Thursday, December 29, 2016

15 Tahun The Fellowship of the Ring

Di forum theonering.net lagi ramai memperingati 15 tahun The Fellowship of The Ring. Jadi 15 tahun yang lalu, film The Lord of The Rings yang pertama mulai tayang di bioskop di seluruh dunia. Di Indonesia, kayaknya baru di awal 2002 filmnya tayang sih.

Aku ingat nonton bareng dengan beberapa orang teman. Kalau gak salah ada Rama, Mamih, mungkin Kiki. Kesimpulannya pada saat itu? Aku gak ngerti jalan ceritanya! Huahahahaha.... Ngapain orang-orang itu pada berlari-larian naik turun gunung-keluar masuk hutan-nyebrang kali demi membuang sebuah cincin?! Makanya terus gak nonton yang The Two Towers sama The Return of The King. 

15 tahun yang lalu gak kepikiran deh, bahwa ternyata film itu hanya menunggu waktunya aja untuk aku pahami. Butuh waktu 12 tahun (kurang dikit sih) untuk akhirnya ngerti jalan cerita Lord of The Rings. Yang novel dan yang film. 

Yang pasti sekarang aku kudu berterima kasih sama Tolkien (dan juga Peter Jackson) untuk menciptakan dunia imajinasi Middle-Earth (dan juga untuk visualisasinya yang membuat novelnya jadi lebih mudah dimengerti). Dunia imajiner itu telah membuat aku dan si Om bisa berbagi imajinasi yang sama dan punya satu hal lagi untuk dinikmati bersama. Hasil karya visualisasinya pun telah memberikan pengalaman dan petualangan yang gak akan kami lupakan. Naik turun gunung-keluar masuk hutan dan nyebrang kali.... serupa deh sama orang-orang yang mau membuang cincin ke Mt.Doom. 

Roads go ever ever on,
Over rock and under tree,
By caves where never sun has shone,
By streams that never find the sea;
Over snow by winter sown,
And through the merry flowers of June,
Over grass and over stone,
And under mountains in the moon.
(The Road Goes Ever On - dari The Hobbit) 

Terima kasih untuk Middle-Earth!

Saturday, June 11, 2016

Hubungan Benci Tapi Rindu Dengan Senen-Lb.Bulus

Tadi pagi, waktu lagi duduk nyaman dan adem di atas bus feeder transjakarta jurusan Lb. Bulus-Senen dalam perjalanan 20 menit dari Kuningan ke Istiqlal, aku jadi feeling nostalgic. 

Bisa duduk (ataupun berdiri) dengan tenang, nyaman, dan adem di bus itu sebenernya menggambarkan kemajuan ke arah yg lebih baik dalam urusan public transport Indonesia, khususnya Jakarta. Sekarang ini lalu lintas Jakarta makin menjijikkan karena kapasitas jalan gak semakin bertambah, tapi jumlah kendaraannya bertumbuh terus. Mending kalo pengguna jalan mau diatur, nah ini kebanyakan sih gak tau aturan, gak mau tau, atau pura-pura gak tau (bedanya tipis deh), Jadi lah perjalanan naik mobil sekarang umumnya aku pake misuh-misuh. Tapi untunglah, kalo naik public transport jadi sedikit berkurang misuh-misuh-nya. Hubunganku dengan si bus Lb.Bulus-Senen ini cukup menggambarkan hal itu. 

Jadi ceritanya si Lb.Bulus-Senen ini udah beberapa kali beralih rupa. Aku sendiri berkenalan dengan bus itu sejak SMP, bisa dibilang sejak pertama kali bisa naik bus sendiri. Dulu bentuknya bus Kopaja yang warna putih-ijo tanpa AC itu, trayeknya disebut P20. Aku biasa naik bus itu seminggu sekali pp dari rumah ke kolam renang Lebak Bulus. Jaman dulu sih sepenuh-penuhnya bus Kopaja, rasanya masih bearable. Palingan bete kalo mau turun di halte Madrasah aja. Susah menembus kerumunan penumpang yang berdiri. Itu waktu kelas 1 SMP. 

Ketemu lagi dengan bus itu waktu kelas 3 SMP, waktu itu lokasi sekolahnya di pinggir jalan TB Simatupang, beda dengan kelas 1 dan 2 yang di dekat Pondok Pengayom Satwa, jadi dilewati oleh bus itu. Waktu naik kelas 3 sih senang: "Hore! Sekarang bisa langsung naik P20 itu, sekali aja sampe di halte Madrasah. Gak harus tuker bus di pertigaan Mangga Besar." Itulah harapannya. Kenyataannya? Ternyata P20 itu jarang-jarang lewat! Giliran lewat di depan sekolah, biasanya penuh. Ujung-ujungnya naik bus 2 kali juga deh. 

SMU dan Kuliah gak ketemu sama bus itu. Waktu awal-awal kerja cuman sekali-sekali aja naik bus itu, Nah, akhirnya kembali berhubungan erat dengan bus itu waktu aku kembali kerja di Jakarta, setelah pindah dari Sorong. Ini dia nih.... 

Waktu itu ternyata P20 punya versi upgraded, yaitu P20 AC. Bus dengan trayek yang sama, tapi pake AC dan lewat jalur busway. Pas pertama nyoba untuk pulang dari kantor ke Buncit, lumayan juga. Agak-agak pegel karena berdiri dan penuuuhh pisan, tapi 1 jam aja udah sampe.

Nah lama-lama jadi makin nyebelin aja si P20 AC ini, apalagi kalo udah ketemu temannya sesama P20 AC: kebut-kebutan jreng! Kadang-kadang sampe mengorbankan penumpang. Jadi kapan itu si P20 AC mencoba menyusul kawannya dengan cara keluar dari jalur busway di Kuningan. Hasilnya 1 halte busway jadi terlewat. Padahal ada penumpang mau turun di halte itu. Pas penumpangnya protes, malah dimarahin sama kernetnya. Bikin pengen nabok aja kan?

Selain P20 AC, P20 versi original juga masih ada. Aku biasa naik P20 original ini kalo berangkat kantor, setelah pindah rumah ke Ps Minggu. Biasanya aku ikut Omla sampai ke depan Depkes Kuningan, kalau waktunya masih panjang aku akan naik P20 original ini sampai kantor. Lumayan lah. Kalau naik taksi 40rebu, naik P20 cuma abis 4000.

P20 original gak banyak kebut-kebutan (berdasarkan pengalamanku lho ya). Tapi... dia menyebalkan ketika sampai di stasiun Gondangdia. Umumnya mereka akan mengoper penumpang ke bus di depannya karena pengen ngetem untuk menampung penumpang yang turun KRL. Huuuhh.... yang ada lari-lari di gang senggol Gondangdia yang penuh banget itu deh.... Udah gitu bus tujuan pengoperan itu umumnya penuh dengan orang-orang turun KRL, jadi pasti fully loaded (pake banget).

Naik bus Kopaja versi original ataupun yang AC itu banyak pengen ngomel, karena:
1) Sekali-sekali ada tukang ngamen ataupun minta sumbangan, ada yang setengah malak.
2) Suka musuhan sama temannya, jadinya kebut-kebutan deh.
3) Kalo lagi baikan sama temannya, mereka suka saling mengoper penumpang. Kadang-kadang dengan skema yang merugikan penumpang => duit yang dibalikin cuma 1/2 full fare, terus di bus berikutnya ditagihin full fare.
4) Berhenti di sembarang tempat, saking seringnya berhenti akhirnya gak nyampe-nyampe.
5) Selain sembarang titik, berhentinya juga sering di jalur kanan, jadi penumpang yang turun mesti bersaing sama sepeda motor dan mobil yang lewat di sebelah kirinya si bus.
6) pokoknya penumpang itu gak dianggap sebagai konsumen deh! (dimana konsumen adalah raja).

Alkisah di pertengahan bulan Januari 2016, si P20 AC tiba-tiba menghilang selama beberapa minggu. Gak lama kemudian muncul trayek TransJakarta Lb.Bulus-Senen dengan bus-bus mini P20 AC yang sudah dicat ulang dan diatur ulang interiornya. Sistem penggajian krunya tidak menggunakan sistem setoran, melainkan menggunakan sistem yang sama dengan bus-bus TransJakarta lainnya. Supirnya sebagian ada yang eks supir P20 AC yang sudah diseleksi.

Naik bus TransJakarta baru itu ternyata menyenangkan, meskipun dalam keadaan penuh. Karena kernetnya sopan, helpful, dan punya otoritas untuk menegur kalo ada penumpang rese yang meresahkan penumpang lain. Terus supirnya gak ngebut kayak dikejar setan. Plus gak ada pengamen ataupun yang tiba-tiba minta sumbangan. Plus gak berhenti di sembarang tempat pula, jadi relatif lebih cepat sampai ke tujuan.

Saking senengnya naik bus baru itu, sampe-sampe waktu berangkat ke kantor naik taksi, kejadiannya seperti ini: awalnya berencana naik taksi ke kantor Omla, ngedrop Omla, terus lanjut ke kantor pake taksi yang sama. Di tengah jalan ngeliat banyak bus TransJakarta Lb.Bulus-Senen, akhirnya minta diturunin di halte Depkes sama supir taksinya, dan buru-buru lari ke halte biar kebagian bus TransJakarta arah Senen itu.

Yah begitu lah.... rasanya terharu juga, ternyata bisa juga aku seneng naik bus di Jakarta. Semoga perbaikan seperti ini gak hanya terjadi di sarana transportasi umum, tapi juga terjadi di bidang-bidang lainnya dan di seluruh Indonesia juga. Biar makin betah (dan bangga) jadi warga Indonesia!

Wednesday, August 19, 2015

Catatan Perjalanan Terkini

Udah lama gak apdet blog... hahahah....

Akhirnya ini baru saja menyelesaikan catatan perjalanan ke Middle Earth. Perjalanannya sih hanya 12 hari tapi nulis reportnya sampe 1 tahun lebih. Silakan dicheck di Catatan Perjalanan Gita ya....

Tuesday, December 09, 2014

Lagunya Billy Boyd

Siapa itu Billy Boyd? Yang suka film Lord of The Rings mengenalnya sebagai Pippin. Si Billy Boyd ini baru saja mendapatkan tugas untuk jadi penyanyi theme song-nya film The Hobbit yang terbaru. Judulnya The Last Goodbye. Dari judulnya, lagu ini punya setidaknya 2 maksud: 
1) the last goodbye dari Bilbo kepada para Dwarves, rekan-rekan perjalanannya dari Shire ke Erebor.
2) the last goodbye dari groupnya Peter Jackson untuk para penggemar Middle Earth. 

Buat aku, setelah mendengarkan lagu: lirik, melodi, dan harmoninya, lagu ini adalah tentang perjalanan. Semakin sering mendengarkan lagu ini, yang terbayang adalah perjalanan menyusuri alam pegunungan New Zealand, yaa... menjelajahi the beauty of Middle Earth as represented in Peter Jackson's LOTR and The Hobbit movies.  

The road is now calling
And I must away

Ini emang tentang perjalanan. Buat Bilbo: perjalanan pulang dari Erebor ke Shire. Buat aku: perjalanan menjelajahi "Middle Earth".

Over hill and under tree
Through lands where never light has shone
By silver streams that run down to the sea

Under cloud beneath the stars
Over snow and winter’s morn
I turn at last to paths that lead home

Buat Bilbo: ini menggambarkan perjalanan dia dari Shire ke Erebor and vice versa. Over hill : lewat Misty Mountain, under tree : lewat Mirkwood, dst. Lagipula liriknya ini disadur dari puisi Roads Go Ever On and On yang ada di buku The Hobbit.

Buat aku: masih juga tentang our NZ Trip. Over hill: Haast Pass yang mengingatkan sama Caradhras Pass, under tree: Aspiring National Park!, through lands where never light has shone: Queenstown katanya si Flip posisinya gak bagus jadi jarang kena matahari, by silver streams that run down: Haast River, Kawarau Gorge, dst.

Buat tim-nya Peter Jackson: pasti mereka menjelajah NZ dengan jauh lebih seru dibandingkan aku!!

And though where the road then takes me, I cannot tell

Buat Bilbo: iya bener kayak gitu. 
Buat aku: yaa gak gitu juga sih.... kan udah ada GPS. Haha!! 

We came all this way but now comes the day
To bid you farewell

Buat Bilbo, buat aku, buat semua: Setiap perjalanan kan pasti akhirnya pulang kan?

Many places I have been
Many sorrows I have seen
But I don’t regret nor will I forget
All who took that road with me

Yups! Pastinya gitu sih. Bilbo pasti gak nyesel mendampingi para Dwarves dalam perjalanan mereka, gak nyesel telah melakukan the unexpected journey.


Begitu juga dengan aku, sejauh ini bahkan gak nyesel udah dapat pengalaman Haast Pass yang gak bisa dilewati, gak nyesel ngalamin as patah waktu ke Mt.Sunday. Waktu habis kejadian Haast Pass sih sempet nyesel kenapa kok gak bisa ke Milford. Tapi sekarang sih udah enggak lagi. Pengalaman mirip Caradhras itu malah jadi sesuatu yang unik dan bikin empati pada Fellowship of the Ring, dan tentu saja: membuat jadi ada alasan untuk kembali ke NZ!

Itu dari sisi lirik ya...

Dari sisi melodi dan harmoni, di beberapa bagian emang kerasa kalau ini tentang perpisahan (ketika musiknya minor), tapi perpisahan yang dilakukan dengan bahagia, dengan diiringi doa restu dari pihak-pihak yang berpisah (kalimat-kalimatnya berakhir di major chord). Ya seperti itulah yang terjadi di dalam buku. Bilbo berpisah dengan Dwarves, Bilbo berpisah dengan Elvenking.  Selalu diiringi dengan blessing.

Kadang kalau inget ini theme song buat film terakhir The Hobbit jadi pengen nangis, tapi di sisi lain ada hal-hal yang bikin bahagia juga, misal ketika akhirnya film yang udah ditunggu-tunggu selama setahun rilis juga. Seperti halnya ketika kita dalam perjalanan, di satu titik kita sedih harus meninggalkan perjalanan itu, tapi juga senang karena udah kangen rumah, dan berakhir dengan pulang sambil senyum-senyum sendiri. Itulah kerennya lagu ini, bisa mencampur aduk perasaan pendengarnya yang mau memahami isinya.

Mari kita menunggu filmnya main di bioskop. Penantian setahun ini cukup menyenangkan, apalagi diisi dengan trip ke "Middle Earth", membuat jadi gak hanya bisa menonton filmnya, tapi juga ikut "mengalami" filmnya. Tempat-tempat yang ada di dalam film juga jadi terasa lebih nyata, bisa membayangkan baunya, udaranya, yah gitu deh. Dan aku bersyukur karena mendapat kesempatan untuk melakukan trip tersebut. Semoga bisa dapat kesempatan lagi untuk ke sana.

Selamat menikmati lagunya, filmnya, dan.... ternyata aku masih utang catatan perjalanan. Hehehe... Namarie.... :)

Monday, December 08, 2014

The Geeks

Aku dan Omla ketemu di sebuah Data Center. Yaah... sebenernya sih kenalan pertama di ruang rapat, tapi bener-bener mulai kenal satu sama lain yang aku inget sih di ruang NOC sebuah Data Center. Karena tempat ketemu-nya aja udah geeky, jadi wajar aja 2 manusia yang saling bertemu juga geek. Tepatnya Star Trek Geek ketemu Tolkien Geek.

Suatu hari si Star Trek Geek ikut jadi Tolkien Geek gara-gara proses persiapan, realisasi, dan dokumentasi trip impian penggemar Lord of The Rings. Mulai lah ada pembicaraan-pembicaraan aneh.

Tentang Lembas Bread KW-KW
Pulang dari Jogja, kami membawa sebungkus roti khas dari Pasar Imogiri. Yah setidaknya aku pikir roti tersebut belinya di pasar Imogiri, karena sudah beberapa kali ke Jogja roti yang seperti itu dapatnya dari bude yang tinggal di Imogiri.

Roti ini beda dengan roti-roti yang aku jumpai di Jakarta ataupun di kancah internasional. Rasanya agak manis seperti bolu, teksturnya gak terlalu lembut dan agak bantet (tapi gak sekeras rotinya orang Eropa), remahnya gampang sekali berceceran, permukaannya gak mengkilap. Sekilas memandang, aku jadi ingat sama Lembas Bread yang di LOTR. Jadi aku menyebutnya Lembas Bread KW-KW.

Sehari setelah dari Jogja, jalanan di sekitaran kantor macet total, akibatnya Omla bakal kesulitan untuk mencapai kantorku untuk urusan jemput-menjemput. Jadi aku putuskan untuk jalan kaki dari gambir ke bioskop Metropole.

Sebelum jalan kaki, aku makan dulu roti Lembas KW-KW itu. Terus jalan kaki deh. Ternyata.... sampe di depan gereja Immanuel, ada P20 lewat... terus lalu lintasnya gak terlalu macet seperti yang dibayangkan. Hmmm.... akhirnya aku naik. turun di dekat stasiun Cikini. Habis itu jalan kaki sampai ke Carrefour Cikini (cuman 100-150 meter sajah). Belanja sebentar, terus lanjut jalan kaki lagi ke Metropole. Sampai di Metropole terus masuk Starbuck. Beli Vanilla-Rooibos dulu. Setelah itu pulang naik mobil.

Otw pulang, baru deh mikir... membandingkan pengalaman barusan dengan pengalamannya Frodo-and-Sam jalan kaki dari Amon Hen ke Mordor. Mereka cuman bawa sangu beberapa potong Lembas dari Lothlorien, tapi kuat untuk berminggu-minggu jalan kaki sampai ke kawah Mt.Doom. Padahal sekali makan cuman segigit kecil aja. Jadilah aku ngomong gini: "Sepertinya aku belum bisa jadi anggota Fellowship of The Ring... dah makan Lembas Bread KW-KW 1 potong gede tapi tetep aja jalan dari Gambir sampe Metropole harus dibantu sama P20. Habis itu pake pitstop di Starbak pula! Mana ada Starbak di deket Mordor..."

Gimana Kalau The Three Hunters Sering "Pitstop"? 
Setelah mulai rajin olahraga lagi, metabolisme fisikku kembali ke jaman lebih muda dulu. Akibatnya adalah aku harus menuntaskan urusan panggilan alam sebelum pergi-pergi, kalau enggak dalam perjalanan terpaksa harus masuk pitstop untuk menunaikan panggilan alam.

Suatu hari dalam sebuah perjalanan, baru saja aku selesai melakukan pitstop, Omla bilang: "Wah gimana bisa jadi anggota Fellowship of The Ring kalau dikit-dikit pitstop..."

Aku: "Hmm... ngomong-ngomong, itu The Three Hunters waktu ngejar Orcs, masa' gak butuh pitstop sih? Tapi kalo pitstop nanti ketinggalan jauh ya?" (dalam bayanganku, kalau Frodo-and-Sam sih bisa pitstop sesuka hati mereka karena gak sambil ngejar rombongan Orcs, sedangkan Aragorn-Legolas-Gimli kan ngejar Orcs...)

Omla: "Ya mungkin Legolas sama Aragorn mereka suka pitstop juga, kalo pas si Gimli ketinggalan..."

Aku: (terus beneran ngebayangin Legolas dan Aragorn gantian pitstop di semak-semak sambil nungguin Gimli).

Tentang Evenstar Pendant 
Aku punya kalung Evenstar KW-KW. Sering aku pakai, bahkan ketika ke kantor. Suatu hari kami jalan-jalan ke mall, terus masuk ke counter gadget merk ternama. Mbak-mbak SPG yang di counter tersebut tiba-tiba bertanya:

SPG: saya kenal kalungnya mbak. 
Me: uh-huh? 
SPG: Lord of the rings kan? 
Me: iya. (Nyengir) 
SPG: Arwen kan? Berarti ini Aragorn-nya? (Nunjuk Omla)
Me (dalam hati): sebenernya saya Legolas mbak, dan ini Gandalf!

 

Monday, March 10, 2014

Mahiroh!!

Jaman masih sering merasa insecure dulu dan merasa gak pede karena belum punya patjar, aku sering berangan-angan bahwa seorang ksatria/pangeran berkuda putih akan datang untuk membebaskanku dari misery.  Ah tapi jaman sekarang mana ada ksatria berkuda putih, ada juga ksatria bergitar... Pada kenyataannya aku terbebas dengan sendirinya dari perasaan minder dan serba berkekurangan itu sebelum punya patjar, terus setelah itu yang beneran datang bukan ksatria tapi IT engineer, gak naik kuda putih pula. 

Waktu aku ABG, aku mengagumi Data the Android. He's my superhero. Kurang apa coba... Kuat, gak laper-laper, pandai, lincah, punya kecepatan super untuk segala hal, polos. Waktu itu sih mikirnya kayaknya asik kalau punya guardian seperti Data. Semua pasti terasa aman jaya... Sepasukan Borg aja bisa dilempar-lempar oleh Data kayak ngelempar bantal-guling. 

Sekarang aku punya idola baru: The elven warrior of Fellowship of The Ring. Di postingan sebelumnya sudah aku sebutkan apa yang aku idolakan dari Legolas. Aku pengen jadi seperti dia. Tapi setelah aku pikir-pikir, Legolas ini sebenernya mirip dengan tokoh ksatria berkuda putih. Karena dia kan Prince of Mirkwood, terus kuda-nya yang bernama Arod emang warna putih. 

Selain 3 fakta di atas yang berbicara tentang tokoh superhero idola, aku punya 1 kecenderungan yang jika digabungkan dengan 3 fakta tersebut akan menghasilkan kejadian hari Sabtu siang kemarin. Entah bagaimana aku cenderung untuk mengalami kejadian-kejadian yang comical. Maksudnya adalah kejadian yang banyak terjadi di comic atau di film comedy dan cukup absurd untuk dialami di dunia nyata. Dari mulai kecebur got, nabrak pintu MM UGM, entah berapa kali jatoh atau nendang sesuatu sampai luka/lebam, dan yang terakhir beberapa minggu lalu adalah kejeblos di raise floor kantor. 

Jadi begini kejadiannya... 

Sabtu, 8 Maret 2014, Mal Kota Kasablanka
Siang itu Omla harus ke kantor, daripada bengong aku minta di-drop di Kota Kasablanka, sekalian mau sowan ke Cotton On untuk menambah persediaan kostum olahraga diskonan. Aku sampe jam 10 kurang dikit, nunggu mallnya buka dulu. Setelah aku berkunjung ke Cotton On, Informa, Carrefour, dan Ace Hardware, Omla nyusul. 

Omla pengen window shopping di Ace Hardware sebentar, kemudian ngajak untuk ke Informa lagi di Lantai 3 untuk nukerin kartu member Informa. Waktu Omla lagi ke Informa, aku memutuskan untuk muter-muter di Lantai 3. Di dekat Disc Tarra, aku ketemu dengan kereta mainan. Seperti Choo-Choo-Train (atau apapun namanya itu) yang di Grand Indonesia, tapi lebih kecil dan terlihat lebih ringkih. Aku melihat ada yang aneh dengan kereta di Kokas itu: 1) kok gak ada "masinis"nya? trus gimana bisa tauk kalo ada rintangan di depan? apa sudah pake artificial intelligence? atau pake remote control? 2) kenapa kereta ini gak bunyi tuut-tuut-tuuuutt kayak kereta yang di GI atau Pejaten Village. Terus orang gimana tauknya kalo kereta itu mau lewat? Aku gak sempat berpikir terlalu panjang, karena Omla terus telpon, urusan di Informa sudah selesai. Aku pun balik ke dekat Informa. Setelah itu kami makan siang di Eat&Eat. 
 
Selesai makan, kami mau langsung pulang. Omla antre dulu di kasir Eat&Eat yang di sebrang Informa untuk refund kartu prabayarnya Eat&Eat. Aku nunggu di depan kios makanan bali-nya Eat&Eat sambil mainan HP. 

Nah... kemudian terjadilah peristiwa itu... 

Lagi-lagi asik-asik mainan HP, the next thing I knew I was sprawling face-down on the floor. Trus kaki kananku sakit dan gak bisa bergerak. Aku gak langsung sadar apa yang terjadi. Ketika aku nengok ke belakang... there it was: kereta mainan yang tadi aku pertanyakan safety-nya!! Rupanya aku ditabrak oleh kereta itu dari belakang, terus telapak kakiku kejepit di bawah kereta itu. Aku panik karena gak bisa membebaskan kakiku dari bawah kereta. 

Lagi tengah-tengah panik gitu, sekelebat aku lihat ada yang lari ke dekatku dari arah depan, waktu aku nengok balik ke depan... ternyata ada pria yang berusaha mendorong lokomotif itu menjauh dari kakiku. Trus tauk gak apa yang ada dalam pikiranku waktu itu? "WOW... There he is!! The knight on the white horse! Finally he comes! He saves me! MAHIIIRROOHH!!". I even half-expected that his white horse was mounted near the Eat&Eat cashier... 

Kakiku akhirnya bisa lepas dari bawah lokomotif. Terus ketika pangeran superhero tadi menolongku untuk berdiri, aku akhirnya melihat wajahnya. Siapakah dia? Cmd. Data? Legolas Thranduilion? Hahaha... ternyata the one and only: OMLA!! Huahahaha.... Kecewa gak? Kaget sih iya... karena ternyata bukan superhero beneran, hahaha... tapi tidak mengecewakan.... hahaha... at least, for me he's good enough to replace Cmd. Data or Legolas Thranduilion. 

Aku berdiri sambil masih gemetar, setengah karena kaget, setengah lagi karena sakit. Sepertinya minimal kakiku baret-baret dan bakalan lebam-lebam. Khawatirnya karena tadi posisinya aneh bakalan terkilir juga. Tapi saat itu sih bisa langsung berdiri dan bertumpu di kaki yang sakit itu. Meskipun gak enak. Setelah 5 menit barulah gemetarnya hilang. Saat itu kami udah ngantri lagi di cashier Eat&Eat untuk meneruskan proses refund. Gak kepikir untuk complain ke pengelola mall, karena waktu itu emang pengen cepet2 pergi ada urusan lain yang lebih menyenangkan. 

Dari lantai 3, kami langsung ke parkiran. Dan tau gak? Ternyata Omla lupa mobilnya diparkir dimana. Ouch! Tuh kan, itu juga hal lain yang absurd. Okee... jadi dengan kaki sakit, kami harus jalan keliling parkiran nih? Untungnya di mobilku ada tanda parkir kantor yang warna kuning gonjreng. Secara ajaib setelah gak berhasil menemukan mobil ketika jalan ke satu arah, aku bisa melihat tanda parkir gonjreng itu dari jarak jauh. Wow... jadi aku punya penglihatan setajam elf nih sekarang? Hihihi... 

Kami pun meneruskan perjalanan, terus pulang ke Buncit. Karena takut tadi sempat terkilir, sampe Buncit aku langsung rendam kaki yang luka dengan air es. Arrrggghhh... udah pasti sakit banget apalagi di bagian luka baretnya. Tapi setelah agak lama, akhirnya disimpulkan bahwa aku gak terkilir, tapi hanya baret dan lebam agak luas, sehingga gak perlu downtime seperti halnya kalo keseleo. 

Waktu habis terjadi, pastinya sebel banget. Tapi sorenya aku mulai ketawa-ketawa sendiri kalo inget. Bukan ngetawain ketabraknya (fakta ini tetep nyebelin), tapi ngetawain reaksiku ketika melihat ada yang berusaha menolong. Wong lagi dalam kondisi distress gitu, malah ngebayangin lagi diselametin sama superhero. Hahaha... hahaha... 

On a more serious note, I'm glad that the one who I imagined as my knight-on-the-white-horse turns out to be the man I choose to spend my life with, meskipun kuda putihnya diganti dengan avanza hitam yang gak ingat diparkir dimana.... 

*Mahiroh = My Hero dalam bahasa anak PSM-ITB, thanks to mas Abi-senior di PSM-ITB. 

 




Friday, February 14, 2014

Elf, Cave Troll, dan Latihan Betis

Sudah 3 hari, gaya jalanku kayak Cave Troll...

Cave Troll itu salah satu jenis makhluk hidup di novel Lord of The Rings... Kalau mau lebih jelas gimana penampakannya, bisa lihat di sini. Yes, setelah 20 tahun sukses jadi Trekker dan berkecimpung di abad 24, sekarang dengan suksesnya terjerat juga oleh dunia Middle-Earth-nya J.R.R Tolkien. 

Dari Tolkien, mari kita beranjak sejenak ke olahraga baruku: Pilates. Waktu bulan September tahun lalu aku ditanya sama Rani (guru Pilates-ku): kenapa pengen belajar pilates? Jawabanku adalah pengen mengembalikan fleksibilitas jaman muda biar gak cepet cedera dan pengen jadi sedikit lebih kecil di bagian pinggul. Yaa... tahun 2008 aku pake jeans ukuran 27, tahun 2013 aku pakai ukuran 30. 

Nah, balik ke Tolkien lagi. Setelah menjadi penggemar Tolkien, dan menonton rangkaian film Lord of The Rings-nya Peter Jackson yang Extended Edition, tujuanku untuk olahraga menjadi lebih "terarah". Sekarang aku pengen jadi seperti Elf!! Bukan jadi Elf yang cantik dan anggun seperti Arwen (dia agak montok sih sebenernya), tapi pengen jadi seperti Legolas... hahaha... ini beneran... 

Why him? Sebenarnya aku sudah tertarik dengan Legolas sejak tahun 2001, tapi karena waktu itu gak paham ceritanya The Fellowship of the Ring, dan gak punya seseorang yang bisa dijadikan narasumber, jadi aku gak mendalami Lord of The Rings, bahkan gak nonton The Two Towers dan Return of the King di tahun-tahun berikutnya. Jadi Legolas pun terlupakan.

Dan 12 tahun kemudian, aku menghabiskan malam Natal untuk menemani Omla menonton The Hobbit: Desolution of Smaug. He's a fan of Lord of The Rings. Dan di film Smaug itu, ada Legolas Banyak yang aku gak ngerti di film Smaug, bedanya adalah kali ini aku bisa tanya sepuasnya. Jadi aku memutuskan untuk membaca novel The Hobbit dan Lord of The Rings. Kemudian menonton Theatrical Edition-nya Lord of The Rings series dan The Hobbit: The Unexpected Journey. Masih gak puas juga, ditambah dengan Extended Edition-nya Lord of The Rings series. Ternyata emang menarik...

Di antara 9 anggota Fellowship of The Ring, yang paling bisa dijadikan panutan (buat aku) adalah Legolas. Beberapa kata yang menggambarkan Legolas: graceful, lean, long, strong, agile and flexible. Dia bergerak secara anggun (kayak penari balet), tapi gak kemayu, larinya aja anggun... Trus badannya tinggi dan langsing, kuat (yeah... he's an elven warrior!), gerakannya lincah dan flexible. Buktinya bisa diliat di barrel scene-nya Desolation of Smaug atau Oliphaunt Kill-nya Return of the King, atau Shield Surfing at Helm's Deep-nya The Two Towers, atau loncatan di Khazad-Dum -- it looked like grand jete!

Jadi aku menobatkan Legolas sebagai role model dalam berolahraga, karena goal-nya adalah pengen jadi lebih anggun, langsing, kuat, lincah, dan fleksibel. Sayangnya untuk jadi Legolas, kadang harus melewati masa-masa jadi Cave Troll dulu....

Hehe... ceritanya 4 hari yang lalu aku mencoba gerakan baru. It was quite simple actually... Calves Exercise (yaa... I always have "problem" with my calves)... just raising heels while carrying a couple of dumbbells. Tapi diulang sampai total 5 menit. Setelah selesai latihan sih baik-baik aja, malahan habis itu masih jalan-jalan ke Kota Kasablanka.

Sehari kemudian... baru deh kena DOMS alias Delayed Onset Muscle Soreness di bagian betis... sakit otot yang disebabkan oleh otot tersebut jarang digunakan sebelumnya. Walhasil jadi gak bisa jalan lurus tanpa kesakitan. Jadilah... jalan dengan gaya cave troll. Lambat, badan miring-miring agak bungkuk karena nahan sakit, dan kaki ditekuk terus. Gak anggun sama sekali.

Katanya Beauty is Pain. Ternyata pepatah itu gak hanya berlaku untuk prosedur yang terjadi di dokter kulit (atau dokter gigi), tapi juga terjadi di dunia olahraga. Tapi badai pasti berlalu... Selama yg kita lakukan sesuai dengan petunjuk, besar peluangnya untuk hasil yang setimpal. Jalani saja masa-masa Cave Troll ini... karena setelah berusaha beberapa bulan, Legolas sudah mulai terlihat dadah-dadah di depan sana. Aku sudah bisa pakai celana jeans yg kubeli tahun 2005, ukurannya 28. Aku sudah bisa melakukan split lagi meskipun baru sebelah kanan aja (artinya: better flexibility). Dan sudah gak mudah capek lagi (stronger). A few more inches to go... :-D



Friday, October 18, 2013

Belajar Pilates

Sejak kecil (gak sejak bayi sih), aku selalu punya body yang krempeng atau skinny (okeh, kecuali betis ya). Mau makan siang 3 piring pun gak akan ngaruh ke timbangan atau ukuran celana. Memasuki umur kepala 3, ceritanya berubah. Ukuran celana sudah naik 2 nomor dibandingkan 3-4 tahun lalu, diperkirakan sih karena : 1) metabolisme melambat, 2) berhenti beraktivitas fisik yang heboh. Atau sebenernya yang kedua juga ikut bersumbangsih untuk menyebabkan yang pertama ya?

Udah gitu, ditambah lagi waktu libur Lebaran, aku nyoba main bebaletan di pagar pembatas ruang rapat kantornya Omla (mumpung kosong bok), hasilnya? KRAM JAYA!! Udah less flexible banget dibandingkan 10 taun laluh... Jadi harus melakukan sesuatu nih! Kalo gak dilatih berpotensi menimbulkan cedera-cedera yang gak perlu, karena melakukan gerakan-gerakan yang "dulu bisa, tapi sekarang udah kaku".

Akhirnya nyari olahraga apa yang bisa melatih fleksibilitas... Hmm... kebanyakan artikel tentang ballet menunjuk ke PILATES. Selain melatih fleksibilitas, bonusnya adalah anggota badan jadi lebih kencang. Waaaa.... cocok nih sama kakiku yang ukurannya udah melar. Tujuan akhirnya sih bisa makek celana-celana lama lagi. Atau paling gak makek celana baru yang terlanjur dibeli via online tapi pas nyampe di rumah ternyata ketat.

Setelah survey sana-sini, dengan mempertimbangkan harga, jarak, dan review di internet, akhirnya aku memilih belajar pilates dengan Rani. Selengkapnya tentang Rani bisa dilihat di www.pilatesid.com.

Nah, sekarang aku mau cerita tentang pengalaman ber-pilates. Sejauh ini sih aku baru 6 kali latihan dari paket 10 kali latihan. Karena pertimbangan jadwal, latihan dilakukan seminggu sekali setiap sabtu.

Kalau melihat di video dan foto-foto tentang Pilates di Internet, kayaknya gak terlalu berat. ya iyalah, model atau instrukturnya udah jago pastinya, jadi gak keliatan ngoyo atau pegel. Ternyata, di pertemuan pertama, baru kerasa kalo pilates tuh berat. Melakukan gerakan kayak developpe-nya ballet yang dulu cukup simple, ternyata sekarang berat, padahal udah gak mikirin kakinya mesti "turned out" tuh... Bahkan gerakan jinjit2 kayak releve-nya ballet itu aja ternyata bisa bikin betis panas. Selesai latian selama 1 jam, baju basah semua.

Tapi yang lebih "seru" justru setelah latian selesai. Sehari kemudian dari pinggang ke bawah sakit semua. Jalannya jadi kayak orang abis sunatan. Dan paling menderita kalo naik turun tangga, padahal untuk mencapai ruang kerjaku di kantor, harus turun tangga 2 lantai, terus untuk keluar harus naik tangga lagi. Sempet merasa... wah, kapok nih ikut pilates, padahal udah bayar jaya buat 10 sesi. Gimana sabtu depan bisa latian lagi kalo sakit begini...

Ternyata.... hari kamis sakitnya hilang. Sabtu depannya latian lagi. Terus Minggu-nya sakit kaki lagi. Tapi Rabunya sudah hilang. Lama-lama sakitnya tambah sebentar, malah di beberapa bagian sudah gak sakit lagi. Kira-kira di pertemuan ke-5, aku sudah gak nyesel lagi ikutan pilates, malahan pengen lagi dan lagi, meskipun capek (iya lah, olahraga ya pasti capek).

Hasilnya? Ya belum terlalu keliatan sih, karena konon kata pak Joseph Pilates, hasilnya baru keliatan setelah 10 kali, tapi setidaknya Tenun Bermuda Pants-nya Cotton Ink yang dulu susah masuk, sehingga awalnya belum pernah aku pakai sama sekali, sekarang sudah bisa aku pakai kemana-mana dengan nyaman.

Terus waktu di rumah, aku coba buat roll over, ternyata bisa tanpa harus mendapatkan bantuan tangan (untuk ndorong pantat yang berat). Berarti fleksibilitas udah lebih baik. Kesimpulannya: It works!

Jadi sodara-sodara, jangan ragu-ragu kalau mau coba pilates. Awalnya emang agak berat, tapi lama-lama bakal ketagihan lho....

Friday, May 17, 2013

Cerita dari Kasim

Sebentar lagi aku mutasi dari Sorong. Banyak senangnya, tapi ada juga sedihnya. Kalau senangnya sudah bisa ditebak lah ya: dekat Omla, dekat ortu, dekat the KUDA!s, dekat segala macam seminar/workshop di hari wiken, dekat gank rajut, dll. Bisa sering-sering

Sedihnya apa? Yang pertama: sedih ninggalin kucing tiban alias si belangtiga di rumah dinas. Setelah Omla mutasi ke Jakarta, kami kukutan dari rumah dinas di Sorong. Selama belum mutasi fisik ke Jakarta, kalau lewat di kota Sorong (sebelum off ke Jakarta atau sebelum naik ke Kasim) aku selalu menyempatkan untuk mampir ke rumah, meletakkan 1/2 kg makanan kucing di halaman belakang ex-rumah dinas Sorong. 

Yang kedua: sedih meninggalkan udara segar dan lalu lintas bebas macet. Karena udaranya masih segar, meskipun di pinggir laut, di Kasim itu kalau tidur malam gak perlu pakai AC. Gak usah ditanya deh ya, kalo Jakarta tuh kayak apa.

Yang ketiga: sedih meninggalkan gank ibu-ibu mess S2. Waktu BPS di Simpruk, waktu berkantor di Sekuriti, waktu di Kwarnas, waktu di Satrio, dan di Prabumulih, aku selalu menemukan grup pertemanan yang lumayan dekat. Grup pertemanan ini yang membuat aku betah bekerja di tempat-tempat tersebut. Di Sorong ini, aku agak lambat untuk menemukan grup pertemanan. Temanku siapa aja? Bapak-bapak tim manajemen? Nyambungnya cuman di kerjaan aja. Di luar itu... yaa susah lah mau diajak ngomong soal masakan, soal ngosek kamar mandi, hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari. Kalo diajakin ngobrol tentang investasi, keuangan, dll, disangkanya ntar gue ngajarin lagiii....

Nah, ketika di Kasim, aku akhirnya menemukan lingkaran pertemanan itu. Ternyata aku nyambung dengan ibu-ibu outsourcing yang sama-sama tinggal di mess S2. Kami suka ketawa-ketiwi dan masak-masak untuk mengusir kebosanan dan kesebelan di Kasim. Yah, tapi untuk ibu-ibu ini sih, masih bisa sms-an, email-emailan, surat-suratan, meskipun kalau mau ketemuan mungkin susah sering-sering kayak dengan gank rajut BPS TI.

Yang keempat: Makanan!!! Yak betul.... Ikan Baronang Bakar Marinda misalnya, yang kayak begitu sulit ditemukan di tempat lain.... Belum lagi bahan-bahan makanan seperti singkong yang lebih superior dibandingkan singkong di Jawa.

Kurang lebih begitulah hal-hal yang bikin sedih. Tapi tentunya aku harus maju terus kan ya.... Karena toh senangnya masih lebih banyak dari sedihnya. Berikutnya aku akan cerita ttg kisah seru perjuangan kawan-kawan LS di Kasim.

Thursday, May 16, 2013

Jekardah!

Hari Rabu minggu lalu, aku kembali mencicipi berbagai moda transportasi khas Jakarta. Udah 3 tahunan terakhir tinggal di daerah sepi yang kalo mau pulang-pergi kantor tinggal sepelemparan batu, jadi ngicip tranportasi Jakarta itu termasuk sesuatu banget. 

Moda transportasi yang pertama adalah: TRANSJAKARTA. Untuk berpindah dari Gambir ke Menara Standard Chartered, aku naik transjakarta jalur 2 dari halte Istiqlal, kemudian pindah ke jalur 1 di Harmoni. Kalau ini sih seperti biasa, pasti diwarnai dengan menunggu, mengantri, dan berdesakan. Untungnya hari itu antrian di Harmoni tidak terlalu panjang, meskipun mesti nunggu lama waktu di Istiqlal. Derajat kepenuhan bus tergolong biasa saja untuk jam pulang kerja, gak tau ya gimana jam 7 malam nanti....

Aku tiba dalam waktu yang cukup singkat, 1/2 jam saja dari Istiqlal ke halte Karet. Habis itu disambung jalan kaki ke Menara Standard Chartered. Sampai di Menara Stanchart, ternyata Omla nunggu di lobby depan bareng sama pak Bos Prabumulih. Hahaha... si Bapak mau pulang ke kost ceritanya. Cieeh, anak kost sekarang pak...

Setelah berhaha-hihi sebentar, aku dan Omla naik ke lantai 28. Gantian ber-haha-hihi dengan samtoje alias Mas Tejo. Ngobrol sebentar dengan Hayat dan Indy, ke toilet (yang masih begitu-begitu aja, tapi setidaknya jauh lebih eksklusif dan bersih daripada toilet di.... Kaa....*****), terus aku, Omla, dan Hayat pun beranjak pergi ke JCC.

Kami mau ke pameran furniture. Aku dan Omla mau lihat kasur. Hayat mau liat rak buku. Dan kami pun berpindah dari Menara Standchart ke JCC dengan menggunakan moda transportasi kedua: OJEK. Karena ber-3, jadi naik 3 ojek. Keren juga. Mereka menyediakan helm yang bersih dan wangi. Kayaknya persaingan antar tukang ojek mengharuskan mereka memberikan servis yang excellent.

Ojeknya nyelempit-nyelempit di gang-gang daerah Benhill. Tau-tau udah keluar di dekat Graha Jala Puspita aja... 10 menit saja, sampe deh di JCC. Mungkin tarifnya lebih mahal daripada naik taksi (apalagi kalau dihitung 3 orang), tapi waktu tempuhnya jauh lebih cepat.

Kami gak lama-lama di pameran. 1/2 jam saja. Karena yang dicari sudah jelas sih. Habis itu jalan pulang. Hayat naik ojek ke stasiun Palmerah. Aku dan Omla jalan kaki sampe ke pinggiran jalan Sudirman. Jauuuhh yaaa.... Sampe di sana nyari taksi, yang ternyata susah bangeett...

Akhirnya kami nyebrang ke sisi BEI. Tetep aja susah nyari taksi.... sehingga kami pun memutuskan naik moda transportasi ketiga: KOPAJA... yang kami kira P19... ke arah Blok M. Maksudnya kalo P19 gitu kan bisa berhenti di TB Simatupang terus nyambung P20 yang ke arah Senen.  Udah deket Blok M, aku baru sadar kalo itu bukan P19, melainkan S66. Berarti ya cuman bisa sampe Blok M.

Dari Blok M naik apa? Bisa S75, tapi macetnya amit-amit pastinya.... Ngebayangin bisnya ngantre di traffic light Tendean-Mampang aja putus asa.

Kemudian di depan hotel Ambhara, kami melihat banyak BAJAJ. Aku jadi pengen naik BAJAJ. Kayaknya bisa cepet nyampe rumah. Kami pun mencoba nawar BAJAJ. Bapaknya nawarin 50rebu lho... agak mahal sih, kalau untuk dari Blok M ke Buncit. Ditawar 40rebu gak mau dia, alasannya macet.

Ya sudahlah, 50rebu pun kami embat juga!!! Yiihhaaa.... Tapi emang cepet looohhh.... kebayang kan si Bajaj nyerobot-nyerobot jalur kanan waktu jalur kita macet. Di daerah Kemang Utara tuh yang cuman 1 jalur untuk 1 arah. Hahaha.... belum lagi kalo di turunan, dapet bonus ajrut-ajrutan, serasa lompat-lompat di spring bed. Aku dan Omla belum pernah naik bajaj barengan sebelumnya, jadi kami pun sempet berfoto di atas bajaj...

1/2 jam kurang, dari Blok M sudah sampai ke rumah. Hmm... jarang2 lho ada Bajaj masuk ke Buncit Indah. Biasanya cuman ada taksi atau ojek aja.

Sepertinya memang harus berdamai dengan transportasi Jakarta, mengingat dalam waktu dekat bakal kembali jadi orang Jakarta.

Thursday, March 21, 2013

Si Belangtiga

Ini dia, yang bikin berat ketika kudu pindah dari rumah dinas Sorong:


Perkenalkan.... Si Belangtiga!!!

Jadi Belangtiga itu adalah kucing tiban, alias kucing liar yang datang ke rumah, terus lama-lama kita bersahabat. Dari namanya sudah tersurat bahwa dia merupakan kucing belang tiga.

Aku bukan pecinta kucing yang suka nguyel-nguyel kucing sampe dicium-cium. Ngelus-ngelus aja gak pernah. Cuman aku suka memelihara aja: ngasih makan, ngeliat si miauw kenyang setelah menghabiskan sisa-sisa makanan kami, terus sambil grooming.

Awalnya si Belangtiga ini kerjaannya ngaduk-ngaduk tong sampah di dapur KUDA! dan Omla. Karena bandel, kami suka menggertak supaya dia gak mendekati dapur kami. Jadi si Belangtiga pun takut sama kami. Tapi lama-lama, ketika punya sisa makanan, kami sering meninggalkan sisa makanan itu di halaman belakang. Ternyata si Belangtiga makan sisa makanan itu, dan dia jadi gak ngaduk-ngaduk tong sampah lagi.

Akhirnya jadi kebiasaan deh. Apalagi Omla seneng makan ikan goreng. Kepala dan tulang-tulang ikan itu pasti jadi santapan si Belangtiga. Lama-lama, dia jadi gak takut lagi sama kami. Bahkan gak malu-malu minta makan. Kami sih senang-senang saja, toh dia juga tidak mengganggu. Malahan makanan kami jadi lebih efisien dan efektif. Gak banyak sisa.

Beberapa minggu lagi, kami akan pindahan dari rumah dinas. Kemana? Yah, masih rahasia sih... Yang pasti, untuk alasan yang gak ada hubungannya: bukan cuman kami yang pindah dari kompleks, tetangga-tetangga kami sudah pada kabur duluan, karena ada perubahan sistem kerja.

Si Belangtiga sebenarnya kan kucing liar. Seandainya di kompleks situ masih banyak penghuninya, aku gak terlalu berat meninggalkan si Belangtiga. Dia bisa ngorek-ngorek dari tong sampah besarnya para tetangga. Tapi sekarang, karena gak ada penghuni, maka gak ada sampah sisa makanan.

Yah... semoga kamu bisa menemukan supplier makanan baru ya, Belangtiga... Pindah teritori atau gimana gitu... Atau berubah jadi vegetarian. Habis mau dibawa pindah ke tempat baru juga susah... ntar malah dia stress. Kucing kan binatang teritorial...

Saturday, March 09, 2013

Jajanan Sorong : Malioboro

Tidak hanya Jogja yang punya Malioboro, Sorong juga punya lho! Malioboro adalah nama warung makan yang menjual pecel lele, bebek goreng, dan kawan-kawannya. Di siang hari, warung Malioboro bisa ditemui di kios permanen di Jl. Basuki Rachmat (dekat gereja Maranatha), sedangkan di malam hari kita bisa menjumpai warung Malioboro di antara warung-warung tenda Tembok Berlin.

Menu kesukaan KUDA!: Bebek Goreng Jumbo. Kriyes-kriyes-nya pas, lemaknya kering.    
Menu kesukaan Omla : apapun ikan air tawar yang ada, kecuali lele. Mereka pernah menyediakan ikan Mujair, suatu barang langka di Sorong. Sayang sambelnya kurang cocok buat Omla.
Menu "spesial" : Pecel Lele raksasa. Pernah makan bareng adek-adek junior di sana, mereka dapat ikan lele yang gede sampe buntutnya keluar dari piring.

Untuk harganya, standar Tembok lah: Bebek Goreng 20-35rb, tergantung ukuran. Kepiting 45rb.
Kalau disuruh memilih bebek goreng terenak di Sorong, aku akan memilih bebek goreng Malioboro ini. 

Sunday, February 17, 2013

Transit @Hasanuddin Airport

Perjalanan dinas lagi, kali ini ke Semarang. Transit lagi di Makassar, berganti dari airline asal Palembang ke airline BUMN flag carrier-nya Indonesia.

Tadi pagi, waktu check in airline asal Palembang, dibikin sebel sama antrian. Iya aku tahu sih, belum semua orang Indonesia sadar pentingnya ngantri, tapi tetep aja sebel kalo terjebak di antrian yang kacrut.

Jadi ceritanya ada bapak-bapak yang datang di belakangku. Entah gimana, tau-tau di nyelak dari sebelah kanan antrian, terus meletakkan tiketnya di depan petugas check in. Dengan harapan setelah si mbak menyelesaikan dokumen yang lagi dikerjakan, berikutnya bakal ngambil tiket si bapak nyelak itu. Padahal di depanku masih ada bapak-bapak lain.

Karena gak pengen ribut sama orang pagi-pagi, akhirnya aku mengkaryakan tangan panjangku. Waktu si bapak itu meleng, tiketnya aku geser menjauh dari depan petugas check in. Hihihihihi.... Bapak itu mbalikin posisi tiketnya ke posisi awal, tepat pada saat si mbak selesai ngerjain tiketnya bapak-bapak di depanku. Aku langsung mengacungkan tiketku sambil bilang: "Orang itu belakangan datang ya mbak." Sambil menggumam pelan ke arah bapak nyelak : "Gak bisa ngantre ya lu...". Sepertinya di Sorong emang banyak yang belum sadar kalau antrian itu tujuannya supaya kita semua sama-sama enak.

Naahh.... terus setelah itu sih lancar jaya. Tapi pas di pesawat, ada bapak-bapak salah baca boarding pass. Dia tadinya duduk di sebelahku (dia 12E, aku 12D). Tau-tau datang 2 orang mas-mas, mau duduk di 12F. Maka aku pun berdiri ngasih jalan.

Kirain cuman 1 orang, gak taunya 2-2nya mau duduk di 12 E dan F. Lha kumaha iye, masa' 3 kursi buat berempat. Dan kalo dari Sorong jarang sekali airline Palembang itu ada double seat.

Dan 2 mas-mas + 1 bapak itu santai2 aja gak nyadar kalo jumlah orang dan jumlah kursi gak match. Mereka mau masuk aja gitu ke row 12 itu. Akhirnya aku protes: "Heh! Gimana ceritanya, masa' 3 kursi  mau diisi 4 orang?! Bapak tempat duduknya nomor berapa?!"

Mungkin protesnya terlalu kenceng kali ya, karena tadi pagi diselak, masa' sekarang digusur? Mas-mas pramugara akhirnya nyamperin kami. Rupanya setelah dicheck, bapak yang tadi di sebelahku yang salah. Mas-mas berdua tadi yang harusnya di 12 E dan F. Setelah aku duduk, baru nyadar: ih tadi kan di kursi belakang ada 2 bapak-bapak Pertamina EP. Ketauan deh, istrinya pak Wawan galak... :P

Terus ya, di bangku nomor 11 ada mas-mas asik main game pake iPhone + headset. Semacam cafe world gitu kayaknya. Aku gak familiar dengan game-game-nya iOS. Dari mulai dia duduk, pesawat udah masuk runway... main game terus. Cuman pas pesawat lari di runway aja dia matiin bentar itu game + copot headsetnya karena diminta sama pramugari. Eeee... belum juga pemandangan pelabuhan Sorong hilang dari jendela pesawat, doi udah makek headset lagi. Mbok ya paling gak tunggu sampe lampu seat belt mati.

Gak boleh pake headset pada saat take off dan landing itu kan tujuannya supaya kalo ada tanda bahaya, dia bisa denger... Hmmm... bisa beli iPhone tapi kok gak ngerti bahwa aturan keselamatan penerbangan itu dibuat demi keselamatan dia juga. 

Terus adalagi mas-mas lebay. Pake headphone segede bapak-bapak kru darat di bandara. Dan aku perhatikan, headphone itu gak ada kabelnya. Emang playernya jadi 1 dengan headphone, atau pake bluetooth ya? Kalo pake bluetooth, emang boleh digunakan di penerbangan ya?

Tiba di Makassar tepat waktu, tapi nunggu kopernya lama banget. Ternyata tadi 1 pesawat sama artis-artis. (oh mungkin, mas-mas headphone gajah itu artis ya).

Aku punya tempat nongkrong baru di bandara Hasanuddin: Starbucks. Iya bener, Starbucks. Aku paling malas nongkrong di Starbucks kalau ke mall, karena minuman coklatnya kurang begitu oke, dan harganya premium. Rugi dua kali...

Tapi nongkrong di bandara Hasanuddin ini beda. Selalu ada orang-orang yang bisa diamati (dan kadang-kadang nguping pembicaraannya juga... hahahaha...). Mungkin karena Makassar ini salah satu hub penerbangan, jadi orang yang masuk Starbucks adalah orang-orang berduit dari berbagai daerah. Unik-unik. Ada pejabat yang bawa begundalnya, ada pejabat yang masuk ke Starbucks dengan ekspektasi minta dilayani seperti di resto biasa (minuman dan makanan diantar ke meja), ada mbak-mbak berkerudung yang ngerokok, ada business man yang lagi bahas hobinya, ada pemuka agama yang bahas pekerjaannya, dan tentu saja... ada mbak-mbak kurang kerjaan yang nguping sambil pura-pura ngetik/main game. :-D

Yak, waktunya untuk mendaftarkan koper ke bagasi. Tadi sudah check-in, tapi si airline BUMN belum mau terima bagasi kalau belum 2 jam sebelum keberangkatan. Takut tercampur dengan penerbangan lain sepertinya. C u....

Saturday, February 09, 2013

Penurunan Produktivitas Penulisan Blog

Setelah memperhatikan jumlah postingan per tahun, ternyata blog ini mengalami penurunan produktivitasnya pada tahun 2009. Ada apa di tahun 2009?

Ternyata sodara-sodara... tahun 2009 itu bertepatan dengan saya mempunyai pacar. Hahahha... Pacarnya bikin jadi males nulis blog?

Ngg... gimana ya? Sebenernya enggak juga. Tapi karena blog ini kan banyak bercerita tentang kegiatan sehari-hariku ya. Semenjak punya pacar, kegiatan sehari-hari dilakukan bersama dengan pacar. Padahal tahun 2009 itu kami tidak mempublikasikan status perpacaran tersebut, jadilah gak bisa nulis banyak.

Semenjak itu lah, kemampuan menulis juga menjadi tumpul... Jadi mari kita galakkan penulisan blog lagi, karena udah hampir 2 tahun pacarnya udah berubah jadi suami dan dipublikasikan kemana-mana. Semoga berhasil ya nulis blognya! Doakan kami!

Tutup Tumbler Yang Malang

Jajanan Sorong-nya minggir dulu sebentar ya...

Alkisah suatu tengah hari yang cerah di Kasim. SANGAT CERAH malah. Aku siap-siap untuk bersepeda dari kantor ke mess. Mau makan siang. Topi kesayangan, checked. Sunglasses, checked. Jas hujan buat jaga-jaga, checked. Hmm, oiya aku harus bawa tumbler yang biasa untuk minum susu, untuk dicuci.

Terus aku jalan ke tempat parkir sepeda. Di luar terang-benderang, gak ada awan. Aku berdiri sebentar menunggu temen-temen sesama ibu-ibu untuk keluar dari kantor. Tiba-tiba, POP!! tutupnya tumblerku mencelat!! Kayaknya gara-gara kepanasan, terus ada yang memuai gitu deh. Entah gelas-nya, entah tutupnya, atau udara di dalam tumbler.

Kemudian...

Tutupnya itu mengelinding... menuju ke selokan. Dan kemudian... PLUNG! Masuk ke selokan, yang setelah ditengok ternyata tertutup jerujinya. ARRRRRGGGHHHH!!!!!

Mau coba ngambil juga gak bisa, jerujinya gak bisa diangkat. Huaaahuuaaa.... akhirnya diikhlaskan... tumblernya berubah jadi gelas biasa sekarang. Untung aja bukan merk tupperware atau lock n lock atau yang mahal-mahal lainnya. Well, ini bukan tentang harga barang itu sih. Meskipun secara rupiahnya murah, tapi untuk mendapatkan barang sejenis harus menunggu ke Sorong dulu.

Sunday, January 20, 2013

Jajanan Sorong: M-Grill

M-Grill adalah cafe tempat nongkrong yang "cozy". Lokasinya di Kampung Baru, tepatnya di sebelah SPBU Kampung Baru. Tempat parkir bakalan agak susah di jam-jam antrean SPBU.

Aku dan Omla seneng nongkrong di M-Grill ini terutama ketika kangen sama makanan ala Barat, atau simply butuh tempat cozy. Jenis makanan yang tersedia adalah berbagai macam steak (daging, ayam, ikan), waffle, pancake, pizza, dan beberapa jenis makanan Indonesia seperti bebek penyet, sop buntut, dan nasi goreng. Tempat ini salah satu dari sedikit tempat yang menjual makanan ala barat.

Interior dari cafe M-Grill ini tertata dengan rapi, di dindingnya ada beberapa testimonial dari artis-artis ibukota yang kebetulan mampir di cafe tersebut. Di dalam cafe tertulis free wifi, tapi sepertinya mereka menggunakan 3G Router untuk bisa menyediakan layanan wifi itu, padahal kualitas 3G di daerah Kampung Baru itu paraaahh abbiiiss.... Jadi ujung-ujungnya free wifi-nya ndak berguna.

But we love the cafe anyway...

Omla's favorite picks: sop buntut dan hot chinese tea
KUDA!'s favorite picks: waffle ice cream, sop buntut goreng, dan bebek penyet.

Tuesday, January 08, 2013

Jajanan Sorong: Marinda

Ini jadi posting pertama di serial Jajanan Sorong, karena tamu-tamu perusahaan tempat kami bekerja umumnya pernah diajak ke Marinda ini. Marinda adalah warung tenda yang sumuk dan bau asap. Lokasinya di Tembok Berlin, buka setelah maghrib.

Menu spesial dari warung ini adalah Kepiting Saos. Kepitingnya tidak terlalu besar, tapi saos/kuahnya itu yang mantab. Maknyus kalo kata pak Bondan. Saos-nya mirip dengan saos padang.

Selain menu spesial, warung ini juga punya menu "standar" yang sebenernya spesial: Ikan Bakar. Jangan langsung bilang "di Jakarta juga ada", silakan coba dulu. Daging ikan-nya itu berasa "manis", beda dengan di tempat lain. Ini termasuk menu yang bikin kangen, terutama ikan Baronang-nya. Mungkin karena masih segar, kemudian dipadu dengan bumbu yang pas.

Untuk minuman, jangan berharap banyak. Marinda hanya menyediakan air mineral, teh dan jeruk, dengan kombinasi panas atau dingin.

Buat yang berminat ke sini, sangat disarankan untuk tidak mandi sore dulu mengingat sumuk dan bau asap-nya. Jika menginginkan tempat yang lebih "sepi", Marinda juga membuka cabang di Jalan Baru (Jl. Jend. Sudirman) dan Mega Mall (km 8).

Jajanan Sorong: The Series

Desember 2013 kemarin, kami merayakan "ulang tahun ke-2" penempatan di Sorong. Selama 2 tahun di sini, aku dan Omla yang kalo masak tergantung mood, sudah mencoba berbagai macam makanan di dunia kuliner Sorong.

Sorong bukanlah surga makanan seperti Surabaya, Medan, atau Bandung. Tapi jajanan di sini lumayan beraneka ragam untuk ukuran kota kecil: dari yang makanannya gak enak sampe yang makanannya bikin kangen.  Begitu juga tempatnya: dari yang kumuh, puanas, sumuk, dan gelap, sampe ke tempat yang cozy ber-AC, semua ada.

Serial jajanan ini tujuannya untuk memberikan informasi bagi para calon pengunjung kota Sorong. Misalnya yang pada mau ke Raja Ampat, pasti mampir Sorong dulu kan?

Selamat menikmati...

Tuesday, December 18, 2012

Baca Aturan Pakai

Aku dibesarkan bersama dengan buku-buku manual. Iya, bapak rajin menyimpan buku manual, dari mulai alat elektronik, mobil, sampai manual urusan kerjaannya bapak. Sehingga waktu aku kecil, kalau sudah kehabisan bahan bacaan, kadang buku manual pun aku embat. Bukan yg urusan kerjaan tentunya.

Atas kebiasaan itu, seringkali panik kalau beli barang elektronik tapi gak ada manualnya. Bukan berarti gak bisa survive tanpa manual sih, aku bisa menjalankan Gtab-ku juga tanpa bantuan manual kok (meskipun tersedia dalam bentuk hardcopy di dalam dus). Tapi gak semua peralatan elektronik tuh very user-friendly.

Nah, kebetulan aku bekerja di bidang IT, yang melibatkan banyak perangkat elektronik. Software atau hardware, baca manual itu penting, karena yang ditangani itu bukan mainan. Trus, pertama kali datang ke Sorong, aku  terheran-heran, garuk-garuk ketombe, dan koprol karena semua perangkat IT gak aku temukan manualnya. Lha? Terus kalo ada kerusakan begimane dong? Tebak-tebak buah manggis? Bahkan ketika ada manualnya pun, kita masih perlu tebak-tebakan. Gimana kalo gak ada?

Selidik punya selidik, sepertinya karena sebagian besar personilnya kurang menguasai bahasa Inggris, jadi mungkin manual perangkat IT yg mayoritas berbahasa inggris dianggap ga ada gunanya.

Untunglah setahun kemudian datanglah adik-adik junior generasi penerus harapan bangsa. Kepada mereka ini aku berusaha menurunkan kebiasaan baca dan ngumpulin manual. Sekarang manual kami sudah tersedia dalam bentuk softcopy.

Tapi rupanya masalah manual ini bukan cuma jadi masalah di IT loh.

Tadi sore di ruang makan, salah seorang mbak-mbak bagian administrasi ngajak ngobrol:
Mbak2: Bu, dietnya berhasil ya? Itu masih langsing.
Aku (dalam hati): langsing apanya, 3 minggu lalu turun 2 kg, dibawa pergi ke Jkt dan KL udah naik 2 kg lagi.
Mbak2: Saya gak berhasil bu, pdhal udah minum WRP sekali minum 2, tapi malah jadi lapar terus. Jadi makannya malah jadi banyak.
Aku: ...speechless...

Bukannya udah ada aturan pakainya ya? *tepok jidat*

WRP itu sekali minum 2 sachet emang. Tapi kalo udah minum itu ya jangan makan yg lainnya sampe waktu makan berikutnya kalee.

Ini dia nih, ternyata manual bukan cuma penting buat alat elektronik, tapi juga buat makanan dan khususnya obat. Jadi, jangan lupa baca manual ya!

Tuesday, October 23, 2012

Buku Oh Buku

Posting lama yang sudah setahun lebih tapi belum ter-publish:

Di Sorong ini cuman ada 2 toko buku: 1 di Kilo 10 (yang tokonya lebih baru), 1 lagi di Kampung Baru. Sabtu kemaren ini aku dan Omla pergi ke toko buku yang di Kampung Baru. Iseng aja, sekalian ke toko batik yang letaknya di sebelah toko buku itu.

Buku umumnya kebetulan gak ada yang eye-catching. Pindahlah aku ke tempat Resep Masakan. Woow!! Ada buku resep khusus Ayam Fillet. Itu kan GUE BANGET... Fresh food yang paling banyak aku simpan sebagai stock di kulkas, dan juga paling bisa mengolahnya. Praktis, gak bau, lemaknya minimal, cepet matengnya pula.

Sebentar... liat harga dulu... eng ing eng... WWWHHHAATTT??!! Tujuh puluh lema reebooo?!? Buku setipis itu masa' 75000?? Yang boneng aje? Akhirnya aku melihat-lihat harga buku lainnya, mahal-mahal juga ternyata. Buku masak tipis yang di Jakarta 10rebu, di toko buku Kilo 10 sekitar 11-12rebu, di toko buku Kampung Baru ini 20rebu harganya. Emang sih ada tulisan diskon 20% buat buku masak, tapi tetep aja... kalo 20rebu diskon 20%, jadi 16rebu kan? Masih di atas 50% lebih mahal dari harga aslinya. Pegimane mau cepet maju kawasan ini kalo harga bukunya jauh lebih mahal dari di Indonesia Barat?

Waaahh... jadi males deh, akhirnya keluar aja, gak jadi beli buku. Nanti mau beli online aja, diambil kalo pas dinas ke Jakarta. Sampe di rumah, brosing-brosing cari buku itu, ternyata toko online langgananku gak menjual buku itu. Ada di toko online lain, tapi naga-naganya udah out of stock. Aku liat harganya...57,5rebu... belum diskon (kalo beli online kan ada diskonnya)... hmm...hmm... itung punya itung, kalo 75rebu diskon 20%, maka jadi 60rebu. Cuma beda 2500 dari harga asli buku itu. Jadi gak terlalu jauh bedanya. Beli... nggak... beli... nggak... hmm... kontennya sangat aku butuhkan, biar masakan ayamku bisa lebih bervariasi, gak cuma ayam wijen, chicken cream soup, dan nasi ayam claypot digilir-gilir aja. Jadi... Yes! We need that book! Kita balik ke Kampung Baru ya Omla?

Hari Minggu sore-nya, setelah selesai menyusun ketan di dalam rice cooker, kami pun balik ke toko buku itu. Aku langsung menuju ke section Buku Masak. Ternyata di section Buku Masak yang jadi satu dengan buku-buku anak sekolah, entah-bagaimana-hawanya-lagi-kurang-begitu-segar... jadi sambil nahan napas, aku nyari buku yang dimaksud... LOH?! Kok gak ada?! Ya ampun... masa' ada ibu-ibu lain yang punya kebutuhan sama denganku...?? Yaaaahh... udah jauh-jauh ke sini, pake nahan-nahan napas segala pula, masa' bukunya gak adaaaa....

Aku pun minta bantuan Omla untuk mencari sekali lagi di 2 rak khusus buku masak (lagi-lagi sambil nahan napas). Yah, emang dasar gak ada, ya tetep gak ada. Huhuhu... penonton kuciwa.... tepat ketika aku mau menyerah... tiba-tiba kami melihat ada mas-mas pegawai toko buku itu turun dari lantai 2. Dia membawa sebuah buku. Dengan ajaibnya buku warna putih itu ada tulisannya: FILLET AYAM di sampul mukanya. Haa? Itu kan buku yang aku cari!!

Belum juga mas-mas itu menginjakkan kakinya di lantai 1, aku sudah berteriak: "Kakak!! Buku itu masih dijual kah tidak??". Ternyata doi emang tadinya berniat mau mengembalikan buku itu ke rak Buku Masak.
Langsung lah kami ambil buku itu. HOREEEHH!!! Dapat!!! Mau beli buku sebiji aja kok ya susah banget. Pake itung-itungan dulu di rumah, bolak-balik ke toko buku, nahan napas, nyari-nyari di rak, sampe akhirnya si mas-mas pegawai toko buku jadi penyelamatnya.

Naaahh... yang penting implementasinya terhadap ayam-ayam fillet itu nih... dan hari ini sudah ada 3 porsi ayam fillet di kulkas.... siap untuk diolah sesuai buku itu. Semoga sukses deehh...

Update info: sekarang sudah ada 1 toko buku lagi di KM 8,5. Meskipun koleksi bukunya gak lengkap-lengkap banget, tapi harga mah tergolong gak terlalu mahal.