak tanpa harus mengarungi jalan tol Wiyoto Wiyono untuk sampai ke Kepiting Cak Gundul Kelapa Gading.